MANGLI, Radar Jember - Banyak yang menyebut manusia silver bermunculan saat pandemi Covid-19 melanda.
Hal ini disebabkan oleh faktor ekonomi. Di lain sisi, manusia silver juga disebut salah satu ekspresi pertunjukan seni. Namun, yang disayangkan, mengganggu fasilitas umum.
Dosen sosiologi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Dr Minan Jauhari, menjelaskan, fenomena ini jika bertujuan untuk memamerkan karya seni tentu sangat bagus.
Namun, fenomena ini disalahgunakan sehingga pelakunya berani menyakiti diri dengan berpanas-panasan dan mengganggu fasilitas umum seperti lampu merah.
“Berkeliaran di area traffic light tentu berbahaya, baik bagi pengendara motor maupun dirinya sendiri,” paparnya.
Minan menyebut, manusia silver menjadi fenomena baru yang ikut meramaikan jalan raya, khususnya jalan raya di perkotaan.
Manusia silver bertujuan untuk mencari nafkah di jalanan untuk bertahan hidup.
Keberadaan manusia silver di Jember bisa dikata sebagai bukti akibat merosotnya kondisi ekonomi yang menjadi permasalahan sosial.
Fenomena manusia silver ini akhirnya menimbulkan berbagai makna yang perlu mendapatkan perhatian.
Salah satunya yaitu sempitnya lahan mata pencarian, bisa juga sikap kepasrahannya dalam mencari upah.
Fenomena sosial ini pada akhirnya akan memengaruhi tindakan dari manusia silver tersebut, baik tindakan sosial maupun keagamaan. Berdasarkan tindakan sosialnya, manusia silver yang rata-rata adalah anak putus sekolah memang memiliki tindakan yang tidak begitu baik.
“Walaupun mereka tidak pernah memaksa pengguna jalan untuk memberikan uang, namun tindakan mereka kepada sesamanya perlu mendapatkan perhatian,” paparnya.
Selain itu, aktivitas fisik yang cukup menguras waktu membuat mereka sering kali lalai dalam aktivitas keagamaan. Islam mengajarkan bahwa tindakan mengemis atau meminta-minta adalah hal yang dilarang.
Secara fisik, manusia silver memiliki badan yang sehat, dan usia yang masih belia. Seharusnya mereka melakukan pekerjaan lainnya.
Bukan hanya mengharap belas kasihan dari pengguna jalan.
“Sehingga, dengan fisik yang masih mumpuni, setidaknya masih bisa mencari langkah lain sebagai mata pencariannya,” pungkasnya. (dhi/c2/nur)
Editor : Radar Digital