Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Borong Sepuluh Gelar Drum Band dari Yogyakarta, Marching Band Genderang Spasa Jember Bergeliat Lagi

Radar Digital • Jumat, 27 Oktober 2023 | 20:00 WIB

 

MEMUKAU: Color guard Marching Band Genderang Spasa saat tampil di Jalan Malioboro, Yogyakarta.
MEMUKAU: Color guard Marching Band Genderang Spasa saat tampil di Jalan Malioboro, Yogyakarta.

Kerja keras latihan drum band selama empat bulan itu berbuah manis. Meski singkat, perjuangannya tak sia-sia. Tak main-main, sepuluh gelar juara pun didapat. Walau begitu, marching band SMPN 1 Jember atau disingkat (Spasa) itu sempat vakum beberapa tahun.

SALUT, kata yang tepat ditujukan kepada siswa-siswi SMPN 1 Jember (Spasa) yang tergabung dalam Marching Band Genderang Spasa. Puluhan siswa ini berhasil mengharumkan nama sekolah sekaligus Jember di level nasional. Setelah Spasa Jember memborong sepuluh trofi gelar juara di Piala Raja Hamengku Buwono X tahun 2023 di Yogyakarta.

Event marching band nasional ini diikuti oleh 60 tim dari berbagai daerah di Indonesia. Digelar pada akhir pekan lalu, puluhan tim itu beradu. Mereka tampil luar biasa di GOR Among Roga dan Jalan Malioboro, Yogyakarta, termasuk tim Genderang Spasa Jember.

Kepala SMPN 1 Jember Syaiful Bahri berujar, persiapan tim dilakukan sekitar lima bulan. Namun, latihan yang benar-benar intensif hanya empat bulan. Waktu yang singkat untuk mengikuti kejuaraan nasional. Akan tetapi, asa 71 siswa itu tetap terjaga. Bahkan semangatnya berapi-api menjelang dan saat gelaran lomba.

Hasil latihan itu juga mengalami banyak peningkatan setelah mengikuti Asian Music Games 2023 yang digelar di Jember, akhir September lalu. “Sebenarnya kami memang menyiapkan untuk kejuaraan di Yogyakarta. Karena kami sudah mendaftar lebih dulu dan mengikuti technical meeting,” katanya saat dihubungi Jawa Pos Radar Jember di sela-sela perjalanan pulang dari Yogyakarta.

Bahri mengungkapkan, waktu latihan yang singkat itu bukannya tanpa rintangan. Banyak aral yang harus dia lalui bersama tim yang dibinanya itu. Salah satunya menjaga nyala semangat para siswa. Oleh karena itu, selama latihan tak luput dari sesi motivasi. Sesi itu diberikan langsung oleh dirinya. “Semangatnya naik turun. Ya, memang berat. Tetapi, karena akan mengikuti kejuaraan besar, kami terus memberikan motivasi yang tinggi ke mereka,” ungkap mantan kepala SMPN 7 Jember itu.

Namun, motivasi itu bukan satu-satunya kunci sukses. Di balik itu, pihaknya intens berkomunikasi sekaligus berkoordinasi dengan orang tua atau wali atlet. Hampir setiap hari komunikasi itu dilakukan. Baik pertemuan secara langsung ataupun daring. Semata-mata itu dilakukan agar para siswa terus dalam semangat yang sama.

Dukungan moral dari wali murid memiliki peran yang besar terhadap kesuksesan tim Genderang Spasa. Apalagi, lebih dari 60 orang tua itu ikut hadir menyaksikan langsung anak-anaknya di Yogyakarta. “Mereka (orang tua siswa, Red) sampai menyewa dan bawa kendaraan pribadi ke Yogyakarta. Memberikan dukungan sebagai suporter sekaligus orang tua. Tapi, tidak hanya di Yogyakarta. Selama di Jember, mereka juga memberikan support yang besar. Sampai-sampai mengirim bekal makanan saat latihan,” tambahnya.

Selain itu, dirinya melakukan pendekatan terhadap guru. Sebab, marching band cukup lama vakum sekitar empat tahun. Karenanya, guru juga berperan terhadap peningkatan prestasi mereka. Memang tak ada perlakuan khusus bagi siswa drum band di dalam kelas. Latihan dilakukan di luar jam sekolah. Sehingga tugas maupun pembelajaran sekolah tidak terganggu. “Pertama adalah penyadaran ke anak, meskipun ikut kejuaraan bukan berarti ada perlakuan khusus. Bisa ngalem dan lainnya. Tetapi, kami tekankan tanggung jawab mereka sebagai siswa. Terhadap tugas maupun hal lain yang diberikan oleh guru,” bebernya.

Ternyata, pendekatan-pendekatan itu sukses. Meski diiringi siswa yang letih sampai sesak dan membutuhkan penanganan di rumah sakit Yogyakarta, mereka akhirnya bisa menangis haru. Ini membuktikan sinergisitas siswa, orang tua, dan guru berhasil mengantarkan Spasa menjadi juara. (c2/dwi)

Editor : Radar Digital
#Jember #drumb band