ANTIROGO, Radar Jember - Musim kemarau berkepanjangan membuat wilayah terdampak kekurangan air bersih semakin hari semakin meluas. Meski Jember telah diguyur hujan, tetapi itu tidak begitu berarti. Sampai kemarin (11/10), total ada delapan kecamatan dan 10 desa/kelurahan yang mengalami krisis air bersih.
Terdapat 1.172 kepala keluarga (KK) dan 180 santri yang ikut terdampak kekeringan. Distribusi air bersih pun masih terus dilakukan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember Widodo Julianto mengatakan, bencana kekeringan dan kekurangan air bersih di Jember masih terjadi. Bahkan, hal itu diperkirakan masih akan terus terjadi dalam beberapa waktu mendatang. “Sementara ini, prediksi kami sesuai data BMKG. Kekeringan masih akan terjadi hingga 9 November mendatang,” jelasnya.
Selain itu, dia juga mengatakan, berdasarkan pendataan terbaru, ada kurang lebih 1.172 KK yang terdampak bencana kekurangan air bersih dan kekeringan, ditambah 180 jiwa yang santri yang mengalami hal serupa. Mereka tersebar di berbagai wilayah, tepatnya di delapan kecamatan yang ada di Jember.
Widodo mengaku masih terus melakukan berbagai upaya untuk pencegahan. Sejumlah tandon juga dipasang di tempat warga yang terdampak kekeringan. “Selain melakukan distribusi air bersih, kami juga melakukan pemasangan pipa,” imbuhnya.
Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi kekeringan diprediksi masih akan terus berlanjut. Widodo meminta kepada masyarakat untuk menghemat penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari. Hingga saat ini, sejumlah pihak masih melakukan dropping air bersih.
Ketua PMI Jember Mohammad Thamrin mengatakan, musim kemarau diperkirakan makin panjang. Oleh karena itu, masih dibutuhkan koordinasi lebih lanjut dengan pihak-pihak terkait dalam distribusi air bersih. "Distribusi air bersih, baik yang dilakukan PMI, BPBD, maupun Cipta Karya Jember (DPRKPCK, Red) sangat membantu warga,” pungkasnya. (ham/c2/dwi)
Editor : Radar Digital