SUMBERSARI, Radar Jember – Sejak terjadinya kebakaran lahan dan hutan (karhutla) di lereng selatan Pegunungan Argopuro, Kamis (5/10) lalu, hingga kemarin (9/10), petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember masih melakukan pemantauan. Meskipun secara visual sudah tidak terlihat api, tetapi pemantauan tetap dilakukan sebagai langkah dini penanggulangan karhutla.
Sejumlah titik api di lereng selatan Argopuro sempat terlihat. Khususnya saat malam hari. Api terlihat memanjang di pegunungan terpanjang di Pulau Jawa itu. Namun, saat siang hari, api tampak tidak ada.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jember Penta Satria mengatakan, secara visual, titik api di lereng selatan Pegunungan Argopuro sudah tidak terlihat. Saat petugas akan melakukan pemantauan ke dekat titik pusat panas atau api, kondisinya tidak memungkinkan. Sebab, terdapat kondisi topografi dengan medan yang cukup berat. Dengan demikian, petugas hanya bisa memantau dari jarak yang cukup jauh. “Hari Sabtu itu, kami memantau via drone. Itu tidak tampak ada api,” katanya.
Meskipun sudah tidak terlihat titik api, Penta mengatakan, pihaknya masih terus melakukan pemantauan dan mencari pusat panasnya. Oleh karena itu, dia belum bisa memastikan apakah api sudah padam atau sebaliknya. Kondisi medan yang sulit dilalui membuat petugas tidak bisa mendatangi langsung tempat kejadian kebakaran. “Kami tetap melakukan pengamatan dan saling berbagi informasi,” tuturnya.
Penta menambahkan, pihaknya telah melihat area hutan melalui Sipingo, aplikasi yang dikembangkan Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Hasilnya, masih terlihat titik api di lereng Pegunungan Argopuro. “Kemarin kami terhenti menuju titik panas karena bertemu dengan tebing. Makanya digunakan drone untuk pengamatan,” pungkasnya. (ham/c2/dwi)
Editor : Radar Digital