Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kenalkan Siswa pada EBT dengan Sel Surya

Safitri • Jumat, 5 Mei 2023 | 22:07 WIB
DULANG PRESTASI: Wahyu Budi Lukitasari, kepala sekolah yang membangun taman sains berbasis IoT bantuan tenaga surya dan mendapat penghargaan dari Pemkab Jember.
DULANG PRESTASI: Wahyu Budi Lukitasari, kepala sekolah yang membangun taman sains berbasis IoT bantuan tenaga surya dan mendapat penghargaan dari Pemkab Jember.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Di atas sebidang tanah yang hanya seluas 4x3 meter persegi tergagas taman sains. Tak biasa, seluruh teknologi yang ada di dalamnya berbasis Internet of Things (IoT) dengan menggunakan energi baru terbarukan (EBT). Taman sains itu lahir atas gagasan Wahyu Budi Lukitasari, 50.

BACA JUGA : Angka Pernikahan Anak di Jember Masih Tinggi

Sepetak tanah kecil di halaman sekolah awalnya hanya tergeletak sejumlah bahan material bekas bangunan. Sejak awal tahun 2022 menjadi kepala sekolah, Luki, sapaan akrab perempuan tersebut, memiliki ide untuk menyulapnya sebagai sebuah lokasi media pembelajaran sains untuk siswa. Sekaligus meletakkan teknologi dengan konsep EBT untuk dikenalkan.

Ketertarikan Luki pada dunia sains membuat ide tersebut tak hanya menjadi angan-angan belaka. Gagasan itu diwujudkan melalui bantuan sejumlah pihak. Februari lalu, Taman Sains Gebsa berhasil dibangun. Letaknya tepat di depan perpustakaan. Siswa-siswi bisa bebas mengunjunginya setiap waktu.

Terdapat berbagai jenis tanaman dan apotek hidup lengkap dengan papan nama ilmiahnya. Ada kolam ikan mungil dilengkapi dengan auto feeder (pemberi makan otomatis). Lampu taman LED yang memanfaatkan panel surya untuk memberikan cahaya pada kolam sebagai cara mengurangi tumbuhnya lumut. Serta burung-burung peliharaan yang juga jadi media pembelajaran. Juga ada hujan buatan yang bisa digunakan untuk menyirami tanaman. Semuanya dijalankan melalui aplikasi berbasis Android. Dengan memanfaatkan tenaga surya (matahari) sebagai sumber energinya.

Luki mengungkapkan, dirinya ingin mengenalkan EBT sebagai bagian dari sains kepada para siswa sejak dini. Menurutnya, anak-anak perlu mengetahui manfaat energi alternatif berupa cahaya matahari dan dampaknya pada lingkungan seperti apa. “Harapannya siswa jadi SDM tangguh dan punya pengetahuan awal bagaimana memelihara bumi,” tutur sarjana PGSD yang kini menjadi Kepala SDN Gebang 1 tersebut.

Dengan beberapa materi pelajaran yang ada hubungannya dengan taman sains, biasanya guru-guru membawa anak-anak didiknya untuk belajar langsung di sana. Terutama pada sel surya. Menurut Luki, selama ini pengetahuan anak-anak tentang sel surya masih sebatas penggunaannya pada penerangan jalan. Padahal, kata dia, pemanfaatannya sangat banyak. Sehingga, berbagai contoh penggunaannya diberikan langsung di depan mata melalui taman sains. “Sudah waktunya saat ini anak-anak mengetahui EBT seperti apa dan bagaimana pengaplikasiannya,” terang perempuan berkerudung itu.

Murid-muridnya merasa gembira dengan adanya taman sains yang penuh dengan sentuhan teknologi itu. Suasana sekolah menyenangkan yang ingin dibangun oleh Luki akhirnya dapat terwujud melalui sepetak taman mungil. Di depan taman, diletakkan taman baca. Di sanalah fasilitator guru penggerak itu menyelipkan harapan. “Literasi sekarang harus ditingkatkan,” ujarnya.

Menciptakan suasana yang asyik dan nyaman menjadi bagian dari caranya mengondisikan siswa agar menyenangi membaca. Tempatnya juga cukup strategis, di depan perpustakaan.

Harapan serupa juga ditambatkan Luki kepada para guru. Setiap materi yang diberikan agar tidak hanya dilakukan secara tekstual di dalam kelas. Tetapi, juga membantu cara anak-anak yang sulit berpikir abstrak di usianya dengan pembelajaran kontekstual. “Jadi, anak-anak sering diajak keluar, melakukan percobaan, dan dikenalkan dengan hal luar yang berhubungan dengan materi pembelajarannya. Misalnya di Taman Sains Gebsa,” ajaknya.

Guru berprestasi tahun 2017 itu berpendapat, anak-anak harus disenangkan terlebih dahulu untuk membuatnya merasa senang belajar. Seperti yang diinginkannya dulu sejak masih menjadi guru kelas dan pembina lomba sains. Ke depan, Luki berencana untuk mendekatkan laboratorium IPA dengan taman sains agar lebih terhubung.

Tak kurang dari setahun menjadi kepala sekolah, dia telah mengantarkan sekolahnya memborong 33 piala. Berbagai inovasi juga telah dituangkan. Dengan salah satu inovasinya dengan pembuatan taman sains itu, Luki baru-baru ini mendapatkan penghargaan dari Bupati Jember sebagai kepala sekolah mandiri sel surya, tepat pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei kemarin. (c2/nur) Editor : Safitri
#Jember