Sesampainya di lokasi, suasana rindang di sekitar monumen menyambut kedatangan para pengunjung. Sementara itu, suara gemericik air sungai dan bisikan dedaunan pohon bambu di sekitar monumen menjadi ilustrasi alam pelengkap kunjungan.
Hatimah, warga sekitar sekaligus istri pembangun Monumen Bura, menerangkan bahwa monumen itu dulunya kerap didatangi sekelompok orang. Baik untuk belajar sejarah maupun tabur bunga. Selain berkunjung ke monumen, dia menambahkan bahwa para pengunjung juga bisa menikmati suasana sejuk di sungai sekitar monumen.
Namun, dia menerangkan bahwa monumen tersebut kini sangat sepi pengunjung. “Bisa jadi karena pandemi,” terangnya.
Meski begitu, Hatimah tak pernah menyurutkan niat untuk pergi ke monumen itu saban sore. Minimal untuk membersihkan pelataran monumen. Dia berharap, pemerintah mau peduli dengan peninggalan suaminya itu. “Semoga di lain waktu ada perbaikan. Soalnya, monumen ini sudah usang dan butuh perawatan,” tandasnya.
Jurnalis: Isnein Purnomo
Fotografer: Dwi Siswanto
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Maulana Ijal