Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tragedi Panti, Jangan Terulang Kembali

Safitri • Senin, 23 November 2020 | 18:32 WIB
Photo
Photo
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Menjelang pergantian tahun 2006, banjir bandang menghantam wilayah Kecamatan Panti. Tepatnya pada pukul 20.00. Banyak rumah penduduk yang hancur. Bangunan warga porak poranda. Bencana itu terjadi dua kali pada malam yang sama. Pertama, sekitar pukul 20.00, disusul insiden kedua pada 01.00 dini hari.

Bencana ini mencatat 100 lebih warga menjadi korban, 400 lebih penduduk lainnya kehilangan tempat tinggal. Banyaknya korban ditengarai karena saat itu edukasi dan upaya mitigasi kebencanaan masih minim. Karenanya, risiko yang bakal terjadi tak bisa diantisipasi oleh pemerintah maupun masyarakat.

Sunaidah, warga Dusun Gaplek, Desa Suci, Panti, masih teringat detik-detik sebelum petaka itu terjadi. Tepatnya di Minggu malam, 14 tahun lalu. Kala itu, langit tampak gelap. Kebetulan saat itu, lampu diesel untuk pencahayaan warga sekitar juga mati. Nyaris seharian wilayah Panti diguyur hujan.

Pada pukul 15.00 WIB langit kian gulita. Meski masih sore, tapi suasana sudah seperti petang. Warga mulai panik. sebab, sudah tiga hari keadaan yang sama terjadi. Mereka mulai siaga. Semalaman tidak tidur. Warga saling berjaga di depan rumah mengantisipasi hal buruk yang mungkin terjadi.

Kala itu, curah hujan semakin deras. Kondisinya seolah tak wajar dan tak sama dengan tahun- tahun sebelumnya. Sebab, durasi hujan bisa sampai dua jam di pagi hari. Lalu, di waktu siang hujan kembali mengguyur wilayah lereng Gunung Argopuro itu. Durasinya rata-rata dua jam dalam sekali hujan.

Menurut Sunaidah, sebelum banjir bandang terjadi, banyak hal aneh yang dialami masyarakat. Salah satunya, semua rumah warga didatangi semut dan lebah. Dua jenis binatang ini tak mau minggat dari rumah warga. Walau diusir menggunakan bahan mematikan seperti bensin atau kapur barus, dua binatang ini tetap kembali. “Bukan hanya satu rumah. Semua rumah dikerubungi semut dan lebah dalam jumlah banyak,” kenangnya.

Waktu itu, tak ada yang paham apa yang akan terjadi dengan datangnya dua binatang ini. Sunaida dan warga setempat baru paham setelah petaka terjadi. Bahwa kedatangan dua binatang ini menjadi tanda bahwa akan tiba bencana. Binatang itu seolah meminta warga pergi dari rumah untuk menyelamatkan diri.

Selepas Isya, Sunaidah kembali mengingat, air keruh disertai lumpur mengalir dari atas lereng gunung. Air bah itu menyapu permukiman warga. Kala itu, Sunaida tengah menggendong anaknya yang masih berumur 6 tahun. Sunaidah berlari bersama suaminya menuju tempat yang lebih tinggi. Begitu juga dengan warga lainnya.

Selang beberapa jam, hujan mulai mereda. Air lumpur surut. Masyarakat mulai bernapas lega. Mereka berharap banjir tak datang lagi. Nahas, sekitar pukul 01.00 dini hari, air bercampur lumpur kembali datang. Kali ini dengan volume yang lebih besar. “Bahkan, banjir bandang itu hingga mengakibatkan pabrik kopi di Perkebunan Gunung Pasang meledak,” ujarnya.

Banjir kedua ini paling parah. Sebagian masyarakat di Dusun Gaplek mengamankan diri di pabrik karet. Namun, karena banjir begitu besar, pabrik karet ambruk. Reruntuhan gedung mengakibatkan 13 nyawa tak terselamatkan.

Karyadi, warga lain yang juga menjadi saksi mata, mengatakan bahwa pada banjir kedua itu, ia dan beberapa tetangganya telah menyiapkan tenda dan terpal ala kadarnya di lereng Gunung Pasang. Agak tinggi. Mereka yang telah mengamankan diri di sana selamat dari terjangan arus dan lumpur.

Banjir pun mulai surut ketika siang hari. Sebagian ternak warga tak terselamatkan. Ada beberapa yang terbawa arus banjir. Padahal sebelumnya, warga setempat telah mengamankan ternak mereka dengan dikumpulkan menjadi satu di lapangan Dusun Gaplek.

Di samping itu, bantuan untuk warga tak kunjung datang, sampai kurang lebih dua hari. Mereka memanfaatkan bahan-bahan yang tersisa di rumah untuk kemudian diolah, lalu dikonsumsi bersama. “Kami makan bareng-bareng,” kata Karyadi, saat ditemui di lereng Gunung Pasang seusai menyadap karet.

Sekretaris Kecamatan Panti Mursidi ikut terjun mendata korban sesaat setelah peristiwa terjadi. Setidaknya ada sekitar 100 nyawa yang melayang. Mayat-mayat korban banyak yang menumpuk di Pasar Benut, Desa Kemiri, tak jauh dari jembatan yang menuju Perkebunan Gunung Pasang.

Sudah 14 tahun kejadian tragedi bencana tersebut terjadi. Meski sempat menimbulkan trauma, tapi kini masyarakat telah bangkit kembali. Bahkan, menurut Mursidi, keadaan masyarakat secara finansial sudah banyak kemajuan. Toko-toko dan usaha peracangan banyak berdiri. Geliat pariwisata juga mulai tampak. Beberapa usaha seperti budi daya jamur juga mulai banyak bermunculan.

Hal senada juga disampaikan oleh Sunaidah dan Karyadi. Kehidupannnya berangsur membaik. Bahkan lebih baik daripada sebelum diterjang bencana. Kini, keduanya sudah bebas dari rasa khawatir akan adanya banjir atau kejadian bencana serupa yang terjadi. Sebab, pemerintah setempat dinilainya aktif dan gencar menyosialisasikan sikap tanggap bencana. Sehingga masyarakat dapat lebih waspada. Editor : Safitri
#Jember #Bencana #Cuaca #Banjir