Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Harga Semangka Anjlok

Safitri • Rabu, 28 Oktober 2020 | 21:10 WIB
BERSEMANGAT: Ari, salah seorang petani semangka, tetap rajin menyirami tanaman semangka di pesisir Pantai Cangakan, kemarin siang (27/10).
BERSEMANGAT: Ari, salah seorang petani semangka, tetap rajin menyirami tanaman semangka di pesisir Pantai Cangakan, kemarin siang (27/10).
JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bunyi air mengalir siang itu menjernihkan telinga para petani semangka yang sedang sibuk menyirami tanaman semangkanya. Bermodalkan mesin diesel dan selang, mereka mengambil air di sumur dan menyalurkannya ke dekat tanaman semangka yang sudah tertata rapi.

Di antara dua baris tanaman semangka, terdapat lekukan tanah yang berfungsi menampung air sumur itu. Ketika sudah tampak penuh, tangan-tangan petani itu tampak lihai mengayuh air menggunakan benda semacam gayung, lalu menyirami satu per satu tanaman semangka.

Tak sedikit pun tergambar wajah kelelahan pada para petani itu. Bahkan, teriknya matahari tak mampu menahan semangat mereka dalam bercocok tanam.

Salah satunya adalah Ari. Petani semangka yang berusia 18 tahun tersebut menyebut, pihaknya harus setiap hari menyirami tanaman semangka. “Soalnya, tanaman ini membutuhkan banyak air supaya menghasilkan buah yang bagus,” papar warga Dusun Bregoh, Desa Sumberrejo, Kecamatan Ambulu, itu.

“Tapi, tanah ini masih mendingan karena lahan pasir bercampur tanah alias ledokan,” terangnya. “Yang lebih kasihan itu jika lahannya hanya pasir saja. Jadi, mereka harus menyirami tanaman semangka dua kali sehari,” lanjutnya.

Sebab, lahannya tak bisa menampung air karena berupa pasir. “Sama seperti tanaman lain, tanaman semangka juga butuh pupuk dan pestisida untuk menjaga kualitas buah yang dihasilkan,” lanjutnya.

Sayangnya, usaha mereka tak sepadan dengan harga jualnya. Samsul, petani lain, menjelaskan bahwa harga jual hasil panen terakhir pada awal Oktober lalu hanya berkisar antara Rp 2.000 sampai Rp 2.700 per kilogram. Harga tersebut diakui Samsul terjadi karena permintaan merosot jauh saat pandemi.

Hal serupa juga disampaikan oleh salah seorang petani semangka di pesisir Pantai Paseban, Kecamatan Kencong. “Harga semangka di sini juga anjlok, yakni di bawah Rp 3 ribu,” ujar M. Solehudin.

Warga Dusun Panggulmlati, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, tersebut menjelaskan bahwa panen Oktober lalu harga per kilogramnya jauh menurun jika dibandingkan dengan musim lalu. “Untuk luas lahan sekitar seperempat hektare harga tebasannya hanya Rp 8 juta. Padahal, biasanya bisa mencapai Rp 20 juta sekali panen,” ungkapnya.

Jelas, lanjutnya, harga tersebut jauh dari kata pantas jika dibandingkan dengan usaha para petani saat bercocok tanam. “Belum lagi, kami harus menjaga kesehatan tanaman dengan pupuk yang harganya juga tidak murah,” pungkasnya. Editor : Safitri
#Covid-19 #Jember