Walau secara alamiah naluri ibu ingin memberikan terbaik buah hatinya dengan ASI, tapi tidak sedikit ASI menjadi problem ibu setelah melahirkan. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dari profil Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember menunjukkan, pemberian asi eksklusif usia 0-6 bulan, tidak seratus persen ibu memberikannya.
Diketahui, cakupan bayi mendapatkan ASI eksklusif sebesar 84,56 persen pada 2018, sementara pada tahun sebelumnya 2017 sedikit lebih tinggi yaitu 84,96 persen. Angka tersebut telah melebih target yang ditetapkan yakni 80 persen.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menunjukan, rata-rata pemberian ASI pada anak di bawah usia 2 tahun atau 0-23 bulan di Jember pada 2017 sebesar 10,23 bulan. Sedangkan di tingkat Jatim, rata-rata pemberian ASI sedikit lebih tinggi dari Jember yaitu 10,42 bulan pada tahun yang sama.
dr Ali Shodikin Sp A mengatakan, tantangan ibu memberikan ASI kepada buah hati begitu beragam tidak seperti dulu. Di mana ibu sekarang juga banyak yang memilih bekerja atau wanita karir. Walau ada solusinya, yaitu dengan memakai pompa, tapi ada persepsi di masyarakat kualitas ASI pompa itu sangat jauh berbeda dengan memberikan ASI langsung lewat puting.
Terkait perihal tersebut, dokter spesialis anak ini menjelaskan, ASI pompa dengan ASI langsung tidak ada bedanya. Asalkan disimpan dengan tepat dan kualitasnya sama saja. Hal yang paling membedakan, tambah dia, kurangnya sisi emosional dan kasih sayang saat memberikan ASI langsung. “Rasa emosional dan kasih sayang itu tidak didapat dalam ASI pompa yang diberikan melalui botol,” tuturnya.
Setelah bayi baru lahir, ASI sangat penting dan yang terbaik diberikan. Sehingga, ASI eksklusif diberikan ke buah hati pada usia 0-6 bulan. “Hanya minum ASI dari ibunya, tidak ada tambahan makanan dan minuman lainnya,” ujarnya.
Dokter yang juga dosen di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Jember (Unej) ini memaparkan, baru setelah usia 6 bulan balita bisa ditambah makanan pendamping ASI. “ASI dilanjut kalau bisa sampai usia 2 tahun disertai makanan,” tuturnya.
Menurutnya, dalam ASI terdapat kandungan atau bahan-bahan yang sangat penting untuk tumbuh kembang badan, tulang, dan yang utama adalah perkembangan otak bayi. Dia menuturkan, ASI itu juga terdapat kandungan yang bisa membuat imunitas tubuh bayi atau daya tahan tubuh. Inilah yang tidak terdapat di produk susu kemasan atau bubuk.
Dia menjelaskan, bayi rentan terhadap segala penyakit. Sebab, di dalam tubuhnya belum terbentuk antibodi seperti para orang dewasa. Karena itu, tak salah jika kesehatan bayi sangat diperhatikan. Ali menambahkan, ada dua penyakit dengan peringkat tertinggi yang bisa jadi pembunuh bayi. Yaitu diare dan pneumonia.
Berdasarkan data Kemenkes dari Profil Dinkes Jember, pada 2018 terdapat ribuan balita terkena pneumonia. Pada 2017 jumlah perkiraan penderita pneumonia pada balita yaitu 8.039 kasus, sedangkan yang tertangani 7.108 kasus. Sedangkan di tahun berikutnya 2018, jumlah perkiraan penderita pneumonia 7.953 kasus dan penderita yang ditemukan dan ditangani 5.525 kasus.
Meminum ASI akan membuat imunitas bayi lebih baik daripada bayi yang tidak diberikan ASI. Kandungan ASI juga sesaui dengan sistem perkembangan saluran cerna bayi. “Dengan minum ASI, maka daya tahan atau imunitas bayi itu bagus. Flora normal di usus juga baik. Sehingga mengurangi risiko terjadinya diare dan infeksi lainnya seperti pneumonia,” jelasnya. Editor : Safitri