PLTS ini nantinya berkapasitas maksimal sampai menghasilkan 1 juta watt. Hanya saja, kapasitas sebesar itu masih belum dioptimalkan seluruhnya. Sebab, kebutuhan energi listrik di ponpes dengan 5.000 santri tersebut sudah terpenuhi, bahkan masih banyak kelebihan.
Efek positifnya, penerangan di ponpes yang terletak di tengah Kota Kediri tersebut sangat bagus. Santri juga merasa lebih nyaman belajar dan beraktivitas. Kondisi itu didapat karena ada efisiensi dengan memanfaatkan PLTS. “Prinsipnya, Ponpes Wali Barokah sudah mempraktikkan dan berinvestasi jangka panjang dalam bidang EBT (energi baru terbarukan, Red),” katanya.
Menurut dia, pembangunan dan pengembangan ponpes adalah sebuah keniscayaan. Untuk itu, pihaknya sudah menabung dan berinvestasi untuk kemandirian energi. LDII juga serius membangunnya. Bahkan, sampai penentuan titik di mana intensitas sinar matahari terbesar, pihaknya sampai meminta bantuan satelit NASA.
“Ya, di gedung inilah yang intensitas sinar matahari tertinggi, dibandingkan beberapa gedung di ponpes. EBT ini sejatinya memanfaatkan karunia Allah,” papar pria asal Banyumas tersebut.
Saat ini, warga Kota Bandung itu sudah merencanakan membangun pembangkit listrik tenaga bio masa (PLTBM). Teknologi ini memanfaatkan sampah harian warga ponpes yang jumlahnya ribuan orang. Nantinya, sampah atau limbah yang dibuang bisa dimanfaatkan menjadi energi.
Berbekal pengalaman telah membuat PLTMB di Bandung, dirinya punya keinginan bisa menghadirkannya di ponpes tersebut. “Potensi dari sampah di sini sangat besar, dan bisa makin mengokohkan kemandirian energi ponpes. Tinggal menunggu bagaimana musyawarah pimpinan pondok,” kata Horisworo.
Ratusan alumni Ponpes Wali Barokah yang ada di Jember merasa bangga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ponpes tersebut. Mereka berharap, suatu saat nanti PLTS ini bisa diterapkan di Jember.
Alumni Ponpes Wali Barokah yang juga sekretaris DPD LDII Jember Akhmad Malik Afandi menuturkan, apa yang dilakukan ponpes adalah upaya pelaksanaan rekomendasi hasil rakernas tahun 2019. Di antaranya merealisasikan energi yang terbarukan yang diawali dari pondok pesantren. Sebab, di pesantren kebutuhan listriknya luar biasa besar. “Semoga ini menjadi inspirasi bagi pondok pesantren yang lain,” sambung alumni HMI tersebut. (*) Editor : Radar Digital