
JAMBEARUM, Radar Jember - Puluhan siswa SMAN Balung Jember merasakan pengalaman berbeda saat mengikuti eduwisata literasi pangan yang digelar Perum Bulog Jember, pada Kamis (23/4). Sebanyak 40 siswa diajak menyusuri langsung proses panjang produksi beras, mulai dari sawah hingga penyimpanan di gudang. Kegiatan ini tidak sekadar wisata, tetapi menjadi ruang belajar tentang dunia pertanian dan ketahanan pangan.
Perjalanan dimulai dari penanaman padi serentak bersama Pemkab Jember di lahan sawah Desa Karangduren, Kecamatan Balung. Para siswa kemudian diajak melihat langsung proses panen bersama Kelompok Tani Makmur 13 di Desa Kasiyan, Kecamatan Puger. Dari sana, rombongan melanjutkan kunjungan ke Sentra Penggilingan Padi (SPP). Di tempat ini, siswa belajar langsung proses gabah yang telah dipanen, digiling hingga dikemas. Mereka juga praktik mengemas langsung beras tersebut.
Selanjutnya, siswa diajak gudang penyimpanan Bulog di Jambearum. Rangkaian ini membuat siswa memahami alur produksi pangan secara utuh dari hulu hingga hilir.

Wakil Kepala Perum Bulog Jember, Novrizal Ibnu Murwandono, menjelaskan, kegiatan ini dirancang sebagai perpaduan edukasi dan wisata. Pihaknya ingin memperkenalkan proses penanaman, panen, hingga pengolahan gabah menjadi beras. Lalu disimpan di gudang Bulog untuk cadangan pangan pemerintah.
Rizal menambahkan, hasil panen petani nantinya akan diserap Bulog dan disalurkan kembali melalui berbagai program pemerintah. Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya menanamkan kesadaran kepada generasi muda tentang pentingnya sektor pertanian. “Harapannya siswa mengetahui alur pangan dan ke depan mau melanjutkan estafet pertanian. Karena kita tahu, minat generasi muda di sektor ini semakin berkurang,” tambahnya.
Eduwisata ini diharapkan tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga membangun kedekatan emosional siswa dengan dunia pertanian. Dengan melihat langsung prosesnya, siswa diharapkan memahami bahwa pangan yang mereka konsumsi lahir dari proses panjang yang penuh kerja keras. “Paling tidak mereka tahu manfaat swasembada pangan dan bisa menghargai prosesnya,” terangnya.
Sementara itu, guru pendamping SMAN Balung, Ahmad Junaidi, menyebut, kegiatan ini sebagai pengalaman baru bagi siswa. Ia menilai kolaborasi dengan Bulog menjadi langkah positif dalam memperkaya metode pembelajaran. “Ini pertama kali kami bersinergi. Anak-anak mendapatkan pengetahuan yang tidak diajarkan di sekolah karena mereka langsung praktik di lapangan,” ungkapnya. (kin/dwi)




