Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Update Lalin Jember, Perhatikan Ruas Bahaya Ini: Melawan Arus Berjamaah

J
Penulis: Jumai RJ❯

USAI KERJA: Pengendara motor memilih melawan arus di Jalan Hayam Wuruk, selepas pulang kerja.
USAI KERJA: Pengendara motor memilih melawan arus di Jalan Hayam Wuruk, selepas pulang kerja.


Advertisement

SEMPUSARI, Radar Jember – Bagi pengguna jalan yang melintas di Jalan Hayam Wuruk, khususnya dari arah barat ke timur, sebaiknya siapkan nyali dan kesabaran ekstra. Sebab setiap sore, jalan ini berubah fungsi: dari jalur dua arah, bisa menjadi tiga jalur. Sebab, jalur ketiga adalah mereka-mereka yang melawan arus.

Fenomenanya bukan baru kemarin sore. Saat jam pulang kerja karyawan gudang di dekat t SMAN 4 Jember, iring-iringan penjemput sudah standby sejak sebelum pukul 15.00. Setia menunggu, memang. Sayangnya, kesetiaan itu tak dibarengi ketaatan.

Begitu pasangan keluar dari gudang, rombongan motor ini langsung tancap gas. Bukan mengikuti arus, melainkan menantangnya. Melawan arus jadi pilihan, seolah rambu lalu lintas hanya pajangan.

Advertisement

Yang lebih menggelitik, aksi ini dilakukan berjamaah. Satu melawan arus, yang lain ikut-ikutan. Mungkin pikirnya, kalau ramai-ramai pasti aman. Padahal yang ramai justru potensi celakanya.

Mayoritas pelanggar diketahui hendak pulang ke Sukorambi atau Dukuhmencek. Daripada memutar lewat depan Kantor Kecamatan Kaliwates yang dianggap “terlalu jauh”, mereka memilih potong kompas. Caranya? Melipir di sisi utara jalan double way, dari depan gudang hingga ke arah Jalan Lumba-Lumba.

Praktis memang. Cepat iya. Tapi aman? Belum tentu.

Advertisement

“Kalau pas jam pulang kerja gudang itu paling rawan. Pengendara dari barat sering kaget karena tiba-tiba ada motor dari depan,” ujar Suwono, warga Ajung.

Ironisnya, lokasi ini tak jauh dari Mapolsek Kaliwates. Pelanggaran terjadi terang-terangan, nyaris setiap hari, namun seperti menjadi pemandangan biasa. Seolah-olah melawan arus sudah masuk kategori kearifan lokal.

Pertanyaannya sederhana: kalau nanti benar-benar terjadi kecelakaan, siapa yang disalahkan? Pengendara yang melanggar? Atau pembiaran yang berlangsung bertahun-tahun? (jum/dwi)

 

Advertisement
Editor : M. Ainul Budi

Artikel Terkait

Rangkul Guru Ngaji dan Tokoh Lintas Agama, Gus Fawait Ajak Doakan Kepemimpinan Presiden Prabowo

Rangkul Guru Ngaji dan Tokoh Lintas Agama, Gus Fawait Ajak Doakan Kepemimpinan Presiden Prabowo

Selain membahas pembangunan sumber daya manusia di tingkat lokal, ia juga mengajak masyarakat untuk senantiasa mendoakan para pemimpin bangsa.

Bupati Jember Ajak Kader Posyandu Sosialisasikan Berobat Gratis UHC dan 11 Ribu Beasiswa Kuliah

Bupati Jember Ajak Kader Posyandu Sosialisasikan Berobat Gratis UHC dan 11 Ribu Beasiswa Kuliah

Menurut dia, posisi kader Posyandu sangat strategis karena bersentuhan langsung dengan kehidupan harian warga. Kedekatan itu modal kuat untuk menyampaikan berbagai program prioritas sekaligus menyerap aspirasi

Aturan Baru Kendaraan Plat Jember: Bayar Pajak Sekaligus Beli Stiker Parkir Berlangganan

Aturan Baru Kendaraan Plat Jember: Bayar Pajak Sekaligus Beli Stiker Parkir Berlangganan

Kebijakan ini disebut-sebut menjadi pemungkas anjloknya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi parkir yang sempat terjun bebas.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer