Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Era AI di Kampus: Pakar Teknologi Tekankan Pentingnya Transparansi dan Integritas Akademik Mahasiswa

M Adhi Surya
Penulis: M Adhi Surya❯
EDUKASI : Pakar teknologi dan riset kecerdasan buatan, Dr Eng Ir Sunu Wibirama memberi wawasan tentang akal imitasi (AI).
EDUKASI : Pakar teknologi dan riset kecerdasan buatan, Dr Eng Ir Sunu Wibirama memberi wawasan tentang akal imitasi (AI).

Radar Jember – Generative Artificial Intelligence (GenAI) atau akal imitasi (AI) mulai menjadi bagian dari keseharian dunia pendidikan tinggi.


Advertisement

Bagi mahasiswa, teknologi ini membuka peluang besar untuk mempercepat proses belajar, menulis, dan meneliti.

Namun, di balik kemudahannya, penggunaan GenAI juga menuntut kesadaran etis dan tanggung jawab akademik yang tinggi.

Salah satunya, fasilitas itu bukan hanya dijadikan sebagai sarana utama, namun hanya diperuntukkan membantu nalar kritis mahasiswa.

Advertisement

Pakar teknologi dan riset kecerdasan buatan, Dr Eng Ir Sunu Wibirama menilai, GenAI dapat membantu mahasiswa mengoptimalkan proses berpikir, selama digunakan dengan benar.

“AI seharusnya menjadi alat bantu yang memperkuat kemampuan analisis dan kreativitas manusia, bukan menggantikannya. Mahasiswa harus tetap menjadi pengendali ide, bukan sekadar pengguna hasil mesin,” ujarnya.

Menurutnya, AI bisa membantu menyusun literature review, memperjelas struktur tulisan ilmiah, hingga memvisualisasikan data riset.

Advertisement

Namun, setiap hasil yang dihasilkan AI harus tetap diverifikasi dan dikaji ulang oleh mahasiswa agar tidak terjadi kesalahan logika maupun penyimpangan sumber.

“AI bisa mempercepat kerja intelektual, tapi keputusan akhir tetap ada di tangan manusia,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan risiko yang sering terjadi ketika AI digunakan tanpa pemahaman etika.

Mulai dari potensi plagiarisme, penyalahgunaan data, hingga pelanggaran hak cipta.

Ia menilai pentingnya mahasiswa memahami batas antara inspirasi dan duplikasi.

“Gunakan AI untuk memperkaya wawasan, bukan menyalin ide. Integritas akademik tetap nomor satu,” katanya.

Ia mendorong mahasiswa agar selalu bersikap transparan dalam menggunakan teknologi tersebut.

Misalnya dengan mencantumkan peran AI dalam proses penyusunan tulisan atau riset.

Langkah itu, menurutnya, menjadi bagian dari tanggung jawab akademik yang harus dijaga di era digital.

“Keterbukaan adalah bentuk kejujuran ilmiah. Justru itu yang akan membedakan pengguna AI yang beretika dengan yang sekadar memanfaatkan teknologi,” tambahnya.

Ia menyebut, kemampuan mahasiswa dalam memadukan kecerdasan digital dengan nalar kritis akan menjadi modal penting di dunia profesional.

“Dunia kerja nanti menuntut orang yang bisa berpikir bersama mesin, bukan digantikan oleh mesin,” katanya. (dhi/dwi)

Advertisement

Artikel Terkait

Dekan FH Unmuh Jember Ungkap Potensi Pelanggaran HAM jika TNI Terlalu Sering Amankan Aksi Demo

Dekan FH Unmuh Jember Ungkap Potensi Pelanggaran HAM jika TNI Terlalu Sering Amankan Aksi Demo

Dekan FH Unmuh Jember Ahmad Suryono menilai pengerahan TNI dalam demonstrasi di Jakarta berlebihan dan berpotensi memicu dugaan pelanggaran HAM masyarakat.

Bahas Strategi Bisnis Digital, Prodi SI Unmuh Jember Tekankan Pentingnya Personal Branding

Bahas Strategi Bisnis Digital, Prodi SI Unmuh Jember Tekankan Pentingnya Personal Branding

Program Studi Sistem Informasi Unmuh Jember menggelar kuliah tamu bersama Nana Diaz yang membahas pentingnya personal branding dan strategi komunikasi bisnis digital.

IHSG Bergejolak Turun 11 Persen, Pakar Unmuh Jember Minta Investor Jangan Panik

IHSG Bergejolak Turun 11 Persen, Pakar Unmuh Jember Minta Investor Jangan Panik

Menyikapi gejolak penurunan IHSG, Wakil Dekan FEB Unmuh Jember mengingatkan investor agar tidak panik dan teliti memeriksa fundamental perusahaan sebelum berinvestasi.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer