Bus dan truk terparkir di depan kamp pengungsian Teknaf, Bangladesh, Kamis (22/8). Namun, bus dan truk tersebut kembali ke Myanmar tanpa warga Rohingya karena ogak kembali (MUNIR UZ ZAMAN / AFP)

JawaPos.com – Lima bus dan sepuluh truk terparkir di depan kamp pengungsian Teknaf, Bangladesh, kemarin (22/8). Sejak pukul 09.00, kendaraan untuk mengangkut pengungsi Rohingya yang akan dipulangkan ke Myanmar itu sudah tiba. Namun, hingga enam jam kemudian, tak ada warga Rohingya yang muncul. Kendaraan-kendaraan tersebut akhirnya terpaksa balik ke Myanmar dalam kondisi kosong.

“Kami sudah mewawancarai 295 keluarga. Tapi, tak seorang pun menunjukkan minat untuk direpatriasi,” jelas Komisioner Pengungsi Bangladesh Mohammad Abul Kalam kepada Agence France-Presse.

Seharusnya, kemarin bus dan truk itu membawa kloter pertama dari 3.450 pengungsi Rohingya yang masuk daftar repatriasi. Kalam menegaskan bahwa kendaraan tersebut akan kembali lagi hari ini. Mereka berharap ada pengungsi yang berubah pikiran dan mau kembali pulang.

Sejatinya, para pengungsi Rohingya itu bukannya tidak mau pulang. Mereka menginginkan jaminan di muka. Yaitu, status kewarganegaraan dan keamanan di Myanmar nanti. Selama ini tak ada hitam di atas putih yang memastikan bahwa status mereka akan dijamin sepenuhnya.

Myanmar tak pernah mengakui Rohingya sebagai penduduk. Mereka dianggap penyusup Bengali. Padahal, mereka sudah tinggal di Rakhine, Myanmar, selama beberapa generasi. Selama itu pula mereka hidup tanpa kewarganegaraan.

“Pemerintah Myanmar telah memerkosa dan membunuh kami (warga Rohingya, Red), jadi kami butuh keamanan. Tanpa itu, kami tak akan kembali,” tegas Nosima, pemimpin pengungsi Rohingya di Teknaf.

Para pengungsi ingin agar ada pembicaraan secara terbuka dengan Myanmar terkait dengan status kewarganegaraan tersebut sebelum mereka dipulangkan. Selama ini pembicaraan soal repatriasi hanya melibatkan petinggi pemerintahan di Myanmar dan Bangladesh. Penduduk Rohingya di pengungsian tidak dilibatkan. Begitu ada keputusan, baru mereka disurvei.

Pemimpin Komunitas Rohingya Jafar Alam mengungkapkan bahwa para pengungsi ketakutan sejak pemerintah mengumumkan proses repatriasi terbaru. Mereka takut bakal dikirim ke kamp untuk para pengungsi dalam negeri jika kembali ke Myanmar, bukannya kembali ke desa mereka di Rakhine.