Kebakaran Hutan Amazon, Brasil. (CARL DE SOUZA/AFP)

Hutan Amazon punya banyak gelar. Namun, yang paling terkenal adalah paru-paru dunia. Kini hutan yang menjadi harapan warga seluruh dunia untuk memperlambat perubahan iklim itu berada di pintu ajal.

MOCHAMAD SALSABYL ADNJawa Pos

PRESIDEN Brasil Jair Bolsonaro baru saja menyatakan cintanya untuk hutan Amazon Jumat (23/8). Dia mengeluarkan perintah agar tentara negara segera turun tangan dan membantu pemadaman kebakaran. “Perlindungan hutan tentu saja tugas kami (pemerintah, Red). Kami akan melawan deforestasi dan penjahat yang membahayakan Amazon,” ungkap dia seperti dikutip Associated Press.

Pernyataan tersebut hanya mengundang cibiran dari lokal maupun internasional. Di kota-kota besar Brasil, yakni Rio de Janeiro, Sao Paulo, dan Brasilia, warga masih sibuk memukul panci dan perkakas lain dari rumah masing-masing. Di Amerika Latin, itu simbol bahwa rakyat tak puas dengan sikap pemerintah.

Kantor diplomatik Brasil di berbagai penjuru dunia juga disambangi aktivis pencinta lingkungan. Tampaknya, mereka belum puas dengan jawaban pemimpin Negeri Samba itu. “Brasil sudah berubah dari panutan konservasi hutan menjadi bulan-bulanan internasional,” kata Robert Muggah, direktur penelitian Igarape Institute, kepada Agence France-Presse.

Hati publik kadung membeku. Pernyataan prohutan tak pernah keluar dari Bolsonaro sejak dirinya menjabat presiden. Justru dia meminta pebisnis untuk memanfaatkan Amazon sebagai lapak mereka. Entah agrikultur, peternakan, atau pertambangan.

Hingga sehari sebelum pernyataan cintanya (22/8), sikap politikus yang populer lantaran ditikam saat berkampanye tahun lalu itu tak berubah. Dia menentang kritik Presiden Prancis Emmanuel Macron. Baru setelah Macron dan negara Eropa lain mengancam dengan sanksi ekonomi, Bolsonaro tak lagi bergeming. “Kebakaran hutan terjadi di seluruh dunia. Ini tak bisa jadi dasar sanksi internasional,” imbuh Bolsonaro.

Jelas saja Bolsonaro takut. Yang mengangkat karir politiknya selama ini merupakan kaum konservatif dan para pengusaha. Karena itu pula, kebijakannya cenderung tak ramah lingkungan.