Petugas keamanan menjaga Bandara Internasional Hongkong. Pengadilan Tinggi Hongkong memutuskan bahwa bandara harus tetap bersih dari demonstran atau pengunjuk rasa (GREG BAKER / AFP)

JawaPos.com – Pengadilan Tinggi Hongkong baru saja memperpanjang larangan berunjuk rasa di Bandara Internasional Hongkong, Jumat (23/8). Perintah itu datang setelah manajemen mengadukan kekhawatiran mereka. Rumor yang beredar, salah satu pusat penerbangan Asia tersebut bakal menjadi sasaran demonstran pada Sabtu (24/8).

Hakim Wilson Chan menjelaskan, keresahan yang dirasakan pengelola bandara sangat nyata. Meski gangguan operasional hilang beberapa hari terakhir, ancaman masih tersisa. Karena itu, dia melarang demonstrasi di fasilitas tersebut tanpa batas waktu yang jelas.

“Bandara yang lancar merupakan hal penting bagi Hongkong. Baik secara ekonomi maupun keamanan terhadap penumpang,” tutur Chan sebagaimana dilansir South China Morning Post.

Pekan lalu lembaga pengadilan itu menerbitkan larangan berdemo di Bandara Internasional Hongkong. Perintah tersebut muncul setelah massa Hongkong berhasil melumpuhkan kegiatan operasional bandara dua hari berturut-turut. Insiden itu mengakibatkan 979 penerbangan terganggu.

Sebelumnya, pengadilan memberikan kewenangan kepada otoritas bandara untuk menindak siapa pun yang dianggap mengganggu ketertiban. Batas waktu perintah tersebut hanya sampai seminggu. Hal itulah yang tampaknya dimanfaatkan Hongkongers. Di dunia maya, ajakan untuk kembali memenuhi bandara ramai lagi.

“Datanglah dengan berbagai cara. Termasuk MTR, bus, taksi, dan mobil,” tulis salah seorang warga Hongkong di media sosial menurut Al Jazeera.

Belum ada yang tahu bakal lanjut atau tidaknya unjuk rasa pekan ke-12. Minggu lalu, demo akhir pekan di Hongkong cenderung berjalan damai. Tidak ada bentrokan antara polisi versus demonstran yang biasa terjadi larut malam.

Kemarin malam mereka meniru demo Baltic Way dan menciptakan rantai manusia dengan ribuan demonstran. Baltic Way merupakan unjuk rasa terhadap pemerintah Soviet tiga dekade lalu. Sebagai bentuk protes dan solidaritas, mereka membentuk rantai manusia.

“Kami sudah coba demo tradisional, aksi militan. Sekarang saatnya kami bergandengan satu sama lain,” kata Wing, salah seorang demonstran yang ikut berbaris, kepada Agence France-Presse.