alexametrics
23.3 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Imigran Mendarat di Lampedusa setelah 19 Hari Terkatung-katung di Laut

Mobile_AP_Rectangle 1

Kapal Open Arms yang membawa 83 imigran diperbolehkan berlabuh di Lampedusa, Italia, Selasa (20/8). Para pencari suaka itu akhirnya menginjakkan kaki di benua harapan.

Siti Aisyah, Jawa Pos

Mobile_AP_Rectangle 2

JawaPos.com – Pulau Lampedusa, Italia, terlihat begitu nyata dan dekat. Jaraknya hanya 275 meter dari kapal Open Arms. Karang, pantai, dan perbukitannya bahkan tampak jelas. Namun, 147 imigran yang diselamatkan kapal milik Spanyol pada Jumat (2/8) itu tak bisa menjangkaunya. Italia menutup seluruh pelabuhannya untuk imigran. Tak terkecuali di Lampedusa.

Para imigran tersebut sudah menempuh ratusan kilometer dan bertaruh nyawa demi sampai di Benua Eropa. Ibaratnya, jarak mereka ke Benua Biru itu hanya selemparan batu. Namun, kebijakan Italia membuat impian mereka harus tertunda. Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Salvini tak mau mengubah keputusannya.

Selama 19 hari, para imigran itu harus hidup dalam keterbatasan dan keputusasaan. Situasi di dalam kapal sangat tak layak. Mereka harus rela tidur berimpit-impitan dengan para imigran lainnya. Tak ada tempat untuk sekadar berjalan dan merenggangkan kaki. Di dalam kapal tersebut, hanya ada dua toilet yang harus dipakai bersama. Antreannya, jangan ditanya. Mengular.

Satu per satu imigran itu ambruk. Mereka yang sakit itulah yang boleh dibawa ke daratan. Pada Sabtu (17/8), pemerintah Italia akhirnya memperbolehkan anak-anak dibawa ke daratan. Namun, yang masih sehat tak boleh mendarat.

Menunggu tanpa kepastian dan menjalani kehidupan yang monoton selama berhari-hari membuat para imigran itu tertekan dan stres. Beberapa imigran di antaranya sudah menunjukkan tanda-tanda ingin bunuh diri.

Pada Minggu (18/8), sebanyak 15 orang nekat nyebur ke laut dan berenang ke pantai. Mereka akhirnya ditarik tim penyelamat pantai dan dibawa ke daratan. Hingga akhirnya, hanya ada 83 imigran yang tersisa.

- Advertisement -

Kapal Open Arms yang membawa 83 imigran diperbolehkan berlabuh di Lampedusa, Italia, Selasa (20/8). Para pencari suaka itu akhirnya menginjakkan kaki di benua harapan.

Siti Aisyah, Jawa Pos

JawaPos.com – Pulau Lampedusa, Italia, terlihat begitu nyata dan dekat. Jaraknya hanya 275 meter dari kapal Open Arms. Karang, pantai, dan perbukitannya bahkan tampak jelas. Namun, 147 imigran yang diselamatkan kapal milik Spanyol pada Jumat (2/8) itu tak bisa menjangkaunya. Italia menutup seluruh pelabuhannya untuk imigran. Tak terkecuali di Lampedusa.

Para imigran tersebut sudah menempuh ratusan kilometer dan bertaruh nyawa demi sampai di Benua Eropa. Ibaratnya, jarak mereka ke Benua Biru itu hanya selemparan batu. Namun, kebijakan Italia membuat impian mereka harus tertunda. Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Salvini tak mau mengubah keputusannya.

Selama 19 hari, para imigran itu harus hidup dalam keterbatasan dan keputusasaan. Situasi di dalam kapal sangat tak layak. Mereka harus rela tidur berimpit-impitan dengan para imigran lainnya. Tak ada tempat untuk sekadar berjalan dan merenggangkan kaki. Di dalam kapal tersebut, hanya ada dua toilet yang harus dipakai bersama. Antreannya, jangan ditanya. Mengular.

Satu per satu imigran itu ambruk. Mereka yang sakit itulah yang boleh dibawa ke daratan. Pada Sabtu (17/8), pemerintah Italia akhirnya memperbolehkan anak-anak dibawa ke daratan. Namun, yang masih sehat tak boleh mendarat.

Menunggu tanpa kepastian dan menjalani kehidupan yang monoton selama berhari-hari membuat para imigran itu tertekan dan stres. Beberapa imigran di antaranya sudah menunjukkan tanda-tanda ingin bunuh diri.

Pada Minggu (18/8), sebanyak 15 orang nekat nyebur ke laut dan berenang ke pantai. Mereka akhirnya ditarik tim penyelamat pantai dan dibawa ke daratan. Hingga akhirnya, hanya ada 83 imigran yang tersisa.

Kapal Open Arms yang membawa 83 imigran diperbolehkan berlabuh di Lampedusa, Italia, Selasa (20/8). Para pencari suaka itu akhirnya menginjakkan kaki di benua harapan.

Siti Aisyah, Jawa Pos

JawaPos.com – Pulau Lampedusa, Italia, terlihat begitu nyata dan dekat. Jaraknya hanya 275 meter dari kapal Open Arms. Karang, pantai, dan perbukitannya bahkan tampak jelas. Namun, 147 imigran yang diselamatkan kapal milik Spanyol pada Jumat (2/8) itu tak bisa menjangkaunya. Italia menutup seluruh pelabuhannya untuk imigran. Tak terkecuali di Lampedusa.

Para imigran tersebut sudah menempuh ratusan kilometer dan bertaruh nyawa demi sampai di Benua Eropa. Ibaratnya, jarak mereka ke Benua Biru itu hanya selemparan batu. Namun, kebijakan Italia membuat impian mereka harus tertunda. Menteri Dalam Negeri Italia Matteo Salvini tak mau mengubah keputusannya.

Selama 19 hari, para imigran itu harus hidup dalam keterbatasan dan keputusasaan. Situasi di dalam kapal sangat tak layak. Mereka harus rela tidur berimpit-impitan dengan para imigran lainnya. Tak ada tempat untuk sekadar berjalan dan merenggangkan kaki. Di dalam kapal tersebut, hanya ada dua toilet yang harus dipakai bersama. Antreannya, jangan ditanya. Mengular.

Satu per satu imigran itu ambruk. Mereka yang sakit itulah yang boleh dibawa ke daratan. Pada Sabtu (17/8), pemerintah Italia akhirnya memperbolehkan anak-anak dibawa ke daratan. Namun, yang masih sehat tak boleh mendarat.

Menunggu tanpa kepastian dan menjalani kehidupan yang monoton selama berhari-hari membuat para imigran itu tertekan dan stres. Beberapa imigran di antaranya sudah menunjukkan tanda-tanda ingin bunuh diri.

Pada Minggu (18/8), sebanyak 15 orang nekat nyebur ke laut dan berenang ke pantai. Mereka akhirnya ditarik tim penyelamat pantai dan dibawa ke daratan. Hingga akhirnya, hanya ada 83 imigran yang tersisa.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/