POLITIK VERSUS EKONOMI: Pemandangan Gedung Bursa Saham New York saat Kedua Dewan Perwakilan AS Nancy Pelosi mengumumkan pemakzulan Kamis (5/12). Salah satu prestasi Trump adalah ekonomi AS yang menguat. (AP Photo/Richard Drew)

JawaPos.com – Seberapa pun kerasnya Demokrat menyangkal motif politik dalam kasus pemakzulan, seluruh publik tak akan percaya. Pada akhirnya, upaya yang dilakukan Dewan Perwakilan AS digerakkan langsung oleh elite politik partai berlambang keledai itu. Trump sendiri sudah memilih tameng terhadap serangan politik Demokrat. Ekonomi.

Trump memang punya reputasi buruk dalam aspek politik dan moral. Namun, reputasinya di bidang ekonomi beda cerita. Trump adalah konglomerat yang mengeklaim dirinya pebisnis yang selalu menang dalam kompetisi apa pun.

Kenyataannya, kinerja ekonomi AS cemerlang di bawah kepemimpinannya. Jumat lalu pemerintah melaporkan penambahan angkatan kerja sebanyak 266.000 selama November. Angka pengangguran nasional pun turun menjadi 3,5 persen. Rekor terendah sejak 1969.

”Angka pengangguran terendah dalam beberapa tahun terakhir dan kami mungkin mencetak sejarah,” ujar Trump.

Trump menggunakan prestasi itu sebagai senjata politik. Dia mengeklaim proses pemakzulan menghalanginya untuk bekerja secara maksimal. Karena itu, potensi ekonomi AS belum mencapai maksimal.

”Tanpa pertunjukan horor dari sayap kiri radikal, ekonomi akan jauh lebih baik,” ujarnya.

Trump berharap pemilih punya pemikiran serupa. Yang paling penting adalah uang. Menurut dia, rakyat Amerika seharusnya lebih khawatir dengan isu rumah tangga sendiri daripada isu politik luar negeri.

”Percakapan telepon antara Trump dan presiden Ukraina tak memengaruhi kehidupan siapa pun (di AS, Red). Pekerjaan dengan gaji besarlah yang memengaruhinya,” ujar Brad Parscale, manajer kampanye Trump, kepada New York Times.

Sayang, tameng Trump tak terlalu mumpuni. Elektabilitas Trump di mata rakyat AS masih saja menurun. Menurut data terbaru, kepercayaan terhadap Trump turun 2 persen menjadi 41 persen. Tonny Fratto, pendiri lembaga humas Hamilton Place Strategies, mengatakan bahwa Trump bakal lebih populer jika tak punya terlalu banyak skandal.