Pemadam kebakaran berusaha mengendalikan kebakaran hutan di Moruya, New South Wales, Australia (PETER PARKS / AFP)

JawaPos.com – ”Untuk masa depan cemerlang,” teriak Jodie McDermott kepada tamu-tamu pesta tamannya di Desa Conjola Park. Pesta itu adalah perayaan tahun baru yang tertunda. Sebab, desa mereka terdampak kebakaran hutan saat malam tahun baru.

IKLAN

Pasangan McDermott maupun warga lain sudah kembali. Mereka menyaksikan buldoser datang dan meratakan rumah masing-masing. Termasuk rumah Jodie dan Jason. Rumah mereka juga hangus dilalap api.

Yang tersisa hanyalah bar di taman rumah tersebut. Karena itu, dia mengundang semua tetangga untuk berpesta. Kata Jodie, pesta tersebut juga dihelat sebagai tanda perpisahan dengan kenangan.

”Baguslah, atap rumah saya bocor. Sekarang saya tak usah khawatir lagi soal itu,” ujar Maree Fletcher, salah satu tamu pesta, kepada New York Times.

Kebakaran yang terjadi pekan lalu di Conjola Park sangat besar. Api dari kebakaran itu bisa melelehkan perahu berangka aluminium. Hanya, penduduk di daerah yang berjarak tiga jam dari Sydney, ibu kota New South Wales (NSW), itu menggunakan guyonan untuk melalui musibah tersebut.

Brian Walker, relawan pemadam kebakaran setempat, mengatakan bahwa banyak yang tak mengerti penderitaan yang dialami penduduk pedalaman. Hari itu dia berhasil menyelamatkan beberapa rumah. Tapi, rumahnya sendiri hangus beserta koleksi memorabilia penerbangan.

Tak lama setelah berbincang, senyumnya menguncup. Bibirnya bergetar dan tenggorokannya kering. Ketegarannya sementara menghilang beserta air mata yang serasa ingin jatuh. ”Sekarang saya tak tahu mau ke mana,” ujar Walker.

Masyarakat sudah muak dengan pemerintah yang bersikap seakan semua berjalan normal. Pemerintah bersikeras bahwa kebakaran hutan selalu terjadi setiap tahun. Padahal, jelas tahun ini berbeda.

Musim panas ini 1.800 rumah hangus karena kebakaran. Jelas berbeda jauh dengan jumlah 70 rumah yang hangus akibat kebakaran hutan tahun lalu. ”Kita tak bisa berpura-pura semua baik-baik saja,” tegas Perdana Menteri NSW Gladys Berejiklian.

Roger Park, pakar binatang dari Yowrie, tahu benar kengerian kebakaran tahun ini. Sebab, relawan kebakaran tersebut sudah berusaha menghalau api dari rumahnya sendirian. Selasa pekan lalu api datang bahkan sebelum peringatan mereka terima. Dia buru-buru mengirim keluarganya pergi dari kota tersebut.

”Suaranya seperti mesin jet pesawat dari jauh. Suara yang tak akan pernah Anda lupakan,” ungkap Park kepada BBC.

Untung, dia sudah mendapatkan pendidikan pemadaman api. Karena itu, dia berhasil mempertahankan rumah dan sebagian besar lahan peternakannya yang seluas 80 hektare. Namun, dia butuh 30 ribu liter air dari cadangan rumah untuk menghalau api.

”Saya bisa menyelamatkan anjing, kucing, ayam, dan peliharaan anak saya. Tapi, kami tak bisa banyak tertawa,” ungkapnya.

Kini banyak warga yang terlalu takut untuk pulang. Salah satunya Narelle Coady yang mengungsi di Batemans Bay. Perempuan yang berusia 54 tahun itu sudah mencoba untuk mempertahankan rumahnya pekan lalu.

”Saya tak bisa lagi. Saat itu saya tak bisa bernapas karena kekurangan oksigen,” ujarnya kepada Agence France-Presse.

Hingga saat ini, setidaknya 25 orang dan jutaan satwa menjadi korban musibah musim panas tersebut.

Editor : Edy Pramana

Reporter : (bil/c11/sof)