alexametrics
26.5 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Lysychansk Hancur akibat Pertempuran,Penduduk Tinggal di Ruang Bawah Tanah

Mobile_AP_Rectangle 1

KIEV, RADARJEMBER.ID – Lysychansk Kota di wilayah timur Ukraina yang pernah ditinggali 100.000 orang itu hancur akibat pertempuran. Setelah dikuasai Rusia, kota tersebut sunyi seperti kota mati. Banyak gedung hangus terbakar, kendaraan terbalik di jalanan dan puing-puing menjadi bukti sengitnya pertempuran di sana. Penduduknya kini tinggal di tempat perlindungan dan ruang bawah tanah.

BACA JUGA : Khawatir Disalahgunakan, Guru Besar UGM Tak Sepakat Ganja Dilegalkan

Seorang penduduk Lysychansk berusia 45 tahun bernama Tatiana Glushenko mengatakan, orang-orang masih bersembunyi di ruang bawah tanah dan tempat perlindungan bom. Dia mengatakan bersama keluarganya memutuskan tetap bertahan di Lysychansk karena khawatir keselamatan mereka jika pindah ke daerah lain di Ukraina.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Seluruh Ukraina sedang dihujani roket. Ukraina Barat, Ukraina Tengah, Dnipro, Kiev, di mana-mana. Jadi kami memutuskan tidak membahayakan jiwa kami dan tetap di sini, setidaknya di rumah,” ungkapnya.

Namun, dia berharap perdamaian akan kembali ke kotanya dan akan ada ketertiban. Sejak mengalihkan agresinya dari ibu kota Kiev di awal invasi, Rusia memfokuskan serangan ke Donbas, wilayah industri yang mencakup Luhansk dan Donetsk, di mana kelompok separatis pro-Moskow telah bertempur dengan tentara Ukraina sejak 2014.

Rusia mengatakan perebutan Lysychansk pada Minggu, sepekan setelah kota Sievierdonetsk jatuh, memberi mereka kekuasaan di Luhansk, salah satu tujuan utama perang mereka di Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan operasi militer khusus ke negara tetangganya itu pada 24 Februari untuk menjaga keamanan Rusia dan melindungi orang-orang berbahasa Rusia di Ukraina.

- Advertisement -

KIEV, RADARJEMBER.ID – Lysychansk Kota di wilayah timur Ukraina yang pernah ditinggali 100.000 orang itu hancur akibat pertempuran. Setelah dikuasai Rusia, kota tersebut sunyi seperti kota mati. Banyak gedung hangus terbakar, kendaraan terbalik di jalanan dan puing-puing menjadi bukti sengitnya pertempuran di sana. Penduduknya kini tinggal di tempat perlindungan dan ruang bawah tanah.

BACA JUGA : Khawatir Disalahgunakan, Guru Besar UGM Tak Sepakat Ganja Dilegalkan

Seorang penduduk Lysychansk berusia 45 tahun bernama Tatiana Glushenko mengatakan, orang-orang masih bersembunyi di ruang bawah tanah dan tempat perlindungan bom. Dia mengatakan bersama keluarganya memutuskan tetap bertahan di Lysychansk karena khawatir keselamatan mereka jika pindah ke daerah lain di Ukraina.

“Seluruh Ukraina sedang dihujani roket. Ukraina Barat, Ukraina Tengah, Dnipro, Kiev, di mana-mana. Jadi kami memutuskan tidak membahayakan jiwa kami dan tetap di sini, setidaknya di rumah,” ungkapnya.

Namun, dia berharap perdamaian akan kembali ke kotanya dan akan ada ketertiban. Sejak mengalihkan agresinya dari ibu kota Kiev di awal invasi, Rusia memfokuskan serangan ke Donbas, wilayah industri yang mencakup Luhansk dan Donetsk, di mana kelompok separatis pro-Moskow telah bertempur dengan tentara Ukraina sejak 2014.

Rusia mengatakan perebutan Lysychansk pada Minggu, sepekan setelah kota Sievierdonetsk jatuh, memberi mereka kekuasaan di Luhansk, salah satu tujuan utama perang mereka di Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan operasi militer khusus ke negara tetangganya itu pada 24 Februari untuk menjaga keamanan Rusia dan melindungi orang-orang berbahasa Rusia di Ukraina.

KIEV, RADARJEMBER.ID – Lysychansk Kota di wilayah timur Ukraina yang pernah ditinggali 100.000 orang itu hancur akibat pertempuran. Setelah dikuasai Rusia, kota tersebut sunyi seperti kota mati. Banyak gedung hangus terbakar, kendaraan terbalik di jalanan dan puing-puing menjadi bukti sengitnya pertempuran di sana. Penduduknya kini tinggal di tempat perlindungan dan ruang bawah tanah.

BACA JUGA : Khawatir Disalahgunakan, Guru Besar UGM Tak Sepakat Ganja Dilegalkan

Seorang penduduk Lysychansk berusia 45 tahun bernama Tatiana Glushenko mengatakan, orang-orang masih bersembunyi di ruang bawah tanah dan tempat perlindungan bom. Dia mengatakan bersama keluarganya memutuskan tetap bertahan di Lysychansk karena khawatir keselamatan mereka jika pindah ke daerah lain di Ukraina.

“Seluruh Ukraina sedang dihujani roket. Ukraina Barat, Ukraina Tengah, Dnipro, Kiev, di mana-mana. Jadi kami memutuskan tidak membahayakan jiwa kami dan tetap di sini, setidaknya di rumah,” ungkapnya.

Namun, dia berharap perdamaian akan kembali ke kotanya dan akan ada ketertiban. Sejak mengalihkan agresinya dari ibu kota Kiev di awal invasi, Rusia memfokuskan serangan ke Donbas, wilayah industri yang mencakup Luhansk dan Donetsk, di mana kelompok separatis pro-Moskow telah bertempur dengan tentara Ukraina sejak 2014.

Rusia mengatakan perebutan Lysychansk pada Minggu, sepekan setelah kota Sievierdonetsk jatuh, memberi mereka kekuasaan di Luhansk, salah satu tujuan utama perang mereka di Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan operasi militer khusus ke negara tetangganya itu pada 24 Februari untuk menjaga keamanan Rusia dan melindungi orang-orang berbahasa Rusia di Ukraina.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/