alexametrics
29.6 C
Jember
Saturday, 20 August 2022

Kurangi Emisi Karbon Tak Hanya dengan Teknologi Kendaraan Listrik

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Ketua asosiasi industri otomotif ANFIA Paolo Scudieri mengatakan bahwa kendaraan listrik dinilai bukan satu-satunya cara efektif untuk mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh industri mobil, menurut pandangan dari asosiasi otomotif Italia, Selasa (31/5) waktu setempat.

Saat membuka pertemuan ANFIA, Scudieri mengatakan bahwa teknologi lain dapat membantu mendekarbonisasi industri serta memenuhi target emisi yang sama sambil mempertahankan kecakapan dan pekerjaan di Italia.

“Saya mengacu pada kontribusi nyata bahwa biofuel dan bahan bakar sintetis, serta hidrogen, dapat memberikan cara itu,” katanya. Dia menambahkan bahwa industri otomotif Italia sudah melakukan investasi besar pada hidrogen.

Mobile_AP_Rectangle 2

Biofuel dan bahan bakar sintetis, disebut sebagai e-fuel, sedang dikembangkan untuk memungkinkan peralihan dari penggunaan kendaraan bermesin bakar daripada beralih secara besar-besaran ke kendaraan listrik baterai (BEV).

Jika sangat berfokus pada teknologi BEV, maka, menurut Scudieri, akan menimbulkan risiko pada sekitar 73.000 pekerjaan di Italia di tahun-tahun mendatang, yang tidak akan dikompensasi oleh sekitar 6.000 pekerjaan baru yang diharapkan akan tercipta dengan adanya mobilitas listrik.

Scudieri menambahkan, sekitar 450 pembuat suku cadang mobil di Italia, dari total 2.200, berisiko gulung tikar karena mereka belum mulai mengalihkan produksi ke teknologi listrik.
Komisi Eropa telah mengusulkan pengurangan 100 persen emisi CO2 pada 2035 untuk industri. Target tersebut, yang merupakan bagian dari paket kebijakan perubahan iklim yang diluncurkan tahun lalu, tidak memungkinkan untuk menjual kendaraan bertenaga bahan bakar fosil baru di blok 27 negara tersebut.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Ketua asosiasi industri otomotif ANFIA Paolo Scudieri mengatakan bahwa kendaraan listrik dinilai bukan satu-satunya cara efektif untuk mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh industri mobil, menurut pandangan dari asosiasi otomotif Italia, Selasa (31/5) waktu setempat.

Saat membuka pertemuan ANFIA, Scudieri mengatakan bahwa teknologi lain dapat membantu mendekarbonisasi industri serta memenuhi target emisi yang sama sambil mempertahankan kecakapan dan pekerjaan di Italia.

“Saya mengacu pada kontribusi nyata bahwa biofuel dan bahan bakar sintetis, serta hidrogen, dapat memberikan cara itu,” katanya. Dia menambahkan bahwa industri otomotif Italia sudah melakukan investasi besar pada hidrogen.

Biofuel dan bahan bakar sintetis, disebut sebagai e-fuel, sedang dikembangkan untuk memungkinkan peralihan dari penggunaan kendaraan bermesin bakar daripada beralih secara besar-besaran ke kendaraan listrik baterai (BEV).

Jika sangat berfokus pada teknologi BEV, maka, menurut Scudieri, akan menimbulkan risiko pada sekitar 73.000 pekerjaan di Italia di tahun-tahun mendatang, yang tidak akan dikompensasi oleh sekitar 6.000 pekerjaan baru yang diharapkan akan tercipta dengan adanya mobilitas listrik.

Scudieri menambahkan, sekitar 450 pembuat suku cadang mobil di Italia, dari total 2.200, berisiko gulung tikar karena mereka belum mulai mengalihkan produksi ke teknologi listrik.
Komisi Eropa telah mengusulkan pengurangan 100 persen emisi CO2 pada 2035 untuk industri. Target tersebut, yang merupakan bagian dari paket kebijakan perubahan iklim yang diluncurkan tahun lalu, tidak memungkinkan untuk menjual kendaraan bertenaga bahan bakar fosil baru di blok 27 negara tersebut.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Ketua asosiasi industri otomotif ANFIA Paolo Scudieri mengatakan bahwa kendaraan listrik dinilai bukan satu-satunya cara efektif untuk mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh industri mobil, menurut pandangan dari asosiasi otomotif Italia, Selasa (31/5) waktu setempat.

Saat membuka pertemuan ANFIA, Scudieri mengatakan bahwa teknologi lain dapat membantu mendekarbonisasi industri serta memenuhi target emisi yang sama sambil mempertahankan kecakapan dan pekerjaan di Italia.

“Saya mengacu pada kontribusi nyata bahwa biofuel dan bahan bakar sintetis, serta hidrogen, dapat memberikan cara itu,” katanya. Dia menambahkan bahwa industri otomotif Italia sudah melakukan investasi besar pada hidrogen.

Biofuel dan bahan bakar sintetis, disebut sebagai e-fuel, sedang dikembangkan untuk memungkinkan peralihan dari penggunaan kendaraan bermesin bakar daripada beralih secara besar-besaran ke kendaraan listrik baterai (BEV).

Jika sangat berfokus pada teknologi BEV, maka, menurut Scudieri, akan menimbulkan risiko pada sekitar 73.000 pekerjaan di Italia di tahun-tahun mendatang, yang tidak akan dikompensasi oleh sekitar 6.000 pekerjaan baru yang diharapkan akan tercipta dengan adanya mobilitas listrik.

Scudieri menambahkan, sekitar 450 pembuat suku cadang mobil di Italia, dari total 2.200, berisiko gulung tikar karena mereka belum mulai mengalihkan produksi ke teknologi listrik.
Komisi Eropa telah mengusulkan pengurangan 100 persen emisi CO2 pada 2035 untuk industri. Target tersebut, yang merupakan bagian dari paket kebijakan perubahan iklim yang diluncurkan tahun lalu, tidak memungkinkan untuk menjual kendaraan bertenaga bahan bakar fosil baru di blok 27 negara tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/