radar jember - Film CODA (2021), karya Sian Heder yang menggetarkan hati, merupakan salah satu pencapaian sinema yang paling menyentuh dan penting dalam dekade terakhir.
CODA, singkatan dari Child of Deaf Adults, adalah remake dari film Prancis La Famille Bélier (2014), namun alih-alih sekadar menyalin, versi Hollywood ini justru menyuguhkan pendekatan yang jauh lebih inklusif dan otentik terhadap komunitas Tuli.
Mengisahkan Ruby Rossi (Emilia Jones), satu-satunya anggota keluarga yang dapat mendengar dalam keluarganya, film ini mengeksplorasi dinamika yang kompleks antara kecintaan Ruby terhadap musik dan tanggung jawab terhadap keluarganya yang seluruhnya Tuli.
Yang membuat CODA benar-benar unik adalah pendekatan produksinya yang penuh penghormatan terhadap komunitas Tuli. Para pemeran utama, Marlee Matlin, Troy Kotsur, dan Daniel Durant adalah aktor Tuli sungguhan, yang menjadikan representasi dalam film ini bukan hanya akurat, tetapi juga sangat menyentuh dan penuh kejujuran emosional.
Film ini tidak mencoba "menerjemahkan" dunia Tuli kepada penonton yang bisa mendengar, melainkan mengajak kita untuk masuk dan memahami realitas kehidupan mereka dari dalam.
Bahkan, banyak adegan dibiarkan dalam keheningan, memaksa penonton untuk merasakan dunia dari perspektif para karakter Tuli. Sebuah pendekatan sinematik yang jarang dilakukan dengan cara sekuat ini.
Troy Kotsur membuat sejarah sebagai aktor Tuli pria pertama yang memenangkan Academy Award untuk kategori Aktor Pendukung Terbaik, sebuah kemenangan yang tak hanya mengharukan, tapi juga monumental dalam perjalanan representasi disabilitas dalam perfilman mainstream.
Marlee Matlin, yang sebelumnya telah memenangkan Oscar pada 1986 untuk Children of a Lesser God, menolak ikut bermain dalam CODA kecuali jika studio setuju untuk memilih aktor Tuli lainnya sebagai anggota keluarga, sebuah sikap yang pada akhirnya menyelamatkan keautentikan film ini.
Dalam proses produksinya, sang sutradara Sian Heder menghadapi tantangan besar untuk memastikan komunikasi yang lancar antara tim produksi dan para aktor Tuli.
Ia bekerja sama dengan pelatih ASL (American Sign Language) dan interpreter selama syuting.
Salah satu adegan paling menggetarkan hati adalah saat Ruby menyanyikan dan menandatangani lagu “Both Sides Now” di audisinya. Kamera menyorot wajah ayahnya, Frank (Troy Kotsur), yang tidak bisa mendengar suara Ruby, namun merasakan getaran emosional dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh anaknya.
Dalam momen tersebut, film CODA melampaui batasan bahasa, menegaskan bahwa komunikasi bukan hanya soal suara, tapi tentang koneksi manusia yang tulus.
Fakta menarik lainnya adalah bahwa CODA adalah film pertama dari layanan streaming (Apple TV+) yang memenangkan Best Picture di Academy Awards. Kemenangan ini membuktikan bahwa cerita yang inklusif dan penuh empati bisa memiliki kekuatan luar biasa di panggung industri hiburan global.
Film ini juga memenangkan Best Adapted Screenplay untuk Sian Heder dan Best Supporting Actor untuk Troy Kotsur, menjadikannya salah satu film dengan kemenangan paling bersejarah dalam ajang Oscar 2022.
Melalui CODA, kita tidak hanya disuguhi kisah keluarga dan musik, tetapi juga diajak untuk melihat bahwa keberagaman bukanlah beban dalam bercerita, melainkan sumber kekuatan yang bisa mengguncang dan menginspirasi jutaan orang. Sebuah film yang sederhana dalam format, namun revolusioner dalam dampaknya.
penulis : Zahra Fadia Siti Haliza
Editor : M. Ainul Budi