alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Zamroni, Pria di Balik Layar Film ‘Sekar’ Wajah Kearifan Lokal Jember

Baru Pertama Menyelami Film Fiksi, Tantangannya Luar Biasa

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Film yang berjudul ‘Sekar’ karya dosen dan mahasiswa Program Studi Televisi dan Film (PSFT) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember (Unej) itu, berhasil menggaet banyak penonton. Film fiksi roman ini dianggap berhasil dan mewakili wajah kearifan lokal Jember. Visualnya yang banyak menyoroti kekayaan dan objek wisata di Jember, turut mendukung promosi pariwisata.

Malam itu, sekitar pukul 23.00, wajah Zamroni terlihat bersemangat. Saat itu, gala premier film ‘Sekar’ baru saja rampung. Penontonnya membludak. Tiket terjual ludes. “Ini karya fiksi pertama saya,” tutur Zamroni, saat keluar dari ruangan tempat diskusi film.

Film ini mulai digarap sejak 2014 silam. Rencananya, ia akan berkolaborasi dengan mahasiswa. Namun, gagal. Sebab, berbagai kendala terjadi di tahun itu. Selain itu, ia juga belum melihat potensi Jember yang sudah mengalami banyak perkembangan. “Saya belum menemukan orang yang pas memainkan karakter tokoh dalam naskah saya. Jadi, eman,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Naskah yang sempat tidur panjang ini pun mulai digarap setelah Zamroni diingatkan oleh Alif, mahasiswanya yang saat ini menjadi asisten sutradara (astrada) film ‘Sekar’. “Akhirnya dia yang menjadi astrada,” sambungnya.

Memulai kembali, Zamroni harus melakukan banyak pembaruan pada film tersebut. Mulai dari bahasa, dialog yang dituturkan, dan beberapa bagian tambahan yang sesuai dengan kondisi saat ini. “Saya harus terus melakukan updating. Tanpa harus mengubah jalan cerita,” ungkapnya.

Bagi Zamroni, karya fiksi ini sangat berkesan. Sebab, ia memberanikan diri untuk keluar dari apa yang menjadi jati dirinya dalam dunia perfilman. Yakni film dokumenter. Apalagi, keduanya memiliki dua perbedaan yang sangat jauh.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Film yang berjudul ‘Sekar’ karya dosen dan mahasiswa Program Studi Televisi dan Film (PSFT) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember (Unej) itu, berhasil menggaet banyak penonton. Film fiksi roman ini dianggap berhasil dan mewakili wajah kearifan lokal Jember. Visualnya yang banyak menyoroti kekayaan dan objek wisata di Jember, turut mendukung promosi pariwisata.

Malam itu, sekitar pukul 23.00, wajah Zamroni terlihat bersemangat. Saat itu, gala premier film ‘Sekar’ baru saja rampung. Penontonnya membludak. Tiket terjual ludes. “Ini karya fiksi pertama saya,” tutur Zamroni, saat keluar dari ruangan tempat diskusi film.

Film ini mulai digarap sejak 2014 silam. Rencananya, ia akan berkolaborasi dengan mahasiswa. Namun, gagal. Sebab, berbagai kendala terjadi di tahun itu. Selain itu, ia juga belum melihat potensi Jember yang sudah mengalami banyak perkembangan. “Saya belum menemukan orang yang pas memainkan karakter tokoh dalam naskah saya. Jadi, eman,” katanya.

Naskah yang sempat tidur panjang ini pun mulai digarap setelah Zamroni diingatkan oleh Alif, mahasiswanya yang saat ini menjadi asisten sutradara (astrada) film ‘Sekar’. “Akhirnya dia yang menjadi astrada,” sambungnya.

Memulai kembali, Zamroni harus melakukan banyak pembaruan pada film tersebut. Mulai dari bahasa, dialog yang dituturkan, dan beberapa bagian tambahan yang sesuai dengan kondisi saat ini. “Saya harus terus melakukan updating. Tanpa harus mengubah jalan cerita,” ungkapnya.

Bagi Zamroni, karya fiksi ini sangat berkesan. Sebab, ia memberanikan diri untuk keluar dari apa yang menjadi jati dirinya dalam dunia perfilman. Yakni film dokumenter. Apalagi, keduanya memiliki dua perbedaan yang sangat jauh.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Film yang berjudul ‘Sekar’ karya dosen dan mahasiswa Program Studi Televisi dan Film (PSFT) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember (Unej) itu, berhasil menggaet banyak penonton. Film fiksi roman ini dianggap berhasil dan mewakili wajah kearifan lokal Jember. Visualnya yang banyak menyoroti kekayaan dan objek wisata di Jember, turut mendukung promosi pariwisata.

Malam itu, sekitar pukul 23.00, wajah Zamroni terlihat bersemangat. Saat itu, gala premier film ‘Sekar’ baru saja rampung. Penontonnya membludak. Tiket terjual ludes. “Ini karya fiksi pertama saya,” tutur Zamroni, saat keluar dari ruangan tempat diskusi film.

Film ini mulai digarap sejak 2014 silam. Rencananya, ia akan berkolaborasi dengan mahasiswa. Namun, gagal. Sebab, berbagai kendala terjadi di tahun itu. Selain itu, ia juga belum melihat potensi Jember yang sudah mengalami banyak perkembangan. “Saya belum menemukan orang yang pas memainkan karakter tokoh dalam naskah saya. Jadi, eman,” katanya.

Naskah yang sempat tidur panjang ini pun mulai digarap setelah Zamroni diingatkan oleh Alif, mahasiswanya yang saat ini menjadi asisten sutradara (astrada) film ‘Sekar’. “Akhirnya dia yang menjadi astrada,” sambungnya.

Memulai kembali, Zamroni harus melakukan banyak pembaruan pada film tersebut. Mulai dari bahasa, dialog yang dituturkan, dan beberapa bagian tambahan yang sesuai dengan kondisi saat ini. “Saya harus terus melakukan updating. Tanpa harus mengubah jalan cerita,” ungkapnya.

Bagi Zamroni, karya fiksi ini sangat berkesan. Sebab, ia memberanikan diri untuk keluar dari apa yang menjadi jati dirinya dalam dunia perfilman. Yakni film dokumenter. Apalagi, keduanya memiliki dua perbedaan yang sangat jauh.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/