TEATER MANDIRI: Pentas teater yang di sutradarai oleh Putu Wijaya di Gedung kesenian Cak Durasim Surabaya, Minggu (24/11). Pertunjukan itu tentang konflik. (Hariyanto Teng/Jawa Pos)

JawaPos.com – Dua orang berkaus hitam duduk di tengah panggung. Tangan mereka memegang koran. Sembari membolak-balikkan halaman koran, mereka berdiskusi tentang sembako yang mahal, nilai tukar dolar yang terus naik, hingga konflik yang berkepanjangan. Mereka sepakat bahwa semua itu terjadi karena politisi yang tidak becus bekerja dan terus berantem satu sama lain. ’’Hanya damai yang dapat menjemput damai,’’ ujar keduanya berbarengan.

IKLAN

Suara gong lantas menggema di seluruh sudut ruangan. Adegan berganti. Putu Wijaya yang duduk di kursi roda tampil bermonolog. ’’Saya tidak memahami manusia,’’ katanya. Menurut dia, manusia selalu saja berkonflik. Terutama mereka yang masih muda. ’’Sebagai orang yang sudah berusia 100 tahun, ingin rasanya saya memakan daging anak-anak muda itu,’’ ucapnya dengan nada geram.

Dua adegan tersebut merupakan pembuka Peace, pertunjukan teater yang disutradarai langsung oleh Putu Wijaya. Pertunjukan yang melibatkan tiga kelompok, yakni Teater Mandiri, Teater Wilwatikta, dan Teater Meimura, itu menampilkan kisah sehari-hari. Misalnya, kehidupan politisi, pengacara, serta seluk-beluk kehidupan berumah tangga. Semua cerita ditampilkan dalam empat babak.

Pada babak pertama, diceritakan seorang gubernur yang haus kekuasaan. Apa pun dia tempuh untuk mempertahankan kekuasaan tersebut. Suatu ketika, sang gubernur didemo masyarakat. Namun, demo itu tidak berlangsung lama. Ketika dia mengangkat sebuah kursi, masyarakat menjadi diam. ’’Kursi itu memang segala-galanya. Kalian tidak bisa apa-apa dibanding kursi,’’ ujar gubernur, lantas tertawa terbahak-bahak.

Pada babak kedua dan ketiga, diceritakan kehidupan rumah tangga keluarga Wayan yang diwarnai konflik. Bahkan karena hal sepele. Misalnya, mencari asisten rumah tangga. Untuk babak keempat, diceritakan kisah pengacara muda. Dia mengaku kerap berlaku tidak adil terhadap yang dia bela. ’’Demi mendapat sebuah kemenangan, aku tidak perlu menggubris apa itu keadilan!,’’ teriak pengacara muda itu dengan raut wajah marah.

Dengan total 47 pemain dan tiga pengatur cahaya serta olah suara, pertunjukan Teater Peace terkesan sukses. Terbukti, penonton langsung bertepuk tangan dengan kencang seusai pertunjukan tersebut selesai. Sang sutradara, Putu Wijaya, menyatakan rasa senangnya terhadap apresiasi itu. Terlebih, dia ikut menjadi aktor dalam pertunjukan tersebut.

Dia membenarkan bahwa adegannya memang diambil dari kisah saat ini. Seperti politisi yang menghalalkan segala cara untuk bisa meraih jabatan. Padahal, kerjanya tidak sebanding dengan gaji yang diterima. ’’Politisi di sini bisa diibaratkan pencetus konflik karena konflik memang seringkali berawal dari proses politik’’ tutur maestro teater berusia 75 tahun itu.

Dengan teater tersebut, Putu ingin menyampaikan bahwa sebuah konflik harus diatasi melalui jalan damai. Bukan dengan jalan peperangan. ’’Hanya binatang yang mengatasi konflik dengan sebuah peperangan,’’ tegasnya. Sebelumnya, Teater Peace juga telah dipentaskan di dua kota lain. Yakni, Jakarta dan Denpasar dengan alur cerita yang berbeda. Namun tetap dalam unsur yang sama.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : nas/c13/any