Nindy di pemakaman sang ayah. (Abdul Rahman/JawaPos.com)

JawaPos.com – Meninggalnya Fadli Yunis pada Minggu kemarin membuat penyanyi Nindy Ayunda merasa sangat sedih. Kesedihan Nindy akan wafatnya sang ayah masih begitu terasa saat ditemui awak media, Senin (25/11) di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

IKLAN

Nindy menceritakan riwayat sakit yang dialami ayahnya. Menurut penuturan Nindy, ayahnya mengalami komplikasi penyakit sudah cukup lama.

“Kita memang mengobati papa ini pelan-pelan karena memang beliau ada gula, hipertensi, dan jantung. Sebelumnya saya memang konsentrasi pada yang kasat mata dulu,” tutur Nindy.

Belakangan, kondisi badan almarhum memang suka mengalami demam. Setelah dilakukan pemeriksaan mendalam oleh dokter, ternyata ginjal ayah Nindy juga bermasalah. Tak hanya itu, dokter juga mendeteksi detak jantung almarhum kurang normal.

“Pas periksa-periksa pun ternyata detak jantungnya ada yang naik turun tapi beliau tidak merasakan apa-apa,” tuturnya.

Nindy mengaku menyesal tidak bisa mendampingi almarhum di detik-detik terakhir sebelum meninggal. Pada saat itu kebetulan Nindy sedang mengantarkan anaknya.

“Yang mendampingi (di detik-detik terakhir, Red) adikku. Kebetulan dia baru pulang dari Australia, dia yang tungguin. Adik yang bawa ayah ke rumah sakit. Saya kebetulan lagi nagnterin anak. Biasanya hari minggu kita berada di rumah (ayah, Red). Saya menyesal kenapa nggak ada,” tutur Nindy sambil menangis.

Di matanya, sosok Fadli adalah ayah yang sangat luar biasa. Almarhum nyaris tidak pernah mengeluhkan soal sakitnya meskipun sakit yang dialami bukan lah penyakit sepele.

“Beliau luar biasa. Tidak pernah menyusahkan, sakit pun kita tidak pernah dikasih tahu. Dia selalu merasa dirinya kuat, sehat. Aku senangnya sudah memenuhi apa yang beliau mau. Pulang ke Padang, pengin makan nasi kapau di Bukit Tinggi,” tuturnya.

Nindy sejatinya sudah merasakan firasat bahwa almarhum akan meninggalkan dirinya dan keluarga. Namun hal itu itu berusaha ditepisnya. Nindy berusaha berpikiran positif. Akan tetapi firasat itu semakin kuat setelah almarhum kerap meminta maaf kepada orang-orang yang berada di dekatnya.

“Dia suka kirim-kirim tentamlng kematian gitu. Suka memeluk, nangis, minta maaf,” tandas Nindy.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Abdul Rahman