alexametrics
28.2 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Kisah Unik Nelayan Asal Padang Nikahi Bule Perancis

Mobile_AP_Rectangle 1

JawaPos.com – Kecintaannya terhadap keindahan alam dan kebudayaan Minang, menuntun Clementine Vincent Gustian, 20, perempuan cantik kewarganegaraan Perancis, menemukan tambatan hatinya dengan seorang pemuda asal Bungus Teluk Kabung, Padang, Danil Gustian, 24, yang sehari-harinya bekerja sebagai pembawa boat antar pulau dan nelayan.

Di salah satu rumah yang dikelilingi hamparan persawahan dan perbukitan di Teluk Ka­bung Utara, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, terlihat ramai.

Ya, inilah prosesi jelang baralek gadang Clementine Vincent Gustian yang akrab disapa Clem dengan Danil Gustian. Sedianya pesta digelar 28 Juli mendatang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Clem didampingi sang suami Danil Gustian sempat terlihat malu-malu ketika Padang Ekspres (Jawa Pos Group) mewawancarainya di rumah tersebut, Senin (22/7).

Perempuan yang sudah fasih berbahasa Indonesia ini, sesekali melirik sang suami yang resmi menikahinya pada Februari 2019 lalu.

“Saya pertama kali datang ke Indonesia tahun 2007 saat berusia 8 tahun. Saya bersama kedua orangtua memang suka menjelajahi beberapa daerah di dunia. Kami bahkan pernah ke Afrika. Kalau di Indonesia, daerah pertama kali yang kami kunjungi yaitu Bali, karena you know kan Bali,” tanyanya.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, Clem langsung merasa jatuh cinta. “Waktu itu, kami kurang lebih sekitar 1 bulan menghabiskan liburan di Bali. Saya tidak pernah melupakan segala kenangan di sana,” ungkap perempuan bertato gambar Peta Indonesia di bagian tangannya itu. Dia sangat takjub atas kebudayaan yang berbeda dan bahasa antar-daerah juga berbeda. “Kalau di Perancis kebudayaan kami hanya satu saja,” ucapnya.

Tahun 2009, dia bersama keluarganya kembali mengunjungi Indonesia, tepatnya Pulau Jawa. Saking betahnya, ia bersama keluarganya menjadwalkan setiap ta­hun menjelajahi setiap pulau di Indonesia. “Khusus Ke­pulauan Mentawai, saya ba­ru mengunjungi pada ta­hun 2012,” ungkapnya.

Namun entah mengapa, di antara pulau-pulau di Indonesia, dia merasa sesuatu yang berbeda dan lebih dekat dengan Sumbar, khususnya Bungus. Dia sering pergi berwisata ke pulau-pulau lewat Bungus.

“Jadi, kami kalau berpergian ke Mentawai atau Sungaipisang sering lewat Bungus. Mungkin karena keseringan, akhirnya suka aja sama daerah ini. Apalagi saya juga senang dengan kawasan pantai,” tukasnya.

Perempuan asal La Rochelle, Perancis ini melanjutkan, awal pertama berkomunikasi dengan Danil via Instagram tahun 2015. Danil berulang kali mengirim pesan direct message (DM) di Instagram miliknya.

Awal-awalnya tak diindahkannya. “Awalnya, saya lama merespons karena akun Instagram beliau (Danil, red) itu private akun,” akunya.

Lama kelamaan, hati Clem luluh juga melihat kegi­gihan Danil. Dia mulai merespons dengan membalas DM Danil. “Ya awalnya begitu saja, kami cuma berkomunikasi via pesan DM. Dia ada di Bungus dan saya di Perancis,” tukas mahasiswa La Flash di La Rochelle jurusan S-1 Sastra Indonesia ini.

Pertemuan Clem dengan Danil sendiri terjadi tahun 2017. Waktu itu, Clem bersama orangtuanya mengunjungi salah satu pulau dekat Pulau Pasumpahan via Bungus. Saat menunggu keberangkatan itulah, Clem disapa seorang lelaki yang tidak dikenalnya.

“Awalnya, dia (Danil, red) sempat memanggil saya. Namun karena saya sedang asyik bermain dengan salah seorang teman kecil, jadi saya tidak mendengarnya,” kenangnya.

Kemudian Danil pun bercerita dan menyebut Clem sombong. Mendengar itu, Clem tersadar dan memandang pria tersebut. “Entah mengapa setelah saya menatap dia (Danil, red) untuk pertama kalinya, saya merasakan jatuh cinta. Saya pun terdiam tanpa kata begitu juga dia,” tukas Clem malu-malu.

Pertemuan berikutnya berlangsung keesokan harinya. Keduanya naik perahu boat untuk pergi ke salah satu pulau. ”Di tengah laut, mesin boat mati, sehingga kami terjebak di tengah laut. Saat momen itu, dia (Danil, red) mengungkapkan perasaannya,” ujarnya.

Sejak saat itu, Clem memperkenalkan Danil kepada orangtuanya. Entah mengapa, kedua orangtuanya langsung suka. “Bahkan, mama sudah anggap dia (Danil, red) seperti anaknya sendiri waktu itu,” ujar penyuka rendang ini.

Hari-hari berat sempat dirasakan Clem dan Danil. Keduanya harus menjalani hubungan jarak jauh sekitar 6 bulan, karena Clem harus kembali ke Perancis melanjutkan kuliah S-1nya. “Jadi waktu LDR itu, kami hanya berkomitmen dengan teleponan dan video call,” tukasnya.

- Advertisement -

JawaPos.com – Kecintaannya terhadap keindahan alam dan kebudayaan Minang, menuntun Clementine Vincent Gustian, 20, perempuan cantik kewarganegaraan Perancis, menemukan tambatan hatinya dengan seorang pemuda asal Bungus Teluk Kabung, Padang, Danil Gustian, 24, yang sehari-harinya bekerja sebagai pembawa boat antar pulau dan nelayan.

Di salah satu rumah yang dikelilingi hamparan persawahan dan perbukitan di Teluk Ka­bung Utara, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, terlihat ramai.

Ya, inilah prosesi jelang baralek gadang Clementine Vincent Gustian yang akrab disapa Clem dengan Danil Gustian. Sedianya pesta digelar 28 Juli mendatang.

Clem didampingi sang suami Danil Gustian sempat terlihat malu-malu ketika Padang Ekspres (Jawa Pos Group) mewawancarainya di rumah tersebut, Senin (22/7).

Perempuan yang sudah fasih berbahasa Indonesia ini, sesekali melirik sang suami yang resmi menikahinya pada Februari 2019 lalu.

“Saya pertama kali datang ke Indonesia tahun 2007 saat berusia 8 tahun. Saya bersama kedua orangtua memang suka menjelajahi beberapa daerah di dunia. Kami bahkan pernah ke Afrika. Kalau di Indonesia, daerah pertama kali yang kami kunjungi yaitu Bali, karena you know kan Bali,” tanyanya.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, Clem langsung merasa jatuh cinta. “Waktu itu, kami kurang lebih sekitar 1 bulan menghabiskan liburan di Bali. Saya tidak pernah melupakan segala kenangan di sana,” ungkap perempuan bertato gambar Peta Indonesia di bagian tangannya itu. Dia sangat takjub atas kebudayaan yang berbeda dan bahasa antar-daerah juga berbeda. “Kalau di Perancis kebudayaan kami hanya satu saja,” ucapnya.

Tahun 2009, dia bersama keluarganya kembali mengunjungi Indonesia, tepatnya Pulau Jawa. Saking betahnya, ia bersama keluarganya menjadwalkan setiap ta­hun menjelajahi setiap pulau di Indonesia. “Khusus Ke­pulauan Mentawai, saya ba­ru mengunjungi pada ta­hun 2012,” ungkapnya.

Namun entah mengapa, di antara pulau-pulau di Indonesia, dia merasa sesuatu yang berbeda dan lebih dekat dengan Sumbar, khususnya Bungus. Dia sering pergi berwisata ke pulau-pulau lewat Bungus.

“Jadi, kami kalau berpergian ke Mentawai atau Sungaipisang sering lewat Bungus. Mungkin karena keseringan, akhirnya suka aja sama daerah ini. Apalagi saya juga senang dengan kawasan pantai,” tukasnya.

Perempuan asal La Rochelle, Perancis ini melanjutkan, awal pertama berkomunikasi dengan Danil via Instagram tahun 2015. Danil berulang kali mengirim pesan direct message (DM) di Instagram miliknya.

Awal-awalnya tak diindahkannya. “Awalnya, saya lama merespons karena akun Instagram beliau (Danil, red) itu private akun,” akunya.

Lama kelamaan, hati Clem luluh juga melihat kegi­gihan Danil. Dia mulai merespons dengan membalas DM Danil. “Ya awalnya begitu saja, kami cuma berkomunikasi via pesan DM. Dia ada di Bungus dan saya di Perancis,” tukas mahasiswa La Flash di La Rochelle jurusan S-1 Sastra Indonesia ini.

Pertemuan Clem dengan Danil sendiri terjadi tahun 2017. Waktu itu, Clem bersama orangtuanya mengunjungi salah satu pulau dekat Pulau Pasumpahan via Bungus. Saat menunggu keberangkatan itulah, Clem disapa seorang lelaki yang tidak dikenalnya.

“Awalnya, dia (Danil, red) sempat memanggil saya. Namun karena saya sedang asyik bermain dengan salah seorang teman kecil, jadi saya tidak mendengarnya,” kenangnya.

Kemudian Danil pun bercerita dan menyebut Clem sombong. Mendengar itu, Clem tersadar dan memandang pria tersebut. “Entah mengapa setelah saya menatap dia (Danil, red) untuk pertama kalinya, saya merasakan jatuh cinta. Saya pun terdiam tanpa kata begitu juga dia,” tukas Clem malu-malu.

Pertemuan berikutnya berlangsung keesokan harinya. Keduanya naik perahu boat untuk pergi ke salah satu pulau. ”Di tengah laut, mesin boat mati, sehingga kami terjebak di tengah laut. Saat momen itu, dia (Danil, red) mengungkapkan perasaannya,” ujarnya.

Sejak saat itu, Clem memperkenalkan Danil kepada orangtuanya. Entah mengapa, kedua orangtuanya langsung suka. “Bahkan, mama sudah anggap dia (Danil, red) seperti anaknya sendiri waktu itu,” ujar penyuka rendang ini.

Hari-hari berat sempat dirasakan Clem dan Danil. Keduanya harus menjalani hubungan jarak jauh sekitar 6 bulan, karena Clem harus kembali ke Perancis melanjutkan kuliah S-1nya. “Jadi waktu LDR itu, kami hanya berkomitmen dengan teleponan dan video call,” tukasnya.

JawaPos.com – Kecintaannya terhadap keindahan alam dan kebudayaan Minang, menuntun Clementine Vincent Gustian, 20, perempuan cantik kewarganegaraan Perancis, menemukan tambatan hatinya dengan seorang pemuda asal Bungus Teluk Kabung, Padang, Danil Gustian, 24, yang sehari-harinya bekerja sebagai pembawa boat antar pulau dan nelayan.

Di salah satu rumah yang dikelilingi hamparan persawahan dan perbukitan di Teluk Ka­bung Utara, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, terlihat ramai.

Ya, inilah prosesi jelang baralek gadang Clementine Vincent Gustian yang akrab disapa Clem dengan Danil Gustian. Sedianya pesta digelar 28 Juli mendatang.

Clem didampingi sang suami Danil Gustian sempat terlihat malu-malu ketika Padang Ekspres (Jawa Pos Group) mewawancarainya di rumah tersebut, Senin (22/7).

Perempuan yang sudah fasih berbahasa Indonesia ini, sesekali melirik sang suami yang resmi menikahinya pada Februari 2019 lalu.

“Saya pertama kali datang ke Indonesia tahun 2007 saat berusia 8 tahun. Saya bersama kedua orangtua memang suka menjelajahi beberapa daerah di dunia. Kami bahkan pernah ke Afrika. Kalau di Indonesia, daerah pertama kali yang kami kunjungi yaitu Bali, karena you know kan Bali,” tanyanya.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, Clem langsung merasa jatuh cinta. “Waktu itu, kami kurang lebih sekitar 1 bulan menghabiskan liburan di Bali. Saya tidak pernah melupakan segala kenangan di sana,” ungkap perempuan bertato gambar Peta Indonesia di bagian tangannya itu. Dia sangat takjub atas kebudayaan yang berbeda dan bahasa antar-daerah juga berbeda. “Kalau di Perancis kebudayaan kami hanya satu saja,” ucapnya.

Tahun 2009, dia bersama keluarganya kembali mengunjungi Indonesia, tepatnya Pulau Jawa. Saking betahnya, ia bersama keluarganya menjadwalkan setiap ta­hun menjelajahi setiap pulau di Indonesia. “Khusus Ke­pulauan Mentawai, saya ba­ru mengunjungi pada ta­hun 2012,” ungkapnya.

Namun entah mengapa, di antara pulau-pulau di Indonesia, dia merasa sesuatu yang berbeda dan lebih dekat dengan Sumbar, khususnya Bungus. Dia sering pergi berwisata ke pulau-pulau lewat Bungus.

“Jadi, kami kalau berpergian ke Mentawai atau Sungaipisang sering lewat Bungus. Mungkin karena keseringan, akhirnya suka aja sama daerah ini. Apalagi saya juga senang dengan kawasan pantai,” tukasnya.

Perempuan asal La Rochelle, Perancis ini melanjutkan, awal pertama berkomunikasi dengan Danil via Instagram tahun 2015. Danil berulang kali mengirim pesan direct message (DM) di Instagram miliknya.

Awal-awalnya tak diindahkannya. “Awalnya, saya lama merespons karena akun Instagram beliau (Danil, red) itu private akun,” akunya.

Lama kelamaan, hati Clem luluh juga melihat kegi­gihan Danil. Dia mulai merespons dengan membalas DM Danil. “Ya awalnya begitu saja, kami cuma berkomunikasi via pesan DM. Dia ada di Bungus dan saya di Perancis,” tukas mahasiswa La Flash di La Rochelle jurusan S-1 Sastra Indonesia ini.

Pertemuan Clem dengan Danil sendiri terjadi tahun 2017. Waktu itu, Clem bersama orangtuanya mengunjungi salah satu pulau dekat Pulau Pasumpahan via Bungus. Saat menunggu keberangkatan itulah, Clem disapa seorang lelaki yang tidak dikenalnya.

“Awalnya, dia (Danil, red) sempat memanggil saya. Namun karena saya sedang asyik bermain dengan salah seorang teman kecil, jadi saya tidak mendengarnya,” kenangnya.

Kemudian Danil pun bercerita dan menyebut Clem sombong. Mendengar itu, Clem tersadar dan memandang pria tersebut. “Entah mengapa setelah saya menatap dia (Danil, red) untuk pertama kalinya, saya merasakan jatuh cinta. Saya pun terdiam tanpa kata begitu juga dia,” tukas Clem malu-malu.

Pertemuan berikutnya berlangsung keesokan harinya. Keduanya naik perahu boat untuk pergi ke salah satu pulau. ”Di tengah laut, mesin boat mati, sehingga kami terjebak di tengah laut. Saat momen itu, dia (Danil, red) mengungkapkan perasaannya,” ujarnya.

Sejak saat itu, Clem memperkenalkan Danil kepada orangtuanya. Entah mengapa, kedua orangtuanya langsung suka. “Bahkan, mama sudah anggap dia (Danil, red) seperti anaknya sendiri waktu itu,” ujar penyuka rendang ini.

Hari-hari berat sempat dirasakan Clem dan Danil. Keduanya harus menjalani hubungan jarak jauh sekitar 6 bulan, karena Clem harus kembali ke Perancis melanjutkan kuliah S-1nya. “Jadi waktu LDR itu, kami hanya berkomitmen dengan teleponan dan video call,” tukasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/