alexametrics
22.4 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Willy Dozan Jadi 5 Pemeran Utama Film Hongkong

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID –  Berkat kemampuan beladirinya, aktor kawakan Indonesia ini pernah menembus film laga Mandarin pada era 1970–1980-an. Willy Dozan. aktor kelahiran Magelang, Jawa Tengah, itu dilirik produser film di Hongkong. Setidaknya ada lebih dari lima film laga Mandarin yang menjadikannya sebagai pemeran utama. Di antaranya, Crystal Fist, Sun Dragon, Shou Zhi Niu Ciu, Kung Fu Beyond the Grave, dan A Fistful of Talons. Saat bertemu dengan Jawa Pos, sutradara sinetron Deru Debu yang tayang pada 1994 itu bercerita perjalanannya membangun karier di industri film yang dimulai dari nol.

Hai Om Willy, dulu ceritanya gimana sih bisa main film laga di Hongkong?

Jadi, pada 1977 proses film saya, Karate Sabuk Hitam dan Petarungan Kera Sakti, itu di Hongkong. Ternyata ada salah satu produser yang menyukai akting saya. Kebetulan juga ada salah satu orang Indonesia yang bekerja di rumah produksi itu, namanya Herman. Nah, dialah yang mencari-cari saya di Jakarta, ngirim surat dan siap memanajeri saya main film di Hongkong.

Mobile_AP_Rectangle 2

Masih ingat kapan surat itu Om terima?

Sudah lupa, tapi saya ingat betul surat itu dikirim ke kos-kosan saya di daerah Gajah Mada, Jakarta Pusat. Waktu itu posisinya saya udah pindah dari sana. Nggak tahu kenapa, saya tiba-tiba iseng mau main ke sana sekalian pengin tahu kabar ibu kos. Nah, ibu kos bilang bahwa saya mendapat surat dari Hongkong. Betapa terkejutnya saya bahwa surat itu ternyata sudah sampai tiga bulan lalu. Hahaha.

Setelah itu, apa yang Om lakukan?

Ya, saya balas surat itu. Sampai akhirnya kami berkontekan dan saya berangkat ke Hongkong kali pertama pada Maret 1979. Pada saat itu saya cuma bawa tiga baju dan dua celana. Beruntung, di sana saya langsung mendapat peran utama.

Selama syuting di sana, sering ketemu dengan aktor laga ternama seperti Jackie Chan dan Andy Lau?

Oh iya tentu, bahkan hampir setiap hari karena kami syuting di satu lokasi yang sama. Hanya beda studio. Tapi, karena sama-sama sibuk saat itu, jadi cuma say hello.

Jadi kebanggaan tersendiri ya Om bisa bertemu dengan mereka?

Ya itulah perjalanan. Saya ketemu Andy Lau itu waktu dia sebelum terkenal. Awalnya dia sering melihat saya syuting dan akhirnya kenalan. Dan, dia manggil saya guru. Mungkin karena saya punya background bela diri, sedangkan dia kan nggak.

Sekitar 1990-an akhir, Andy Lau datang ke Jakarta. Apa kalian bertemu?

Sayangnya,  nggak. Tapi, setelah dia datang ke sini, orang EO-nya menemui saya dan bilang bahwa saya dicariin sama Andy Lau. Kami ketika di Hongkong juga nggak saling bertukar kontak, bahkan sampai sekarang. Dia itu memang baik, ramah banget.

Di Hongkong, Om Willy punya nama sendiri, yakni Billy Chong. Siapa yang mencetuskan nama tersebut?

Jadi, seorang produser di sana yang bikin nama itu karena berkeberatan dengan nama Willy Dozan. Katanya, agak asing untuk di internasional dan kayak nama orang Filipina.

Dari sekian banyak film Mandarin yang diperankan, momen apa yang paling memorable bagi Om Willy selama syuting di sana?

Waktu garap film A Hard Way to Die atau Sun Dragon karena pemainnya rata-rata juara bela diri semua. Kami syuting di Amerika, Green Canyon, Arizona, Eldorado, Texas, dan Phoenix. Di Phoenix itu kan kaktus tumbuh tinggi-tinggi, pemandangannya indah, tapi banyak ular derik. Pernah saya udah siap fighting, eh ada ular nyamperin, wah pada kabur semua. Akhirnya pindah lokasi sampai empat kali, capek. Sangat terganggu dengan ular derik itu karena bisa mati terkena bisanya. Apalagi, larinya cepat sekali.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID –  Berkat kemampuan beladirinya, aktor kawakan Indonesia ini pernah menembus film laga Mandarin pada era 1970–1980-an. Willy Dozan. aktor kelahiran Magelang, Jawa Tengah, itu dilirik produser film di Hongkong. Setidaknya ada lebih dari lima film laga Mandarin yang menjadikannya sebagai pemeran utama. Di antaranya, Crystal Fist, Sun Dragon, Shou Zhi Niu Ciu, Kung Fu Beyond the Grave, dan A Fistful of Talons. Saat bertemu dengan Jawa Pos, sutradara sinetron Deru Debu yang tayang pada 1994 itu bercerita perjalanannya membangun karier di industri film yang dimulai dari nol.

Hai Om Willy, dulu ceritanya gimana sih bisa main film laga di Hongkong?

Jadi, pada 1977 proses film saya, Karate Sabuk Hitam dan Petarungan Kera Sakti, itu di Hongkong. Ternyata ada salah satu produser yang menyukai akting saya. Kebetulan juga ada salah satu orang Indonesia yang bekerja di rumah produksi itu, namanya Herman. Nah, dialah yang mencari-cari saya di Jakarta, ngirim surat dan siap memanajeri saya main film di Hongkong.

Masih ingat kapan surat itu Om terima?

Sudah lupa, tapi saya ingat betul surat itu dikirim ke kos-kosan saya di daerah Gajah Mada, Jakarta Pusat. Waktu itu posisinya saya udah pindah dari sana. Nggak tahu kenapa, saya tiba-tiba iseng mau main ke sana sekalian pengin tahu kabar ibu kos. Nah, ibu kos bilang bahwa saya mendapat surat dari Hongkong. Betapa terkejutnya saya bahwa surat itu ternyata sudah sampai tiga bulan lalu. Hahaha.

Setelah itu, apa yang Om lakukan?

Ya, saya balas surat itu. Sampai akhirnya kami berkontekan dan saya berangkat ke Hongkong kali pertama pada Maret 1979. Pada saat itu saya cuma bawa tiga baju dan dua celana. Beruntung, di sana saya langsung mendapat peran utama.

Selama syuting di sana, sering ketemu dengan aktor laga ternama seperti Jackie Chan dan Andy Lau?

Oh iya tentu, bahkan hampir setiap hari karena kami syuting di satu lokasi yang sama. Hanya beda studio. Tapi, karena sama-sama sibuk saat itu, jadi cuma say hello.

Jadi kebanggaan tersendiri ya Om bisa bertemu dengan mereka?

Ya itulah perjalanan. Saya ketemu Andy Lau itu waktu dia sebelum terkenal. Awalnya dia sering melihat saya syuting dan akhirnya kenalan. Dan, dia manggil saya guru. Mungkin karena saya punya background bela diri, sedangkan dia kan nggak.

Sekitar 1990-an akhir, Andy Lau datang ke Jakarta. Apa kalian bertemu?

Sayangnya,  nggak. Tapi, setelah dia datang ke sini, orang EO-nya menemui saya dan bilang bahwa saya dicariin sama Andy Lau. Kami ketika di Hongkong juga nggak saling bertukar kontak, bahkan sampai sekarang. Dia itu memang baik, ramah banget.

Di Hongkong, Om Willy punya nama sendiri, yakni Billy Chong. Siapa yang mencetuskan nama tersebut?

Jadi, seorang produser di sana yang bikin nama itu karena berkeberatan dengan nama Willy Dozan. Katanya, agak asing untuk di internasional dan kayak nama orang Filipina.

Dari sekian banyak film Mandarin yang diperankan, momen apa yang paling memorable bagi Om Willy selama syuting di sana?

Waktu garap film A Hard Way to Die atau Sun Dragon karena pemainnya rata-rata juara bela diri semua. Kami syuting di Amerika, Green Canyon, Arizona, Eldorado, Texas, dan Phoenix. Di Phoenix itu kan kaktus tumbuh tinggi-tinggi, pemandangannya indah, tapi banyak ular derik. Pernah saya udah siap fighting, eh ada ular nyamperin, wah pada kabur semua. Akhirnya pindah lokasi sampai empat kali, capek. Sangat terganggu dengan ular derik itu karena bisa mati terkena bisanya. Apalagi, larinya cepat sekali.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID –  Berkat kemampuan beladirinya, aktor kawakan Indonesia ini pernah menembus film laga Mandarin pada era 1970–1980-an. Willy Dozan. aktor kelahiran Magelang, Jawa Tengah, itu dilirik produser film di Hongkong. Setidaknya ada lebih dari lima film laga Mandarin yang menjadikannya sebagai pemeran utama. Di antaranya, Crystal Fist, Sun Dragon, Shou Zhi Niu Ciu, Kung Fu Beyond the Grave, dan A Fistful of Talons. Saat bertemu dengan Jawa Pos, sutradara sinetron Deru Debu yang tayang pada 1994 itu bercerita perjalanannya membangun karier di industri film yang dimulai dari nol.

Hai Om Willy, dulu ceritanya gimana sih bisa main film laga di Hongkong?

Jadi, pada 1977 proses film saya, Karate Sabuk Hitam dan Petarungan Kera Sakti, itu di Hongkong. Ternyata ada salah satu produser yang menyukai akting saya. Kebetulan juga ada salah satu orang Indonesia yang bekerja di rumah produksi itu, namanya Herman. Nah, dialah yang mencari-cari saya di Jakarta, ngirim surat dan siap memanajeri saya main film di Hongkong.

Masih ingat kapan surat itu Om terima?

Sudah lupa, tapi saya ingat betul surat itu dikirim ke kos-kosan saya di daerah Gajah Mada, Jakarta Pusat. Waktu itu posisinya saya udah pindah dari sana. Nggak tahu kenapa, saya tiba-tiba iseng mau main ke sana sekalian pengin tahu kabar ibu kos. Nah, ibu kos bilang bahwa saya mendapat surat dari Hongkong. Betapa terkejutnya saya bahwa surat itu ternyata sudah sampai tiga bulan lalu. Hahaha.

Setelah itu, apa yang Om lakukan?

Ya, saya balas surat itu. Sampai akhirnya kami berkontekan dan saya berangkat ke Hongkong kali pertama pada Maret 1979. Pada saat itu saya cuma bawa tiga baju dan dua celana. Beruntung, di sana saya langsung mendapat peran utama.

Selama syuting di sana, sering ketemu dengan aktor laga ternama seperti Jackie Chan dan Andy Lau?

Oh iya tentu, bahkan hampir setiap hari karena kami syuting di satu lokasi yang sama. Hanya beda studio. Tapi, karena sama-sama sibuk saat itu, jadi cuma say hello.

Jadi kebanggaan tersendiri ya Om bisa bertemu dengan mereka?

Ya itulah perjalanan. Saya ketemu Andy Lau itu waktu dia sebelum terkenal. Awalnya dia sering melihat saya syuting dan akhirnya kenalan. Dan, dia manggil saya guru. Mungkin karena saya punya background bela diri, sedangkan dia kan nggak.

Sekitar 1990-an akhir, Andy Lau datang ke Jakarta. Apa kalian bertemu?

Sayangnya,  nggak. Tapi, setelah dia datang ke sini, orang EO-nya menemui saya dan bilang bahwa saya dicariin sama Andy Lau. Kami ketika di Hongkong juga nggak saling bertukar kontak, bahkan sampai sekarang. Dia itu memang baik, ramah banget.

Di Hongkong, Om Willy punya nama sendiri, yakni Billy Chong. Siapa yang mencetuskan nama tersebut?

Jadi, seorang produser di sana yang bikin nama itu karena berkeberatan dengan nama Willy Dozan. Katanya, agak asing untuk di internasional dan kayak nama orang Filipina.

Dari sekian banyak film Mandarin yang diperankan, momen apa yang paling memorable bagi Om Willy selama syuting di sana?

Waktu garap film A Hard Way to Die atau Sun Dragon karena pemainnya rata-rata juara bela diri semua. Kami syuting di Amerika, Green Canyon, Arizona, Eldorado, Texas, dan Phoenix. Di Phoenix itu kan kaktus tumbuh tinggi-tinggi, pemandangannya indah, tapi banyak ular derik. Pernah saya udah siap fighting, eh ada ular nyamperin, wah pada kabur semua. Akhirnya pindah lokasi sampai empat kali, capek. Sangat terganggu dengan ular derik itu karena bisa mati terkena bisanya. Apalagi, larinya cepat sekali.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/