alexametrics
22.7 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Program Co-Firing Sejalan Target Netralitas Karbon Tahun 2060

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Program substitusi biomassa atau co-firing pada pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara akan meningkatkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 1,8 persen. Hal tersebut dikatakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam hal ini Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Edi Wibowo seperti dalam keterangan yang dikutip di Jakarta.

BACA JUGA : Meski Tiket Pre-Sale Habis di Beberapa Daerah, Hanung Tak Patok Target

“Program co-firing ini akan meningkatkan bauran EBT sekitar 1,8 persen melalui substitusi sebagian batu bara dengan biomassa sampai dengan kurang lebih 10 persen,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pemerintah Indonesia menggunakan biomassa sebagai substitusi bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara untuk mempercepat pemanfaatan EBT menuju target 23 persen pada tahun 2025. Program co-firing sejalan dengan upaya Indonesia menuju target netralitas karbon pada tahun 2060.

Kementerian ESDM memproyeksikan kebutuhan biomassa untuk co-firing sekitar 10,2 juta ton per tahun pada 2025 dan implementasi program itu akan memberikan dampak terhadap penurunan emisi sekitar 11 juta ton karbondioksida.

Edi menyampaikan co-firing tak hanya meningkatkan kontribusi EBT pada bauran energi nasional, tetapi juga berdampak positif kepada pengembangan ekonomi kerakyatan.

“Program co-firing merupakan bagian dari ekosistem listrik kerakyatan dan land preservation program yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam penyediaan biomassa, sehingga sekaligus dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi setempat karena membuka lapangan kerja dan peluang bisnis di sektor biomassa khususnya yang berbasis sampah dan limbah,” jelasnya.

Pada 2022 target pemanfaatan biomassa sebanyak 450 ribu ton yang akan menghasilkan produksi energi hijau sebesar 334 gigawatt jam dengan pengurangan emisi sebesar 340 ribu ton karbondioksida.

Hingga April 2022 realisasi co-firing telah sebanyak 175 ribu ton biomassa dan menghasilkan produk energi hijau sebesar 185 gigawatt jam dengan pengurangan emisi sebesar 184 ribu ton karbondioksida.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Program substitusi biomassa atau co-firing pada pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara akan meningkatkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 1,8 persen. Hal tersebut dikatakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam hal ini Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Edi Wibowo seperti dalam keterangan yang dikutip di Jakarta.

BACA JUGA : Meski Tiket Pre-Sale Habis di Beberapa Daerah, Hanung Tak Patok Target

“Program co-firing ini akan meningkatkan bauran EBT sekitar 1,8 persen melalui substitusi sebagian batu bara dengan biomassa sampai dengan kurang lebih 10 persen,” katanya.

Pemerintah Indonesia menggunakan biomassa sebagai substitusi bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara untuk mempercepat pemanfaatan EBT menuju target 23 persen pada tahun 2025. Program co-firing sejalan dengan upaya Indonesia menuju target netralitas karbon pada tahun 2060.

Kementerian ESDM memproyeksikan kebutuhan biomassa untuk co-firing sekitar 10,2 juta ton per tahun pada 2025 dan implementasi program itu akan memberikan dampak terhadap penurunan emisi sekitar 11 juta ton karbondioksida.

Edi menyampaikan co-firing tak hanya meningkatkan kontribusi EBT pada bauran energi nasional, tetapi juga berdampak positif kepada pengembangan ekonomi kerakyatan.

“Program co-firing merupakan bagian dari ekosistem listrik kerakyatan dan land preservation program yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam penyediaan biomassa, sehingga sekaligus dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi setempat karena membuka lapangan kerja dan peluang bisnis di sektor biomassa khususnya yang berbasis sampah dan limbah,” jelasnya.

Pada 2022 target pemanfaatan biomassa sebanyak 450 ribu ton yang akan menghasilkan produksi energi hijau sebesar 334 gigawatt jam dengan pengurangan emisi sebesar 340 ribu ton karbondioksida.

Hingga April 2022 realisasi co-firing telah sebanyak 175 ribu ton biomassa dan menghasilkan produk energi hijau sebesar 185 gigawatt jam dengan pengurangan emisi sebesar 184 ribu ton karbondioksida.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Program substitusi biomassa atau co-firing pada pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara akan meningkatkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 1,8 persen. Hal tersebut dikatakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam hal ini Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Edi Wibowo seperti dalam keterangan yang dikutip di Jakarta.

BACA JUGA : Meski Tiket Pre-Sale Habis di Beberapa Daerah, Hanung Tak Patok Target

“Program co-firing ini akan meningkatkan bauran EBT sekitar 1,8 persen melalui substitusi sebagian batu bara dengan biomassa sampai dengan kurang lebih 10 persen,” katanya.

Pemerintah Indonesia menggunakan biomassa sebagai substitusi bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara untuk mempercepat pemanfaatan EBT menuju target 23 persen pada tahun 2025. Program co-firing sejalan dengan upaya Indonesia menuju target netralitas karbon pada tahun 2060.

Kementerian ESDM memproyeksikan kebutuhan biomassa untuk co-firing sekitar 10,2 juta ton per tahun pada 2025 dan implementasi program itu akan memberikan dampak terhadap penurunan emisi sekitar 11 juta ton karbondioksida.

Edi menyampaikan co-firing tak hanya meningkatkan kontribusi EBT pada bauran energi nasional, tetapi juga berdampak positif kepada pengembangan ekonomi kerakyatan.

“Program co-firing merupakan bagian dari ekosistem listrik kerakyatan dan land preservation program yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam penyediaan biomassa, sehingga sekaligus dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi setempat karena membuka lapangan kerja dan peluang bisnis di sektor biomassa khususnya yang berbasis sampah dan limbah,” jelasnya.

Pada 2022 target pemanfaatan biomassa sebanyak 450 ribu ton yang akan menghasilkan produksi energi hijau sebesar 334 gigawatt jam dengan pengurangan emisi sebesar 340 ribu ton karbondioksida.

Hingga April 2022 realisasi co-firing telah sebanyak 175 ribu ton biomassa dan menghasilkan produk energi hijau sebesar 185 gigawatt jam dengan pengurangan emisi sebesar 184 ribu ton karbondioksida.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/