Bikin Alat Tetas Otomatis untuk Peternak Itik

Itik, atau yang lebih familiar dengan sebutan bebek, menjadi unggas yang kerap dikonsumsi masyarakat selain ayam. Lewat teknologi, perkembangan itik bisa lebih ditingkatkan. Seperti hasil karya dosen peternakan Politeknik Negeri Jember (Polije) yang membuat alat tetas otomatis untuk peternak di Kecamatan Gumukmas.

TRANSFER TEKNOLOGI: Dosen Jurusan Peternakan Politeknik Negeri Jember, Hariadi Subagja (kanan), bersama Mustakim, salah satu peternak di Gumukmas, memindahkan itik yang baru menetas berkat mesin penetas telur otomatis.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Alat tetas telur itik itu berwarna perak, mirip dengan alat oven roti. Berukuran 240×260 sentimeter dan tinggi 240 sentimeter. Terdapat dua pintu di sana. Dari balik pintu pertama terlihat tumpukan telur, yang setiap dua jam sekali secara otomatis bisa dibalik. Di dalam juga terdapat dua kipas angin blower.

Sementara itu, di pintu kedua sepintas tampak sama, terdapat telur itik. Bedanya, telur itik di pintu kedua sudah siap menetas. “Kalau pintu yang pertama itu untuk yang baru. Kemudian dua sampai tiga hari sebelum menetas, telur tersebut dipindah ke pintu kedua,” kata Hariadi Subagja, dosen Jurusan Peternakan Polije.

Sederhananya, mesin tetas otomatis tersebut memiliki konsep yang sama dengan alat tetas manual yang selama ini dimiliki peternak tradisional pada umumnya. Perbedaannya, kata dia, alat manual memutar telur itik dilakukan oleh tenaga manusia yang pengalaman. Sedangkan jika pakai alat, memutar telur bisa secara otomatis.

Selain itu, kata dia, juga terdapat indikator suhu dan kelembaban udara yang tetap dibutuhkan untuk memaksimalkan penetasan telur itik. Dengan demikian, tingkat keberhasilannya jauh lebih tinggi hingga 80 persen dibanding mesin manual yang hanya 60 persen. “Penetasan itik atau telur bebek itu butuh 37 derajat dengan kelembapan 60 persen dan waktunya 28 hari,” jelasnya.

Kipas angin blower berperan mengalirkan suhu panas di dalam alat tetas otomatis, sehingga lebih rata. Selain itu, di bagian belakang mesin juga terdapat pompa pendorong untuk mendistribusikan air bila kelembapan udara itu kurang.

Tak hanya efisien dalam tenaga kerja dan meningkatkan keberhasilan penetasan telur. Alat mesin tetas otomatis karya tiga dosen Peternakan Polije yang melakukan pengabdian masyarakat tersebut juga lebih ekonomis.

“Penghangat mesin tetas otomatis ini pakai tenaga LPG, bukan listrik. Kalau manual mengandalkan listrik dengan lampu. Semisal sistem penghangat mesin ini pakai listrik, ya boros. Makanya kami ubah pakai LPG, agar lebih hemat. Sehingga, lebih menguntungkan peternak,” kata Erfan Kustiawan, dosen Peternakan Polije, yang juga terlibat dalam tim pengabdian masyarakat tersebut.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, di bagian belakang mesin tetas tersebut terdapat kompor yang secara otomatis mematikan api bila suhu yang dibutuhkan kurang. Sementara tabung gas LPG diletakkan di luar mesin.

Mustakim, peternak itik, mengakui biaya yang dikeluarkan jauh lebih hemat. Bila dihitung lima ribu telur seperti kapasitas mesin tetas tersebut, maka biaya yang dikeluarkan jika memakai mesin penetas manual bisa mencapai Rp 1,8 hingga 2 juta untuk sekali penetasan. “Listriknya itu habis Rp 1 juta, tenaga kerjanya Rp 600-750 ribu,” terangnya.

Sementara itu, untuk mesin tetas otomatis, sekitar Rp 400-500 ribu dalam sekali tetas. Perinciannya adalah konsumsi tabung tiga LPG dalam sekali tetas, dan tenaga kerja yang lebih murah.

Dia mengaku, tingkat tetasnya juga lebih tinggi. Per seribu telur, dengan alat manual hanya 600 telur yang menetas, sedangkan pakai mesin otomatis bisa 800 telur. Dia mengakui, menjual bebek tidak hanya dalam kondisi siap konsumsi, tapi juga bibit. Pangsa pasarnya selain Jember juga Surabaya dan Sidoarjo.

Hariadi mengakui, ada tiga dosen dalam pengabdian masyarakat yang mengembangkan mesin tetas otomatis untuk peternak di Gumukmas. Yakni dirinya, Erfan Kustiawan, dan Anang Supriyadi. Ketiga dosen Jurusan Peternakan Polije itu melihat ada potensi yang dimaksimalkan untuk peternak itik di Gumukmas. Dia berharap, pengabdian ini bisa bermanfaat bagi masyarakat, sehingga usahanya bisa berkembang lebih baik lagi.

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Reporter: Dwi Siswanto
Fotografer: Dwi Siswanto