alexametrics
20.3C
Jember
Wednesday, 21 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Kembangkan RS Darurat Penanganan Covid-19

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Telah lama memiliki rumah sakit, kini Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditunjuk untuk mengembangkan RS darurat penanganan Covid-19 yang berlokasi tidak jauh dari RS UMM. Penunjukkan ini secara simbolis dilakukan oleh Bupati Malang Drs H M. Sanusi MM dalam bentuk peletakan batu pertama pembangunan RS tersebut, Senin (5/4) kemarin. Hadir pula Wakil Bupati Malang, Kapolres Malang, serta Dandim 0818 Malang-Batu.

PEMBANGUNAN PERTAMA: Bupati Malang Drs H M Sanusi MM meletakkan batu pertama pembangunan RS Darurat Penanganan Covid-19 di lingkungan RS UMM.

Rektor UMM Dr Fauzan MPd menyampaikan ucapan terima kasih kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Kemenkes yang sudah membantu untuk merealisasikan pembangunan RS Covid-19 tersebut. Begitupun dengan dukungan dari bupati beserta jajaran, Rumah Sakit UMM, WIKA, dan Yodya Karya. “Pembangunan RS ini menjadi tekad kami agar Malang, Indonesia, serta dunia, bisa segera bebas dari Covid-19,” harapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Malang Drs H M. Sanusi MM mengapresiasi UMM atas usahanya yang sangat responsif dalam penanganan pandemi. Tidak hanya dalam beberapa bulan ini, tapi juga sejak pertama kali pandemi Covid-19 menyebar.

“Banyak pihak yang mendukung dalam penanganan pandemi ini hingga akhirnya angka korona menurun. Data terakhir yang saya dapat, hanya tinggal 60 dari 14.600 RT di Kabupaten Malang yang masih kuning. Sisanya sudah menjadi wilayah hijau,” terangnya.

Sanusi juga berharap agar UMM bisa terus berkontribusi di semua bidang. Tidak hanya berhenti di usaha penanganan Covid-19, tapi juga terus eksis dalam kepekaan kebutuhan masyarakat sekitar.

Dalam acara peletakan batu pertama RS darurat tersebut, Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Reva Sastrodiningrat menjelaskan bahwa pengembangan RS ini merupakan upaya untuk menangani Covid-19, khususnya di wilayah Malang Raya. Apalagi melihat jumlah pasien Covid-19 di Indonesia yang mencapai 1.534.255 orang per tanggal 4 April. “Sekitar 140.331 pasien positif ada di Jawa timur, dan 10.346 di antaranya berada di wilayah Malang Raya,” tuturnya lebih lanjut.

Berdasarkan data tersebut, lanjut dia, beberapa rumah sakit ditunjuk untuk menjadi RS rujukan penanganan pasien korona. Salah satunya adalah RS UMM.

Pengembangan rumah sakit darurat penanganan Covid-19 akan dilakukan di atas lahan seluas 8.000 meter persegi. Nantinya akan disediakan sejumlah 65 bed untuk ruang observasi serta delapan bed di ruang isolasi. Selain itu, ada ruang screening dan fasilitas penunjang lainnya.

Reva menambahkan bahwa pembangunan RS darurat tersebut juga menjadi bagian dari program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menyediakan RS khusus Covid-19. Sebelumnya, telah dibangun beberapa rumah sakit serupa yang berlokasi di Pulau Galang, RSUD dr Soegiri Lamongan, RSUD Zainul Abidin Kota Banda Aceh, dan beberapa tempat lainnya.

Pembangunan RS darurat tersebut diharapkan bisa selesai dalam jangka waktu 45 hari, dengan sumber pendanaan dari dana siap pakai BNPB. “Harapannya pembangunan RS ini bisa terlaksana secara tepat, baik dari segi biaya, mutu, serta tepat waktu 45 hari. Selain itu, semoga bisa segera dijalankan serta didukung dengan peralatan dan tenaga kesehatan yang memadai,” ungkapnya.

Reva juga berharap agar pembangunan RS tersebut dapat senantiasa dipelihara dengan baik. Sekalipun nanti ketika pandemi sudah menurun dan berakhir. “Insyaallah RS ini nantinya akan dijadikan sebagai RS penyakit infeksius di Kabupaten Malang ketika pandemi usai,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis:
Fotografer: Istimewa
Redaktur: Lintang Anis Bena Kinanti

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Telah lama memiliki rumah sakit, kini Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditunjuk untuk mengembangkan RS darurat penanganan Covid-19 yang berlokasi tidak jauh dari RS UMM. Penunjukkan ini secara simbolis dilakukan oleh Bupati Malang Drs H M. Sanusi MM dalam bentuk peletakan batu pertama pembangunan RS tersebut, Senin (5/4) kemarin. Hadir pula Wakil Bupati Malang, Kapolres Malang, serta Dandim 0818 Malang-Batu.

PEMBANGUNAN PERTAMA: Bupati Malang Drs H M Sanusi MM meletakkan batu pertama pembangunan RS Darurat Penanganan Covid-19 di lingkungan RS UMM.

Rektor UMM Dr Fauzan MPd menyampaikan ucapan terima kasih kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Kemenkes yang sudah membantu untuk merealisasikan pembangunan RS Covid-19 tersebut. Begitupun dengan dukungan dari bupati beserta jajaran, Rumah Sakit UMM, WIKA, dan Yodya Karya. “Pembangunan RS ini menjadi tekad kami agar Malang, Indonesia, serta dunia, bisa segera bebas dari Covid-19,” harapnya.

Mobile_AP_Half Page

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Malang Drs H M. Sanusi MM mengapresiasi UMM atas usahanya yang sangat responsif dalam penanganan pandemi. Tidak hanya dalam beberapa bulan ini, tapi juga sejak pertama kali pandemi Covid-19 menyebar.

“Banyak pihak yang mendukung dalam penanganan pandemi ini hingga akhirnya angka korona menurun. Data terakhir yang saya dapat, hanya tinggal 60 dari 14.600 RT di Kabupaten Malang yang masih kuning. Sisanya sudah menjadi wilayah hijau,” terangnya.

Sanusi juga berharap agar UMM bisa terus berkontribusi di semua bidang. Tidak hanya berhenti di usaha penanganan Covid-19, tapi juga terus eksis dalam kepekaan kebutuhan masyarakat sekitar.

Dalam acara peletakan batu pertama RS darurat tersebut, Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Reva Sastrodiningrat menjelaskan bahwa pengembangan RS ini merupakan upaya untuk menangani Covid-19, khususnya di wilayah Malang Raya. Apalagi melihat jumlah pasien Covid-19 di Indonesia yang mencapai 1.534.255 orang per tanggal 4 April. “Sekitar 140.331 pasien positif ada di Jawa timur, dan 10.346 di antaranya berada di wilayah Malang Raya,” tuturnya lebih lanjut.

Berdasarkan data tersebut, lanjut dia, beberapa rumah sakit ditunjuk untuk menjadi RS rujukan penanganan pasien korona. Salah satunya adalah RS UMM.

Pengembangan rumah sakit darurat penanganan Covid-19 akan dilakukan di atas lahan seluas 8.000 meter persegi. Nantinya akan disediakan sejumlah 65 bed untuk ruang observasi serta delapan bed di ruang isolasi. Selain itu, ada ruang screening dan fasilitas penunjang lainnya.

Reva menambahkan bahwa pembangunan RS darurat tersebut juga menjadi bagian dari program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menyediakan RS khusus Covid-19. Sebelumnya, telah dibangun beberapa rumah sakit serupa yang berlokasi di Pulau Galang, RSUD dr Soegiri Lamongan, RSUD Zainul Abidin Kota Banda Aceh, dan beberapa tempat lainnya.

Pembangunan RS darurat tersebut diharapkan bisa selesai dalam jangka waktu 45 hari, dengan sumber pendanaan dari dana siap pakai BNPB. “Harapannya pembangunan RS ini bisa terlaksana secara tepat, baik dari segi biaya, mutu, serta tepat waktu 45 hari. Selain itu, semoga bisa segera dijalankan serta didukung dengan peralatan dan tenaga kesehatan yang memadai,” ungkapnya.

Reva juga berharap agar pembangunan RS tersebut dapat senantiasa dipelihara dengan baik. Sekalipun nanti ketika pandemi sudah menurun dan berakhir. “Insyaallah RS ini nantinya akan dijadikan sebagai RS penyakit infeksius di Kabupaten Malang ketika pandemi usai,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis:
Fotografer: Istimewa
Redaktur: Lintang Anis Bena Kinanti

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Telah lama memiliki rumah sakit, kini Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditunjuk untuk mengembangkan RS darurat penanganan Covid-19 yang berlokasi tidak jauh dari RS UMM. Penunjukkan ini secara simbolis dilakukan oleh Bupati Malang Drs H M. Sanusi MM dalam bentuk peletakan batu pertama pembangunan RS tersebut, Senin (5/4) kemarin. Hadir pula Wakil Bupati Malang, Kapolres Malang, serta Dandim 0818 Malang-Batu.

PEMBANGUNAN PERTAMA: Bupati Malang Drs H M Sanusi MM meletakkan batu pertama pembangunan RS Darurat Penanganan Covid-19 di lingkungan RS UMM.

Rektor UMM Dr Fauzan MPd menyampaikan ucapan terima kasih kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Kemenkes yang sudah membantu untuk merealisasikan pembangunan RS Covid-19 tersebut. Begitupun dengan dukungan dari bupati beserta jajaran, Rumah Sakit UMM, WIKA, dan Yodya Karya. “Pembangunan RS ini menjadi tekad kami agar Malang, Indonesia, serta dunia, bisa segera bebas dari Covid-19,” harapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Malang Drs H M. Sanusi MM mengapresiasi UMM atas usahanya yang sangat responsif dalam penanganan pandemi. Tidak hanya dalam beberapa bulan ini, tapi juga sejak pertama kali pandemi Covid-19 menyebar.

“Banyak pihak yang mendukung dalam penanganan pandemi ini hingga akhirnya angka korona menurun. Data terakhir yang saya dapat, hanya tinggal 60 dari 14.600 RT di Kabupaten Malang yang masih kuning. Sisanya sudah menjadi wilayah hijau,” terangnya.

Sanusi juga berharap agar UMM bisa terus berkontribusi di semua bidang. Tidak hanya berhenti di usaha penanganan Covid-19, tapi juga terus eksis dalam kepekaan kebutuhan masyarakat sekitar.

Dalam acara peletakan batu pertama RS darurat tersebut, Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Reva Sastrodiningrat menjelaskan bahwa pengembangan RS ini merupakan upaya untuk menangani Covid-19, khususnya di wilayah Malang Raya. Apalagi melihat jumlah pasien Covid-19 di Indonesia yang mencapai 1.534.255 orang per tanggal 4 April. “Sekitar 140.331 pasien positif ada di Jawa timur, dan 10.346 di antaranya berada di wilayah Malang Raya,” tuturnya lebih lanjut.

Berdasarkan data tersebut, lanjut dia, beberapa rumah sakit ditunjuk untuk menjadi RS rujukan penanganan pasien korona. Salah satunya adalah RS UMM.

Pengembangan rumah sakit darurat penanganan Covid-19 akan dilakukan di atas lahan seluas 8.000 meter persegi. Nantinya akan disediakan sejumlah 65 bed untuk ruang observasi serta delapan bed di ruang isolasi. Selain itu, ada ruang screening dan fasilitas penunjang lainnya.

Reva menambahkan bahwa pembangunan RS darurat tersebut juga menjadi bagian dari program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menyediakan RS khusus Covid-19. Sebelumnya, telah dibangun beberapa rumah sakit serupa yang berlokasi di Pulau Galang, RSUD dr Soegiri Lamongan, RSUD Zainul Abidin Kota Banda Aceh, dan beberapa tempat lainnya.

Pembangunan RS darurat tersebut diharapkan bisa selesai dalam jangka waktu 45 hari, dengan sumber pendanaan dari dana siap pakai BNPB. “Harapannya pembangunan RS ini bisa terlaksana secara tepat, baik dari segi biaya, mutu, serta tepat waktu 45 hari. Selain itu, semoga bisa segera dijalankan serta didukung dengan peralatan dan tenaga kesehatan yang memadai,” ungkapnya.

Reva juga berharap agar pembangunan RS tersebut dapat senantiasa dipelihara dengan baik. Sekalipun nanti ketika pandemi sudah menurun dan berakhir. “Insyaallah RS ini nantinya akan dijadikan sebagai RS penyakit infeksius di Kabupaten Malang ketika pandemi usai,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis:
Fotografer: Istimewa
Redaktur: Lintang Anis Bena Kinanti

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Enam Ribu Lebih Gagal Verfak

Omzet Sehari Tembus Jutaan Rupiah

Belum Lulus Berani Corat-coret

Desktop_AP_Rectangle 2
×

Info!

Mau Langganan Koran, Info Iklan Cetak dan Iklan Online

×Info Langganan Koran