Dua Santri Borong Dua Juara Sekaligus Tingkat Nasional

Santri Nuris kembali mengukir prestasi. Kali ini datang dari Handini Fatihatun Nabila, siswa XI IPA 1 SMA Nuris, dan Muhammad Korib Hamdani, siswa XI PK 1 MA Nuris. Keduanya berhasil membawa pulang juara 2 dan 3 dalam kompetisi esai tingkat nasional di Universitas Muhammadiyah Jember dengan mengangkat tema pengembangan budaya berbasis teknologi.

SABET PENGHARGAAN: Muhammad Korib Hamdani, siswa kelas XI PK 1 MA Unggulan Nuris Antirogo, saat menyabet juara dalam Psychojurnalistic National Competition Universitas Muhammadiyah Jember, Maret lalu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Menjadi lembaga dengan pendidikan karakter yang religius dan intelektual membuat santri Nuris, Antirogo, tak henti-hentinya menyabet prestasi. Bahkan di tiap kompetisi, mereka seolah tak pernah absen pulang tanpa menyabet juara. Seperti Handini Fatihatun Nabila dan Muhammad Korib Hamdani.

IKLAN

Dalam lomba yang mengusung tema besar Interaksi Manusia, Budaya, dan Teknologi yang diselenggarakan Universitas Muhamamdiyah Jember, kedua santri Nuris tersebut membawakan karya tulisan yang cukup terampil. Muhammad Korib Hamdani mengangkat tema kebudayaan dengan judul Waguram (Wayang Hologram Cultural Museum) Solusi Alternatif di Era Revolusi Industri 4.0 dalam Mewujudkan Harmonisasi Budaya melalui Teknologi. Sedangkan Handini Fatihatun Nabila mengangkat tema teknologi dengan judul Scanruwira (Scan Tuna Wicara dan Tuna Rungu) Solusi Alternatif dalam Berinteraksi Secara Sosial melalui Teknologi.

Dalam kompetisi tersebut, menurut informasi dari panitia lomba, terdapat puluhan peserta yang tergabung dalam kategori pelajar. Sebab, pada saat bersamaan, lomba esai nasional itu juga membuka kompetisi untuk kategori mahasiswa. “Alhamdulillah, senang sekali, akhirnya bisa juara juga lomba esai tingkat nasional ini,” ujar Muhammad Korib Hamdani.

Meskipun juara satu disabet oleh siswa dari SMAN 1 Glenmore Banyuwangi, namun torehan mereka dalam memborong juara secara bersamaan itu cukup membanggakan. “Senangnya lagi teman saya, Handini, juga juara 2 di lomba itu. Semoga keberhasilan ini bisa membanggakan umi saya dan memotivasi saya untuk terus menulis,” terang Korib.

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Nuris Gus Robith Qosidi menambahkan, selama ini SMA, MA, maupun SMK di bawah naungan Pesantren Nuris sangat menaruh perhatian lebih terhadap pengembangan literasi santri. Baik dalam kepenulisan, riset, hingga aktif di tiap kompetisi ilmiah.

Sebab baginya, literasi termasuk bagian dari standar mutu kemampuan dan kualitas pelajar yang kita perjuangkan saat ini. “Sehingga ketika lulus, mereka tidak hanya sekadar lulus, tetapi juga memiliki kompetensi literasi,” jelasnya.

Selain itu, lanjut dia, upaya tersebut juga sebagai bentuk pembekalan untuk menyiapkan generasi yang siap menjawab tantangan zaman di era Revolusi Industri 4.0 atau era globalisasi. Karenanya, untuk menunjang tujuan itu, berbagai ruang aktualisasi disiapkan sekaligus sarana pendukungnya. Seperti website Nuris, majalah Nuris, perpustakaan yang memadai, akses internet, dan lain-lain.

“Kita ingin bagaimana selayaknya santri atau siswa itu memiliki standar konkret berbentuk karya. Jadi, saat lulus, mereka memiliki kualifikasi sebagai ilmuwan. Sehingga bisa berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan,” pungkasnya.

Editor: Lintang Anis Bena Kinanti
Reporter: Maulana
Fotografer: Lintang Anis Bena Kinanti