Bekerja 24 Tahun, Baru Dua Kali Lebaran Bareng Keluarga

Masagus Amancik, Kepala Stasiun Jember yang Susah Pulkam di Momen Lebaran

Sudah 24 tahun lebih Amancik menjabat sebagai kepala stasiun (KS). Bekerja di dunia jasa transportasi, dia pun harus rela meninggalkan kumpul-kumpul bersama keluarganya saat momen Idul Fitri. Selama 24 tahun itu pula, pria asli Palembang ini baru dua kali merasakan kehangatan bersama keluarganya di hari nan fitri.

JARANG PULANG: Masagus Amancik, Kepala Stasiun Jember, wajib bertugas saat momen-momen Lebaran. Selama menjadi kepala stasiun, dia hanya bisa pulang dua kali merayakan Idul Fitri bersama keluarganya.

RADAR JEMBER.ID – Di hari yang fitri, semua orang tentu ingin berkumpul bersama keluarganya. Namun, hal itu bisa tidak bisa terpenuhi karena profesi pekerjaannya yang tak bisa ditinggal. Apalagi kalau bekerja di dunia jasa transportasi umum. Hari-hari besar seperti Idul Fitri atau Natal menjadi waktu yang paling sibuk bagi mereka.

IKLAN

Termasuk bagi Masagus Amancik. Selama 24 tahun menjadi kepala stasiun, pria yang akrab disapa Amancik ini hanya bisa merasakan berkumpul dalam momen Lebaran bersama tiga putra dan istrinya dua kali saja. Itu pun saat tahun 2009 dan 2010 silam. Sebelum dan sesudahnya, Amancik harus siap sedia bertugas di stasiun kereta api yang dia pimpin.

“Kami malah tidak boleh ambil cuti di masa-masa Lebaran ini. Karena ada instruksi untuk mengawal posko Lebaran setiap tahunnya. Tidak boleh ambil cuti selama 22 hari di momen Lebaran, bahkan pernah diperpanjang 30 hari,” ucapnya, sembari tersenyum.

Kalau rasa kangen itu sudah pasti. Apalagi, ingin menunaikan salat Idul Fitri bersama keluarganya yang berada di Palembang, Sumatera Selatan. Menyiasati rasa itu, Amancik cukup dengan video call saja dengan putranya. “Saya juga punya grup WhatsApp keluarga. Kalau dulu, ya telepon biasa dan SMS. Malah zaman saya pacaran pakai telepon umum,” paparnya, lalu tertawa kecil.

Amancik sendiri bertugas menjadi kepala stasiun (KS) sejak tahun 1998 hingga sekarang. Sebelumnya, di tahun 1994-1995 dia menjadi Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA). Baru per tanggal 12 Februari 2018 lalu, Amancik dipindahtugaskan dari Lampung menuju Jember. Sebelumnya, dia sudah kenyang pengalaman menjadi KS di Lampung. Mulai dari Kotabumi, Lampung Utara sampai Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU).

“Meskipun dinas di Lampung, kalau waktu Lebaran, ya tidak bisa pulang kampung. Karena kami harus melayani dengan baik penumpang mudik Lebaran,” tegas pria berusia 48 tahun ini.

Tugas kepala stasiun sendiri cukup kompleks. Sebab, dia harus mengawasi benar seluruh kondisi stasiunnya. Mulai dari pengoperasian rangkaian kereta, melayani sepenuhnya calon penumpang, keamanan, ketersediaan informasi, ketersediaan tiket, dan fasilitas pendukung yang ada di stasiun. Serta menjadi koordinator wilayah Kepala Unit Pelaksanaan Teknis (KUPT) sekitar stasiun.

Namun, Amancik tentu pernah pulang ke Palembang. Minimal satu bulan sekali di hari liburnya. “Ya kalau jatah libur saya sempatkan pulang. Tapi kalau sudah hari besar seperti Idul Fitri dan Natal, wajib stay di stasiun,” jelasnya.

Amancik bersyukur selama bertugas menjadi KS di waktu hari-hari besar, baik Lebaran idul fitri maupun Natal tahun baru, dirinya belum mendapati tragedi besar. “Semoga saja tidaklah ya. Jangan sampai. Selama kita menjalankan SOP, insyaallah semua berjalan dengan baik,” tegasnya.

Pria lulusan Universitas Terbuka Palembang Fakultas Ekonomi Manajemen ini mengatakan, tahun 2018 lalu menjadi rekor terbanyak penumpang yang ia catat per harinya dalam hari Natal dan tahun baru. “Penumpang per hari Natal tahun baru kemarin mencapai 4.100. Lebih banyak penumpang waktu Lebaran Idul Fitri yang per harinya 3.218,” kata dia.

Amancik menyebut, libur Natal dan tahun bagi anak sekolah dan cuti para pegawai memengaruhi lonjakan jumlah penumpang tersebut. Bagi Amancik, pertama kali merasakan suasana Jember setelah dipindahtugaskan dari Lampung, tentu saja berbeda.

Di Jember, Amancik tak memboyong keluarganya yang berada di Palembang. “Anak-anak saya masih sekolah di sana. Kalau diboyong ke Jember semua waktu Lebaran, tiket PP-nya juga cukup mahal,” canda Amancik.

Dia pun menceritakan sedikit suka duka saat memimpin beberapa stasiun kecil dan besar. Sebab, tentu banyak perbedaan. Apalagi, soal intensitas kereta api dan jumlah penumpang yang jelas berbeda.

“Kalau di Stasiun Jember fasilitas dan KUPT-nya dekat. Jadi koordinasinya lebih mudah. Dukanya, stasiun besar pasti lebih banyak penumpang, tentu komplain penumpang juga semakin banyak kalau layanan kami tidak memuaskan,” katanya.

Sementara itu, saat bertugas di stasiun kecil, letak stasiunnya jauh dari lokasi keramaian. “Susahnya waktu cari makan itu jauh,” imbuhnya, sambil tertawa kecil. (*)

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Hadi Sumarsono