Buat Beli Seragam Baru untuk Adik

Terinspirasi Sang Ayah Menjadi Pencuri

RADAR JEMBER.ID – Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kasus yang dialami oleh anak di bawah umur berusia 16 tahun ini. Sebut saja Tukimin, dia menjadi pencuri karena terinspirasi oleh ayahnya yang menjadi pencopet.

IKLAN

Anak ini sudah menjalankan aksinya sejak lulus SD. Dia tidak melanjutkan sekolah setelah itu. Lingkungan sekitarnya menjadikan Tukimin seorang spesialis pencopet gawai. Apalagi, sang ayah juga sudah keluar masuk penjara.

Perbuatan itu dilakukan di puskesmas, memafaatkan orang-orang yang sedang lalai. Bahkan, Tukimin juga sering diajak ayahnya melakukan aksi pencurian. Tetapi, hanya menjadi joki. Sementara sang ayah terjun masuk ke dalam puskesmas mencari keluarga pasien yang lalai.

“Saya kalau diajak ayah hanya sebagai joki saja, dan tidak ikut melakukan pencurian. Ayah yang masuk dan saya tetap di atas motor,” kata Tukimin saat berada di Mapolsek Mumbulsari. Tukimin tertangkap mencuri gawai milik anak-anak, Minggu lalu (28/7). Saat itu, dia mengincar anak-anak yang sedang bermain gawai di halaman rumah. Ketika  sepi, dia merampasnya dan langsung pergi. Pelaku tertangkap di Kecamatan Tempurejo, bahkan sempat dihajar massa dan diserahkan pada aparat kepolisian.

“Sebelum ayah tertangkap polisi, saya memang selalu diajak,” akunya. Modus pencurian yang dilakukan adalah mencari puksesmas yang ada ruang inapnya. Setelah itu, masuk dulu di halaman parkir dan berpura-pura membesuk pasien.

Setelah dirasa aman dan ada sasaran, langsung keluar lagi dari parkiran, sedangkan sang ayah tetap di puskesmas. “Saya bagian mengawasi situasi, dan tetap berada di atas motor dengan kondisi mesin tetap hidup,“ ujarnya polos.

Sang ayah pernah tertangkap saat mencuri di Polres Banyuwangi. Tukimin tinggal bersama ibu dan adiknya. “Saya terpaksa merampas HP milik korban ini, karena ingin sekali membelikan baju seragam dan ingin memberi uang saku untuk adik,” terangnya.

Perbuatan amoral itu dilakukan untuk mencukupi kebutuhan adiknya. “Apalagi, sejak ayahnya tertangkap, mereka harus meninggalkan rumahnya untuk menghilangkan jejak,” kata AKP Heri Supadmo, Kapolsek Mumbulsari.

Heri mengimbau kepada orang tua yang anaknya dibelikan gawai untuk tidak bermain gawai di depan rumah atau di pinggir jalan. “Yang menjadi korban perampasan oleh pelaku ini sedang bermain HP di depan rumahnya yang berada di pinggir jalan,” ujarnya.

Diakuinya, di Mumbulsari sering terjadi aksi jambret. Biasanya, para pelaku jalan-jalan terlebih dahulu. Mencari tempat yang lebih aman untuk melakukan aksinya. Apalagi, banyak jalan yang sepi di wilayah Mumbulsari.

Sementara itu, Solihati, pendamping anak dari Pusat Pelayanan Terpadu Terhadap Perempuan dan Anak (PPTTPA) Jember menambahkan, anak yang melakukan tindak pidana dan usianya masih di bawah umur bisa disebut sebagai korban.

Menurut dia, patut dilakukan pendampingan terhadap Tukimin, karena usia anak belum bisa bertanggung jawab. Untuk itu, anak yang berkonflik dengan hukum bisa diselesaikan secara kekeluargaan, dengan catatan, pihak korban atau keluarganya memaafkan.

Solihati menjelaskan, penyelesaian secara kekeluargaan disebut dengan istilah diversi. Penyelesaian secara kekeluargaan akan tidak berlaku apabila tindakan pidana yang dilakukan anak memiliki ancaman hukuman di atas tujuh tahun.

“Setiap anak, baik korban atau pelaku tindak pidana, itu disebut korban. Karena anak belum bisa bertanggung jawab atas dirinya. Makanya, PPT tetap melakukan pendampingan, termasuk siap membantu apabila dibutuhkan pengacara, bisa dari LBH,” jelasnya.

Dia menambahkan, anak yang berkonflik dengan hukum juga dibedakan menjadi dua hal. Apabila anak belum pernah ditahan sebelumnya, maka anak tersebut bisa dilakukan diversi. Namun, apabila anak tersebut merupakan residivis, maka diversi sudah tidak bisa dilakukan lagi.

“Kepolisian wajib melakukan diversi pada anak yang konflik dengan hukum. Artinya, harus ada mediasi untuk membahasnya secara kekeluargaan. Apabila korban dan keluarganya memaafkan, bisa jadi kasus itu selesai di situ. Misalnya kasus pencurian, bisa dengan ganti rugi apabila ada kesepakatan,” paparnya.

Apabila langkah mediasi di kepolisian belum ada benang merah, maka di kejaksaan pun harus dilakukan diversi sebelum dilanjutkan ke pengadilan. Prosesnya juga sama, yaitu mediasi untuk mencari penyelesaian sebelum masuk ke pengadilan.

“Begitu pula dengan di pengadilan. Sebelum sidang digelar, maka harus ada langkah diversi. Apabila musyawarah itu tidak ada kesepakatan, baru anak tersebut disidangkan,” jelas Solihati.

Solihati menyarankan, anak yang berkonflik dengan hukum selayaknya diselesaikan melalui jalan musyawarah terlebih dahulu. “Pendampingan terhadap anak kami lakukan sampai proses persidangan selesai atau sampai putusan,” pungkasnya. (*)

Reporter : Nur Hariri, Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Bagus Supriadi