Kisah Orang Tua Pasien Bibir Sumbing

TERSENYUM: Raisa tersenyum bersama kedua orang tuanya saat menunggu giliran operasi.

RADAR JEMBER.ID – Perawakannya kurus dan tinggi, raut wajahnya tenang. Sekilas ia terlihat sedang gusar. Itulah penggambaran Mahfud, 31, warga Dusun Krajan, Desa Pringgodani, Kecamatan Sumberjambe, saat mendampingi putrinya, Raisa, 1 tahun, menunggu giliran operasi di Rumah Sakit Bina Sehat Jember (RSBS), Sabtu (27/7) lalu. Ia tak sendiri. Istrinya, Masiroh, 23 taun, yang tampak menggendong Raisa berusaha menenangkan.

IKLAN

Kesempatan ini telah dinanti sejak setahun lalu. Namun, harus menunggu giliran, membuat putrinya sedikit rewel. “Mungkin karena suasananya beda dengan di rumah, jadi Raisa agak rewel,” tuturnya.

Meski begitu, sembari duduk, ia kembali terdiam dan matanya pun menerawang jauh. Seolah ia mencoba mengingat-ingat momen Raisa dilahirkan yang secara bersamaan ia harus menerima kenyataan. Ya, Raisa terlahir berbeda pada bagian bibirnya.

“Rasanya seperti dikasih rezeki dan ujian sekaligus. Bahagia dan sedih secara bersamaan. Tapi, segera ingat bahwa Allah SWT tidak akan memberikan ujian yang tidak bisa dilalui oleh umat-Nya. Saat itu, saya terus berdoa untuk Raisa,” ucapnya

Bertempat tinggal di daerah dengan jarak tempuh 1,5 jam dari pusat Kota Jember membuat ia tak bisa berbuat banyak. Ditambah lagi pekerjaannya sebagai petani, bisa mencukupi kebutuhan keluarga untuk sehari-sehari saja sudah sangat bersyukur. Akhirnya, doanya pun perlahan dikabulkan.

“Dapat info dari Pak Kades, katanya ada operasi bibir sumbing. Mendengar itu, perasaan saya sudah senang luar biasa. Lalu, diantar dengan mobil Pak Kades ke RSBS. Daftar, diperiksa, dan dikasih penjelasan kalau Raisa bisa dioperasi. Alhamdulillah, inilah penantian selama ini,” tuturnya semringah.

Jika sudah dioperasi, dia berharap Raisa juga dapat melalui proses pemulihan sesegera mungkin. Sebab, ia tak ingin Raisa terlalu lama menahan sakit setelah operasi. Selain itu, ia tak sabar untuk melihat senyum yang mengembang sempurna dari bibir kecil Raisa.

“Karena sebelum dioperasi, saat melihat Raisa tersenyum, hati saya senang dan prihatin. Kepikiran bagaimana kalau beranjak dewasa dan jadi minder. Tapi itu semua sirna dan berganti harapan baru dari sebuah senyuman Raisa yang baru,” jelasnya.

Dia juga mengatakan, betapa beruntungnya dia dan istri mendapat amanah akan hadirnya anak. Itu pun lengkap, putra dan putri. Setahun ke belakang ini menjadi proses belajar untuk lebih bersabar dan ikhlas.

“Boleh dibilang, Raisa termasuk yang cepat dapat jalan dan bantuan operasi gratis. Keluarga pasien yang lain rupanya ada yang harus menunggu belasan tahun. Maka dari itu, saya dan istri komitmen untuk selalu bersama-sama demi anak,” pungkasnya. (*)

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Istimewa

Editor : Bagus Supriadi