Enik Setyana, Relawan Penjemput TKI Stroke Malaysia

Berangkat Mendadak karena Keluarga Rubiah Menyerah

Menjadi relawan kemanusiaan harus benar-benar tahan banting. Enik Setyana, relawan F2U Kecamatan Ambulu rela menghabiskan waktu seminggu penuh untuk mengurus dan membawa pulang TKI yang sakit stroke di Malaysia.

IKLAN

Sumberejo, Radar Jember ID. Nafas Enik Setyana masih terengah-engah. Dia baru saja tiba di rumahnya setelah seminggu penuh berada di jalanan. Perempuan yang menjadi relawan F2U Kecamatan Ambulu itu seakan lega, karena berhasil menjemput dan membawa pulang Rubiah, seorang TKI yang sakit stroke di Malaysia, kemarin (29/1).

Enik menjelaskan, penjemputan Rubiah yang merupakan TKI asal Dusun Krajan Lor, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu yang mengalami stroke di Malaysia tergolong nekat. Hal itu dilakukan karena dirinya iba melihat keluarga korban sudah menyerah atas kondisi Rubiah.

Apalagi, Enik juga tinggal satu desa dengan TKI. Sehingga dia paham benar, keluarga yang bersangkutan tergolong warga kurang mampu. Rasa iba itu pun bertambah begitu diketahui Rubiah yang menjadi TKI dua tahun lalu yang berangkatnya tidak melalui jalur resmi.

“Ibu Rubiah di sana menjadi pembantu rumah tangga. Dia terserang stroke dan sakit lainnya semenjak tiga bulan lalu. Karena saya kasihan dan keluarganya sudah menyerah, akhirnya saya putuskan berangkat mendadak,” ceritanya.

Enik pun memutuskan berangkat tanggal 23 malam. Saat itu dirinya tidak sendirian. Dia mengajak serta putra Rubiah, yaitu Suryanto. “Saya mengajak anaknya karena hanya ada dia,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Lantaran keberangkatannya mendadak, Enik dan Suryanto pun hanya bisa membawa uang saku seadanya. Sebagai relawan, dia sebanarnya bisa mengajukan bantuan dari Dinas Sosial atau dari pemerintah. Namun tidak sempat, karena dia langsung berangkat malam itu juga.

Keberangkatannya ke Surabaya tak semulus kebanyakan orang. Hal itu dikarenakan keduanya harus membeli tiket dan menunggu pesawat untuk bisa terbang ke Tanjung Pinang, Riau. Begitu sampai, Enik mencari petugas Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP2TKI) Tanjung Pinang. “Setelah kami mendengar mau dibawa ke Tanjung Pinang, kami harus cepat-cepat sampai. Khawatir tidak terurus,” katanya.

Setelah berhasil sampai di Tanjung Pinang , barulah dia bisa bertemu dengan Rubiah. Rasa sedih begitu mendalam langsung muncul saat melihat kondisi Rubiah yang mengenaskan. Tubuhnya begitu ringkih dan kurus. Tak heran, Enik tak kuasa menahan air mata yang menitik di wajahnya.

Namun perjuangannya memulangkan Rubiah belum selesai. Dia harus menghubungi Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Jember, BP2TKI Surabaya, rumah sakit, serta beberapa pihak lain. “Melihat Ibu Rubiah tidak punya apa-apa lagi dan kondisinya cukup parah, akhirnya saya meminta tolong agar dibantu dan diurus. Alhamdulillah, semua merspon dengan baik hingga sampai di Jember,” ungkapnya.

Rubiah yang tengah sakit kemudian langsung dibawa ke RSD dr Soebandi Jember. Sementara Enik yang ikut dalam rombongan mobil ambulans mulai tampak tersenyum. Setelah semuanya selesai, Enik pun pulang ke rumahnya. “Sekarang ibu Rubiah sudah dirawat di rumah sakit, semoga cepat sembuh,” ujarnya.

Sementara itu Mistoro, Ketua F2U Jenggawah mengatakan, semua TKI yang akan berangkat ke luar negeri wajib menjalani tes kesehatan secara optimal. “TKI yang berangkat tidak melalui jalur resmi, harapan kami bisa lebih diperketat, sehingga bisa terpantau siapa saja warga Jember yang bekerja ke luar negeri,” ucapnya.

Rubiah memang menjadi TKI tanpa melalui jalur resmi. Karena itu Mistoro berharap, Rubiah menjadi warga Jember terakhir yang menjadi TKI ilegal. Jika masih ada lagi warga Jember yang ke luar negeri secara ilegal, bukan hal mustahil mengalami kendala seperti sakit atau tidak terurus berbulan-bulan di luar negeri. “Harapan kami, semua TKI yang keluar negeri pakai jalur resmi. Jangan sampai ada yang berangkat ilegal,” pungkasnya. (nur/lin)

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih