Pembunuhnya Ternyata Suami Sendiri

Dirancang Seolah-olah Bunuh Diri, Korban Dihabisi ketika Tidur

BUKAN BUNUH DIRI: Kapolres Jember AKBP Alfian Nurrizal menunjukkan bukti-bukti yang digunakan tersangka membunuh istrinya sendiri ketika rilis di halaman polres, kemarin (28/10).

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sesaat setelah istrinya ditemukan meninggal, Rendi Setiawan terlihat syok. Ia duduk di sebuah kursi ditemani dua kerabatnya. Wajahnya menunduk. Tangannya tak henti-henti menutup muka. Sejurus kemudian, tangisnya pecah. Raungannya membuat iba tetangga yang datang di lokasi kejadian, Perumahan Karyawan Afdeling Dampar PTPN XII Kebun Mumbul, Desa Kawangrejo, Kecamatan Mumbulsari.

IKLAN

Rupanya, air mata buaya pemuda 28 tahun ini tak mampu mengelabui polisi. Melalui serangkaian penyelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi, aparat menyimpulkan pelaku pembunuhan terhadap Fani Amalia Herawati adalah suaminya sendiri.

KENANGAN: Foto repro saat tersangka dan korban menikah pada 23 Desember 2018 lalu.

Kasus pembunuhan ini terbilang sadis. Perempuan 26 tahun itu ditemukan bersimbah darah dengan sebilah pisau yang menancap di perutnya. Terlebih, tersangka merancang agar peristiwa itu seolah-olah aksi bunuh diri. Karena sebelumnya, tersangka sempat menghubungi adik korban dan meminta agar menjenguk kakaknya yang sedang sakit. Sementara dia sendiri pamit akan membeli obat ke apotek. Tak hanya itu, tersangka juga sempat mengirim pesan singkat ke sang adik melalui HP korban, isinya adalah permintaan maaf.

“Kami melakukan penyelidikan secara maraton. Dari situ kami temukan sejumlah kejanggalan-kejanggalan. Kemudian kami simpulkan pelakunya adalah suami korban,” ungkap AKBP Alfian Nurrizal, Kapolres Jember, saat menggelar rilis di Mapolres Jember, kemarin (28/10). Dia menambahkan, tersangka ditangkap saat diperiksa menjadi saksi di Polsek Mumbulsari.

Menurut Alfian, ketika dimintai keterangan mengenai tewasnya korban, tersangka yang badannya penuh tato ini awalnya mengaku hendak mengirim paket ke wilayah Gebang, Kecamatan Patrang, sekaligus membelikan obat yang dipesan istrinya. Namun setelah ditelusuri, pengakuan itu palsu dan hanya menjadi alibi tersangka. “Demikian juga saat dilakukan pengecekan ke apotek yang dalam pengakuan tersangka untuk membeli obat buat istrinya, ternyata juga tidak ada,” ujarnya.

Kejanggalan lain, lanjut Alfian, adalah boneka beruang warna biru yang posisinya persis di atas perut korban. Kata dia, mustahil orang melakukan bunuh diri dan kondisinya sekarat, masih berpikir untuk menutupi dengan boneka sebesar itu. “Jadi, sangat tidak mungkin kalau korban bunuh diri kemudian menutup pisaunya dengan boneka,” jelasnya.

Hasil penyelidikan polisi menyebutkan, sebelum membunuh, tersangka yang bekerja sebagai sekuriti di perkebunan itu pamit pulang lebih dulu, sekitar pukul 03.00 dini hari. Setibanya di rumah, korban dan tersangka sempat membahas persoalan rumah tangga. “Bahkan tersangka dan korban ini sempat bercanda hingga akhirnya korban tertidur,” papar Alfian.

Saat tidur itulah, sambung dia, tersangka mengambil pisau penghabisan di atas lemari yang ada di dalam kamar. Lalu, menggunakan tangan kiri, tersangka menghunjamkan pisau itu ke perut korban. Supaya tidak berteriak, tersangka membekap wajah korban menggunakan bantal. “Satu kali tusukan pisau yang masuk ke perut korban sekitar 26 sentimeter hingga tembus alas tidur korban,” terangnya.

Aksi pembunuhan itu, menurut Alfian, dilakukan sekitar pukul 04.30 pagi. Setelah itu, tersangka menutup bagian perut korban yang masih tertancap pisau dengan boneka beruang warna biru. Agar muncul kesan korban bunuh diri, tersangka mengirim pesan WhatsApp ke Renda, adik tersangka, yang berisi permintaan maaf. Pesan yang dikirim setelah korban tewas itu dibuat seolah-olah diketik sendiri oleh korban. “Padahal yang mengetik permintaan maaf itu adalah tersangka sendiri menggunakan HP milik korban,” ujar Alfian.

Setelah kejadian, tersangka keluar rumah dan mengunci pintu dari luar. Namun, kunci rumah itu oleh tersangka dilekatkan ke kunci motor yang ada di luar rumah. Modus ini dilakukan untuk membuat alibi, seolah-olah saat peristiwa terjadi, tersangka tidak ada di rumah. Selanjutnya, tersangka menghubungi Sri Hartati, 37, kakak iparnya, dan Renda, 24, agar mendatangi rumah yang dia huni bersama korban.

Saat menghubungi kakak iparnya inilah, tersangka menanyakan jenis obat yang akan dibeli. Sebab, menurut versi tersangka, korban ditelepon tidak diangkat. Pesan yang dikirim juga tak dibalas. “Kemudian kedua saksi, yakni Srihartati dan Renda ini mendatangi rumah korban. Saat itulah korban ditemukan meninggal dengan kondisi perut tertancap pisau,” kata mantan Kapolres Probolinggo Kota ini.

Lantas, apa yang menyebabkan tersangka membunuh istri yang baru dinikahi pada 23 Desember 2018 itu? Menurut Alfian, salah satu pemicunya adalah persoalan ekonomi. Kata dia, tersangka menganggap korban tidak menghargainya sebagai suami. “Tapi intinya adalah persoalan ekonomi, dan sejak beberapa bulan terakhir keduanya sering cekcok,” sebutnya.

Kendati begitu, tersangka tak dijerat dengan pasal pembunuhan berencana, karena pisau yang digunakan menghabisi korban sudah ada di dalam kamar. Aksi itu dilakukan spontan lantaran emosi setelah cekcok dengan sang istri. “Akibat perbuatannya, dia terancam dengan hukuman 15 tahun penjara,” pungkas Alfian.

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Mahrus Sholih