Tumbuhkan Humanisme Siswa dengan Mudah Beramal

Aksi Simpatik TK-SD Rukun Harapan yang Bagi-Bagi Takjil

Toleransi tinggi ditunjukkan oleh TK-SD Rukun Harapan Jember. Dengan murid yang terdiri atas berbagai latar belakang, ada kekompakan antara guru, komite sekolah, murid, hingga wali murid.

JAGA TOLERANSI: Siswa TK-SD Rukun Harapan Jember membagi takjil di Jalan Ahmad Yani, depan kantor Jawa Pos Radar Jember.

RADAR JEMBER.ID – Keceriaan anak-anak TK-SD Rukun Harapan benar-benar terpancar saat mereka berbagi takjil di Jalan Ahmad Yani, depan kantor Jawa Pos Radar Jember, dua hari lalu. Lebih membahagiakan lagi, mereka membaginya dengan ditemani para guru serta wali murid alias orang tuanya sendiri.

IKLAN

Berbagi takjil saat bulan Ramadan memang banyak dilakukan oleh lembaga atau instansi yang ada di Jember. Tetapi, ada proses yang berbeda dengan yang dilakukan siswa TK-SD Rukun Harapan ini.

Sekolahnya sudah rutin mengagendakan bertahun-tahun silam. Bahkan, agenda tersebut juga tumbuh atas dukungan para orang tua siswanya. “Kami sudah rutin mengagendakan pembagian takjil setiap tahun. Tapi, ada hal berbeda yang kami lakukan. Yaitu takjil sebagian besar berasal dari para wali murid. Sementara sekolah juga menganggarkan sebagian saja,” kata Anggun, Kepala TK Rukun Harapan.

Proses untuk bisa berbagi takjil, menurutnya, melalui rapat bersama komite sekolah yang menghadirkan para wali murid. Di sana, orang tua siswa kemudian memberikan dukungan penuh terhadap sekolah. “Setiap siswa membawa dua bungkus nasi untuk dibagikan sebagai takjil,” ucap Anggun.

Sementara itu, untuk membuat takjil, sekolah menggunakan dana yang telah dianggarkan. Pada saat pembuatan takjil bersama, Yayasan Rukun Harapan sengaja melibatkan para siswa untuk ikut membuat makanan tersebut. “Khusus minumannya, itu dibuat di sekolah. Siswa yang sudah besar (SD) juga ikut membantu. Jadi, itulah modalnya sehingga kami tetap bisa berbagi setiap tahun,” ucapnya.

Apa yang dilakukan TK-SD harapan setidaknya patut menjadi contoh yang baik. Bagaimana tidak, untuk mengumpulkan wali murid saja, terkadang ada sekolah yang kesulitan. Apalagi sampai harus diberi tugas membawa dua bungkus nasi untuk dibagikan kepada orang yang berpuasa.

Anggun menyebut, program rutin tahunan pembagian takjil menurutnya merupakan satu pelajaran penting untuk ditularkan kepada para siswa. Dengan berbagi, maka siswa akan bisa langsung mempraktikkan betapa pentingnya beramal. Apabila kebiasaan itu tertanam pada diri siswa, bukan tidak mungkin rasa humanisme siswa akan tumbuh dengan sendirinya.

“Anak-anak TK atau SD kalau memegang es, tentu susah untuk diminta. Akan tetapi, kita balik, yaitu kita ajarkan, es yang mereka pegang untuk diberikan kepada orang. Semoga rasa humanisme anak-anak bisa tumbuh, sehingga saat besar nanti mereka menjadi anak yang mudah beramal,” papar Anggun.

Menurut siswa SD Rukun Harapan, Fecia, berbagi takjil saat Ramadan memang mengasyikkan. Apalagi, banyak orang yang juga membutuhkan karena seharian sudah berpuasa. “Senang, ya, bisa berbagi,” kata Fecia.

Hal senada juga disampaikan, Clement, siswa SD Rukun Harapan lainnya. Dikatakannya, dengan agenda sekolah berbagi takjil seperti itu, dirinya bisa melihat bahwa masih banyak orang yang membutuhkan sekalipun itu sekadar minuman es dan nasi kotak. “Kalau semua orang mudah berbagi, mungkin jarang ada orang yang kekurangan,” tuturnya dengan polos.

Berbagi seperti anak-anak ini pun tentunya tidak bisa dilakukan semua anak. Apabila tidak diajarkan berbagi sejak dini, bisa saja tumbuh kembang anak akan menjadi orang yang pelit dan apatis terhadap sesama. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer :

Editor : Rangga Mahardika