Angin Perubahan Bupati KH Salwa dan Wabup Irwan, Konsolidasi Birokrasi lewat Salat Berjamaah

SHOLIKUL HUDA/RADAR IJEN SAMBUTAN MERIAH: Bupati KH Salwa Arifin dan Wabup Irwan Bachtiar dapat sambutan meriah dari masyarakat Bondowoso. Di pundak keduanya, perubahan ke Bondowoso Sae dibebankan.

BONDOWOSO RADARJEMBER.ID – Nuansa agamis dibangun Bupati Bondowoso KH Salwa Arifin. Baru saja dilantik, dia mengeluarkan Surat Edaran (SE) yang berisi imbauan berdoa dan melaksanakan salat tepat waktu dengan berjamaah. Imbauan itu diperuntukkan kepada seluruh instansi baik pemerintahan maupun instansi pendidikan dan pertahanan seperti TNI dan Polri.

IKLAN

Imbauannya agar menghentikan seluruh kegiatan/aktivitas saat azan berkumandang. Segera menunaikan salat fardu berjamaah di masjid/musala serta ruangan lainnya yang digunakan sebagai salat berjamaah.

Kebijakan itu, ditunjukkan Bupati Salwa Arifin dengan mengajak anggota dewan maupun organisasi perangkat daerah (OPD) untuk salat berjamaah. Seperti saat usai paripurna di DPRD Rabu (26/9). Bupati Salwa mengajak anggota DPRD maupun OPD untuk salat di musala DPRD. Begitu juga saat ada kegiatan di Badan Kepegawaian Daerah (BKD), (27/9), Bupati Salwa juga mengajak kepala dinas bersama Plt Sekda untuk salat berjamaah.

Langkah itu adalah awal. Sebab hal pertama yang akan dibangun adalah kebersamaan. Bupati Salwa awal kali akan membangun kebersamaan untuk menyatukan persepsi. Utamanya persepsi internal pemerintah daerah. “Tidak dipungkiri memang ada sekat-sekat, kami ingin membuat sekat-sekat itu untuk bersama menyatukan persepsi membangun Bondowoso,” ujarnya.

Mengenai agama, Pengasuh Ponpes Manbaul Ulum ini ingin mengutamakan pendidikan keagamaan. Karenanya pihaknya memperjuangkan kenaikan honor guru ngaji. Yang awalnya hanya Rp 800 ribu, diusahakan menjadi Rp 1,5 juta, untuk intensif guru ngaji dalam waktu satu tahun. Sentuhan lainnya adalah usaha peningkatan dana BOSDA dari awalnya hanya 8 bulan, akan diusahakan menjadi 12 bulan.

Pembangunan berikutnya, Bupati Salwa ingin membangun UMKM dan pertanian. Apa yang baik yang telah dibangun pemimpin lama, akan diteruskan dan ditingkatkan. Seperti adanya Pertanian Organik. Menurut Bupati Salwa produk itu harus ditingkatkan. Sebab selama ini sudah terbukti baik.

Bupati Salwa menegaskan, dalam membangun Bondowoso, tidak akan mengubah strukturisasi stakeholder semaunya sendiri. Sebab saat pilkada, pihaknya tidak pernah menjanjikan suatu jabatan apa pun kepada siapa pun. “Saya tidak pernah menjanjikan jabatan kepada siapa pun selama ini. Ketika baik, bisa dilanjutkan ya dilanjutkan. Kembali ke profesionalisme dan kompetensi,” tegasnya.

Wakil Bupati: Media Harus Ikut Mengawasi

Wakil Bupati Irwan Bachtiar rupanya juga sangat bersemangat untuk segera melakukan inovasi. Wabup Irwan ingin mengajak media untuk ikut serta melakukan pengawasan. Sehingga tidak hanya bagusnya saja yang ditulis. Kejelekan proses pembangunan harus juga ditulis. Hal itu sebagai kontrol sosial.” Kepada teman-teman pers, saya minta masukannya. Ojok sampek apik-apik’e tok, seng elek tulis,” ujar Irwan Bachtiar.

Salah satu hal yang menjadi pengawasannya adalah proses pembangunan infrastruktur. Selama ini banyak yang mengeluh hanya 1 sampai 3 bulan ada bangunan yang rusak. Menurut dia, nilai ekonomis suatu bangunan minimal 10 tahun harus bisa bagus. Pihaknya mengajak seluruh pihak untuk mengawasi, baik jurnalis maupun masyarakat bisa langsung menyampaikan kepada bupati dan wakil bupati. “Langsung beritahukan kepada kami,” jelasnya.

Wakil bupati yang juga ketua DPC PDIP ini memiliki program bebas pungli dan bebas jual beli jabatan. Penerapannya dilakukan sebagaimana biasanya yang sudah berlaku. Masyarakat yang melihat adanya praktik-praktik pungli dan korupsi dalam pelayanan, harus berani melapor. Laporan itu akan dijadikan bahan bupati dan wakil bupati bertindak.

Mengenai program pemerintahan lama, Mas Irwan berkomitmen program yang baik untuk masyarakat diteruskan. Terpenting saat ini yang prioritas adalah bagaimana bisa melayani masyarakat agar masyarakat bisa tertawa. Utamanya dalam bidang kesehatan dan pendidikan. “Jadi tidak ada lagi orang mengeluh, karena tidak punya biaya, tidak dilayani oleh rumah sakit, tidak punya biaya, tidak bisa menyekolahkan anak. Itu menjadi program unggulan kami nantinya. Minimal rakyat iso ngguyu lah,” jelasnya.

Reporter & Fotografer: Sholikhul Huda
Editor : Narto
Editor Bahasa: Yerri A Aji

Reporter :

Fotografer :

Editor :