Harga LPG Melon Makin Ngawur: Di Jember Rp 22 Ribu, di Lumajang Tembus Rp 30 Ribu

WAWAN DWI/RADAR JEMBER SUSAH DIDAPAT: Armiati (kiri) bersama tetangganya kesulitan mencari elpiji 3 kilogram. Mereka harus berjalan sekitar tiga kilometer untuk mendapatkan bahan bakar gas tersebut.

RADARJEMBER.ID – Ibu rumah tangga di Jember dibuat pusing akibat langkanya gas elpiji 3 kilogram di pasaran. Bahkan, mereka harus membeli hingga jauh ke kampung sebelah untuk mendapatkan bahan bakar gas bersubsidi tersebut. Kelangkaan ini tak hanya terjadi di kawasan perkotaan saja, kondisi yang sama juga terjadi di sejumlah daerah pinggiran.

IKLAN

Saidah, warga Lingkungan Sumberwringin, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari mengatakan, sudah tiga hari ini dirinya tak mendapat elpiji melon. Di beberapa toko pengecer yang menjadi langgannya juga habis.

Untuk itu, ibu rumah tangga ini harus membeli ke pengecer lain yang ada di lingkungan tetangga agar dapurnya tetap bisa mengepul. Bahkan, untuk mendapatkan elpiji bersubsidi tidak mudah. Dia keliling ke setiap toko banyak yang kosong, baru mendapatkan di lingkungan lain dengan berjalan kaki sekitar 3 kilometer. “Selain langka, harganya juga naik. Jika biasanya di tingkat pengecer hanya Rp 18 ribu per tabung, saat ini menjadi Rp 20 ribu. Itu pun harus menunggu tiga hari baru dapat,” kata perempuan 40 tahun tersebut, kemarin.

Dia juga heran mengapa bahan bakar bersubsidi ini sulit didapat. “Meskipun di sini itu kampung, tapi tetap kota dan tidak jauh. Apalagi di desa, bisa saja sulit dapat elpiji,” imbuhnya.

Hal yang sama juga diutarakan Armiati, tetangganya. Sejak tiga hari terakhir, dirinya harus rela berkeliling ke sejumlah pengecer untuk mendapatkan elpiji melon. Namun, upayanya tak membuahkan hasil. Perempuan 38 tahun ini baru mendapat elpiji Minggu (26/8) malam. “Saya sejak Lebaran Iduladha lalu tak mendapat elpiji. Akibatnya, daging kurban yang saya terima baru saya masak hari ini,” ujarnya.

Sementara itu, Minati, penjual eceran elpiji 3 kg di Lingkungan Sumberwringin mengaku, stok gas elpiji di tokonya habis sejak tiga hari lalu. Biasanya, barang akan dikirim oleh agen di tiap awal pekan dengan jumlah 25 tabung. “Biasanya itu cukup untuk seminggu. Tapi saat ini, tiap ada kiriman, empat hari barang sudah habis,” ungkapnya.

Menurut Minati, kosongnya stok elpiji di tokonya itu karena para pembeli yang datang tak hanya dari lingkungannya saja, tapi juga banyak yang berasal dari lingkungan lain di sekitar kampungnya. “Kalau sebelumnya kan hanya warga sini saja yang beli. Tapi sejak beberapa hari terakhir, juga banyak dari warga luar sini,” akunya.

Kelangkaan gas elpiji juga terjadi di Kecamatan Ajung, yang merupakan wilayah yang berdekatan dengan kawasan kota. Menurut Bustomi, dirinya kesulitan mendapatkan bahan bakar gas itu sejak beberapa hari terakhir. Warga Desa Pancakarya, Kecamatan Ajung ini baru mendapat elpiji setelah mendatangi sejumlah pengecer di daerahnya. “Tapi di sini harganya masih normal. Saya tadi dapat Rp 17 ribu per tabung,” tandasnya.

Rupanya, kelangkaan elpiji bersubsidi ini tak hanya terjadi di kawasan perkotaan saja. Pantauan radarjember.id, di sejumlah daerah pinggiran juga terjadi hal serupa. Bahkan, di Kecamatan Gumukmas ada beberapa pengecer yang menjual dengan harga lebih tinggi, mencapai Rp 22 ribu per tabung.

Wahid, warga Dusun Ngepean, Desa Purwoasri, Kecamatan Gumukmas mengutarakan, sejak beberapa hari terakhir, di wilayahnya elpiji 3 kilogram sangat sulit dicari. Padahal, kata dia, warga di kampungnya sangat membutuhkan bahan bakar tersebut. Karena tak hanya untuk memasak, tetapi menjadi bahan bakar utama mesin pompa diesel yang digunakan mengairi sawah petani.

Gas melon itu, sambung Wahid, memang menjadi andalan petani untuk menggerakkan pompa diesel. Sebab, di saat musim kemarau seperti ini, para petani mengairi sawah mereka dengan mesin penyedot air, bukan dari kanal irigasi. “Soalnya kalau pakai gas lebih hemat. Sedangkan pakai bensin boros. Tapi kalau tidak ada barangnya, ya terpaksa kami kembali menggunakan bensin,” jelasnya.

Sementara di Lumajang, seperti diberitakan koran ini kemarin, harga elpiji melon juga melambung tinggi. Sampai kemarin, harga masih ugal-ugalan sejak naik sebelum Iduladha 1439 H. Paling murah harga elpiji 3 kilogram dijual Rp 20 ribu.

Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, hampir semua kawasan di Lumajang mengalami krisis elpiji 3 kg. Bukan cuma di kawasan pinggiran Lumajang. Di pusat kota sekalipun menunjukkan kelangkaan bahan bakar utama untuk memasak itu.

Di kawasan perbatasan Rowokangkung misalnya. Di sana hanya dijatah pengiriman ke titik penjualan dari agen. Biasanya di-drop sampai 30-an unit. Saat ini jangan harap. Dapat kiriman 7 saja sudah untung. Sebab, rebutannya luar biasa antar para pengecer.

Di kawasan perkotaan juga tak kalah pusingnya. Di Sukodono saja misalnya, tidak ada satupun penjual eceran yang memasang harga normal. “Kalau nyari yang 15 ribu atau 17 ribu gak ada. Kalau Rp 20 ribu atau Rp 30 ribu baru ada,” kata Yanti, salah satu penjual eceran di Klanting.

Reporter : Hafid Asnan, Mahrus Sholih
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah.
Fotografer: Dwi Siswanto

Reporter :

Fotografer :

Editor :