Komitmen Memeratakan Akses dan Kualitas Pendidikan

SOSIALISASI: Kepala sekolah se-Jember serius mendengarkan sosialisasi PPDB Kabupaten Jember, kemarin (27/5), di Aula Dispendik. Penerapan zonasi dalam PPDB tahun ini dilakukan semua jenjang sekolah, mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA.

RADAR JEMBER.ID – Pemkab Jember berkomitmen memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi penduduk usia sekolah agar mendapatkan layanan pendidikan terbaik. Semangat ini yang melatarbelakangi pemerintah daerah untuk menerapkan sistem zonasi di masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini.

IKLAN

Bupati Jember dr Hj Faida MMR mengatakan, tujuan memakai sistem zonasi pada semua jenjang di PPDB tahun ini adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi penduduk usia sekolah dalam mengakses pendidikan. Selain itu, bertujuan untuk memeratakan kualitas pendidikan, memberikan kesempatan bagi siswa dari keluarga tak mampu, serta menjaring peserta didik berprestasi.

Apalagi, sistem zonasi ini juga diterapkan secara nasional. “Pemerintah juga ingin memberikan kesempatan bagi peserta didik yang berkebutuhan khusus atau inklusif. Karena prinsip pendidikan itu nondiskriminasi,” katanya.

Sistem zonasi yang digulirkan pada PPDB tahun ini dipakai untuk semua jenjang pendidikan. Mulai tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA. Sehingga, agar regulasi baru itu dipahami oleh semua pemangku kepentingan, Dinas Pendidikan (Dispendik) Jember menggelar acara sosialisasi PPDB di aula dinas setempat, kemarin (27/5).

Faida menegaskan, penerimaan PPDB tahun ini tidak akan ada lagi titip-titipan. Sebab, sistem penerimaan dan regulasinya dibuat lebih fair. Bahkan, juga ada pembatasan jumlah siswa di tiap rombongan belajar (rombel). Contohnya, untuk TK pagunya 15 siswa per rombel, SD 28 siswa, dan SMP 32 siswa per rombel. “Kami pastikan tidak ada lagi tambahan atau pengurangan pagu per rombel,” katanya.

Dia juga mewanti-wanti, agar masing-masing kepala sekolah tak menambah jumlah rombel, maupun pagu siswa tiap rombel. Jika ada kendala di lapangan, dirinya meminta para kepala sekolah berkoordinasi dengan dinas pendidikan setempat. “Kalau pagunya belum terisi, nanti akan ada pembukaan PPDB lagi yang pagu sekolahnya kosong,” tuturnya.

Bupati menambahkan, sistem zonasi ini dikecualikan bagi para penghafal Alquran atau tahfidz. Mereka bebas memilih sekolah meski di luar zonasi. Selain itu, juara 1,2, dan 3 lomba tahfidz juga bisa memilih sekolah tanpa tes melalui jalur prestasi.

Sementara itu, Kepala Dispendik Jember Edy Budi Susilo menambahkan, dasar PPDB dengan sistem zonasi adalah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 51 Tahun 2018. Sasaran calon peserta didik yang berminat mendaftarkan diri ke tk negeri di Jember, usianya antara 4-5 tahun untuk kelompok A dan usia 5-6 tahun untuk kelompok B.

Untuk masuk ke jenjang SD negeri usianya 7 tahun atau paling rendah 6 tahun per tanggal pada 1 Juli 2019. Sedangkan untuk jenjang SMP negeri adalah lulusan tahun pelajaran 2016/2017, 2017/2018 termasuk siswa lulusan Paket A. Usia mereka tidak lebih dari 15 tahun pada 1 Juli 2019. Apabila terdapat siswa yang usianya lebih dari 15 tahun maka didaftarkan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Sementara itu, untuk PPDB TK dan SD ada tiga jalur utama di zonasi ini. Di antaranya, jalur kepindahan tugas orang tua atau wali murid sebesar 10 persen, dan zonasi murni 90 persen. Selain itu, ada jalur peserta didik yang hafal Alquran minimal satu juz, serta penyandang disabilitas. “Semua sekolah berkewajiban menerima peserta didik difabel yang lulus seleksi, baik TK, SD, dan SMP,” katanya.

Sementara itu, untuk SMP Negeri ada tiga jalur plus. Pertama jalur perpindahan tugas orang tua sebesar 5 persen, prestasi 5 persen, dan zonasi murni online 90 persen. Ada juga jalur tambahan yang hanya ada di SMPN 1 dan SMPN 7, yaitu kelas olahraga sebanyak satu rombel berisi 32 siswa. “Kelas olahraga ini porsinya mengambil 90 persen dari jalur zonasi murni online,” katanya.

Dia menjelaskan, SD dan TK Negeri untuk zonasinya tidak berbasis online, tapi memakai kewilayahan. Artinya, penerapapan sistem zonasi ini adalah semakin dekat rumah calon siswa dengan sekolah yang dituju, maka peluang untuk bisa menempuh pendidikan di sekolah tersebut semakin besar. “Selain itu, jika ada calon peserta didik SD usianya lebih dari 7 tahun atau delapan tahun, itu paling besar peluang masuknya,” katanya.

Semakin dekat sekolah, semakin besar peluang diterima juga berlaku untuk calon siswa yang mendaftar di SMP. Jarak antara rumah dan sekolah itu, bisa terdeteksi saat calon siswa mendaftar di SMP menggunakan kartu keluarga (KK). Dalam sistem penerimaan, nomor KK yang dimasukkan ke sistem bisa diketahui berapa jarak antara rumah ke sekolah. “Ada aplikasinya semacam Google Maps. Jadi, kalau rumahnya nempel dengan sekolah, pasti diterima,” katanya.

Karena itu, kata dia, dalam PPDB zonasi ini peran orang tua dalam memperkirakan apakah anaknya diterima apa tidak di sekolah yang dituju cukup menentukan. Sebab, dalam proses pendaftaran selama tiga hari nanti, kata dia, sekolah berkewajiban menyediakan informasi setiap hari mengenai jumlah siswa yang sudah daftar dan berapa pagu siswa di sekolah tersebut. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Hadi Sumarsono