Na Ooghts setelah Dua Abad Berjaya, Kini Daya Saing Mulai Turun

WAWAN DWI/RADAR JEMBER UNTUK EKSPOR: Proses sortasi tembakau di gudang tembakau milik TTN di Ajung. Tembakau Na Oogts banyak diekspor ke Bremen, Turki, dan Jepang. Meski aturan soal tembakau semakin ketat, namun sejauh ini permintaan Na Oogst masih tinggi.

RADARJEMBER.ID – “TEMBAKAU jenis NO dipakai untuk bahan dasar membuat cerutu dan hampir seluruh produknya diekspor,” tulis  K. Santoso, dalam bukunya yang berjudul Tembakau: dalam Analisis Ekonomi. Tradisi cerutu di Indonesia sendiri, berasal dari Belanda, meski belum diketahui di mana pertama kalinya pabrik cerutu dibangun.

IKLAN

Lebih dari dua abad lamanya, tembakau NO tumbuh di Jember. Dialah George Bernie, seorang warga Belanda keturunan Skotlandia, yang datang ke Jember pada sekitar tahun 1850 untuk membuka lahan perkebunan tembakau. Bernie yang menikah dengan seorang perempuan Jawa bernama Rabina itu, merintis perusahaan tembakau bernama Lanbhouw Maaschappij Oud Djember, setelah mendapatkan hak erfpacht atau hak guna usaha selama 75 tahun di daerah Jenggawah.

Sejak tahun 1863, pengembangan tembakau bahan cerutu di Indonesia terpusat di tiga areal pengembangan, yakni Deli (Sumatera Utara); Klaten (Jawa Tengah) dan Karesidenan Besuki –termasuk Jember- (Jawa Timur). “Memang tembakau jenis ini hanya bisa tumbuh baik di beberapa daerah, salah satunya di eks-Karesidenan Besuki. Karena terkait karakteristik tanah yang tiap daerah bisa berbeda-beda,” tutur Soetriono, pakar ekonomi pertanian dari Universitas Jember.

Dengan kelebihannya sebagai bahan pembuat cerutu, tembakau jenis Na-Oogst memiliki harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan jenis tembakau lainnya. Meski demikian, dibutuhkan perawatan dan keahlian khusus untuk membudidayakannya. “Daun tembakau yang bagus untuk cerutu adalah yang lentur. Robek sedikit saja, sudah tidak bisa dipakai,” jelas Soetriono yang bersama Evita Solihahani menulis buku Agribisnis Tembakau Basuki Na-Oogst: Tinjauan Ekonomi Pertanian ini.

Sebagian besar hasil budidaya tembakau Na-Oogst memang untuk diekspor. Hampir seluruhnya ke Eropa, melalui pasar di kota Bremen, Jerman. “Peluang bisnisnya memang bagus sekali, bisa menghemat devisa 30 hingga 35 persen. Hanya saja, dalam 10 tahun terakhir, sering terjadi penurunan daya saing,” ungkap Soetriono.

Ada banyak faktor penyebab turunnya daya saing tembakau Na-Oogst. Selain karena Jerman yang dalam beberapa tahun terakhir juga mengembangkan tembakau untuk bahan cerutu, penurunan juga disebabkan oleh faktor domestik. “Antara lain upah tenaga kerja terus naik. Di sisi lain, mulai budidaya hingga pemilahan tembakau jenis ini, membutuhkan keahlian khusus,” ujar guru besar Agribisnis Fakultas Pertanian Unej ini.

Di sisi lain, isu kesehatan di tingkat internasional, belum mampu diimbangi dengan kemampuan proteksi yang optimal dari pemerintah. “Perlu ada proteksi dari pemerintah untuk efisiensi usaha tani tembakau, akibat adanya perubahan teknologi, dari tradisional (tembakau Besuki Na-Oogst Tradisional, BesNOTRA) menjadi teknologi tanam awal (tembakau Besuki Na-Oogst Tanam Awal, BesNOTA),” pungkas Soetriono.

Sementara, dibanding produksi tembakau di daerah lain di Indonesia, dalam beberapa kurun waktu terakhir, Na Oogst Jember sudah merajai rimba pertembakauan. Tembakau Jember ini menjadi yang terbaik dan masih konsisten ekspor ke luar negeri. Apalagi, ditambah kini daerah lain yang sempat menjadi saingan Jember sebagai penghasil daun yang menjadi bahan baku cerutu dan cigarilos sudah mulai menurun drastis produksinya.

“Dulu ada Deli Serdang Sumatera Utara dan Klaten di Jawa Tengah. Tapi kini jumlahnya sudah sangat sedikit,” terang Kuncoro, ahli cerutu dan legenda tembakau dari Koperasi Karyawan Tembakau Negara (Kopkar Kartanegara) di PT Perkebunan Negara X (Dulu PTPN 27).

Meskipun, diakuinya dewasa ini untuk jumlah ekspor tembakau dari Jember tidak sebanyak dua tiga dekade lalu. “Jaya-jayanya sekitar tahun 1980-an, dalam setahun ekspor bisa sampai 200.000 bal, dengan masing-masing beratnya 100 kilogram,” jelas Kuncoro.

Namun, masa jaya itu sebelum banyak kampanye antitembakau dan larangan merokok dari sejumlah lembaga di seluruh dunia seperti saat ini. Diakuinya, kampanye itu memang cukup menurunkan minat terhadap cerutu dan rokok secara umum. Dan diakuinya, hal ini juga berpengaruh besar terhadap ekspor tembakau ke luar negeri khususnya Eropa yang lebih dulu kampanye antitembakau.

Penurunan itu sudah mulai terasa sekitar tahun 1990-an. Yakni saat pasar Eropa dan Amerika mulai mengurangi tembakau yang masuk ke sana dan berlangsung hingga sekarang. Tetapi, bukan berarti ekspor tembakau ini mati. Diakuinya masih ada tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak. “Karena jumlah perokok sebenarnya tetap,” jelasnya.

Belum lagi dengan perubahan karakter masyarakat Eropa dan Amerika untuk menikmati cerutu dari Indonesia. Sebelumnya mereka menyukai rokok cerutu yang besar dengan daya aroma yang kuat. “Tapi sekarang bergeser yakni dari cerutu besar ke cerutu kecil atau cigarilos,” jelasnya. Pergeseran selera ini juga mempengaruhi kebutuhan terhadap tembakau.

Dengan perubahan gaya ini, mau tidak mau mempengaruhi bahan baku yang dikirim ke Eropa. “Jadi tidak perlu semua tembakau kualitas daun lebar dan bagus, karena kalau cerutu kecil kan tidak membutuhkan daun besar,” terangnya. Sehingga mengurangi bahan baku yang digunakan.  Akibatnya, tembakau yang dikirim ke luar negeri juga tidak terlalu banyak.

Belum lagi, adanya sejumlah penyatuan perusahaan cerutu dan tembakau di Eropa. Itu membuat kebutuhan terhadap impor tembakau dari Indonesia juga berkurang. Adanya penurunan jumlah ekspor dari tahun ke tahun memang terjadi, meskipun untuk tahun ini kembali naik dan bergairah lagi. “Kalau kini paling hanya tinggal 3-5 ribu bal setiap tahunnya,” jelasnya.

Meskipun demikian, tembakau Jember diakuinya masih yang terbaik termasuk meskipun ada serbuan tembakau dari Amerika Selatan maupun China, tetapi tidak menyurutkan keinginan pasar tembakau Jember. Hanya saja, kini ada regulasi baru yang harus diantisipasi oleh produsen, petani dan eksportir tembakau yang hendak masuk ke Eropa.

Yakni adanya kampanye untuk tembakau yang masuk harus memenuhi ambang residu yakni pestisida atau pupuk racun yang digunakan untuk tembakau. Ini diakuinya sangat serius. “Bahkan, kabarnya untuk tahun-tahun ke depan harus zero residu (tidak boleh ada residu),” tegasnya.

Oleh karena itu, para eksportir pun juga harus segera melakukan sosialisasi ini kepada petani dan mitra di bawah. “Jangan sampai karena aturan residu ini nantinya tembakaunya malah dipulangkan,” jelasnya. Oleh karena itu, ke depan pihaknya meminta seluruh eksportir untuk melakukan pendampingan kepada petani dan mitra untuk benar-benar mengurangi bahkan tidak menggunakan pestisida sama sekali.

“Kadang petani ingin hasil tembakaunya bagus, sehingga menggunakan obat berlebihan,” terangnya. Padahal itu sangat merugikan bagi tembakau Jember secara keseluruhan nantinya jika benar-benar ditolak oleh pasar luar negeri, khususnya di Eropa dan Amerika yang memang mensyaratkan itu.

Meskipun demikian, diakuinya, sejumlah eksportir tembakau di Jember juga sudah mulai melakukan inovasi baru terhadap tembakau miliknya. Mereka bukan hanya sekadar mengirimkan tembakau mentah ke luar negeri. Namun, kini mulai memproduksi membuat cerutu sendiri untuk dipasarkan baik di pasar nasional maupun internasional yang diprakarsai oleh Kopkar Bobin sejak 1988 dengan merek Argopuros.

Selain Bobin, juga ada Tarutama Nusantara (TTN), dan Mangli Djaja Raja (MDR) yang juga memproduksi cerutu. Di Indonesia, hanya perusahaan di Jember yang memproduksi cerutu. “Yang serius mengembangkan cerutu ini TTN dengan BIN-nya. Mereka cukup bagus, tetapi perusahaan lain tentu tidak mau kalah,” jelasnya.

Cerutu dari Jember ini sudah diekspor antara lain ke Jepang, Australia, Macau, dan di Republik Ceko. Diakuinya, orang Indonesia tidak terlalu suka cerutu besar, sehingga banyak dibuat cerutu kecil. “Bukan hanya cerutu besar, namun juga ada rokok kecil untuk pemula cigarillos spesifik Jember. Juga diberi cengkih dan vanila, dan ternyata diminati,” terangnya. Untuk domestik dipasarkan di Bali, Jakarta, dan Surabaya yang banyak dikunjungi wisatawan.

“Jember sebagai Kota Cerutu Indonesia cukup tepat. Diharapkan semakin membuat cigar Jember menjadi lebih maju lagi,” jelasnya. Selain untuk memajukan cerutu juga bisa menyejahterakan petani tembakau. Selain itu, makin banyak pabrik cerutu, dianggap menjadi daya tarik yang cukup bagus untuk wisatawan mancanegara untuk datang ke Jember.

Reporter : Adi Faizin
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji
Fotografer: Dwi Siswanto

Reporter :

Fotografer :

Editor :