Lapas Jember Buka Suara Soal Tewasnya Dita: Ada Lebam, tapi Tak Ada Luka Tusuk

Rangga Mahardika/Radar Jember Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 2-A Jember Sarju Wibowo memberikan keterangan kepada sejumlah media, terkait kematian narapidana Rahmad Andita yang dianggap tewas secara misterius.

RADARJEMBER.ID – Kematian Rahmad Andita, 31, narapidana di Lapas Kelas 2A Jember Rabu (22/8) masih misteri. Sampai kemarin, masih dalam penanganan Polres Jember. Sudah 14 narapidana yang berada dalam satu blok dengan korban diperiksa oleh Polres Jember.

IKLAN

Sarju Wibowo, Kepala Lembaga Pemasayarakatan Kelas 2 A Jember kemarin  menuturkan, pasca kejadian itu, ada sekitar 47 narapidana yang berada di Blok B no 2 Lapas Kelas 2A Jember menjalani pemeriksaan maraton.

Dia mengaku, awalnya hanya 40 narapidana yang diperiksa. Karena dirasa ada perkembangan dari kematian yang tidak wajar itu, kemudian ada tambahan saksi. Total ada 47 narapidana yang diperiksa Polres Jember.

Dari jumlah yang diperiksa tersebut, yang sudah selesai (pemeriksaan) dan dikembalikan ke lapas sebanyak 33 warga binaan. ”Ke-33 tahanan itu sudah dikembalikan semalam (24/8), sekitar pukul 20. 00 WIB. Yang 14 masih menjalani pemeriksaan di Polres Jember,” ucap Sarju.

Dia tidak mengetahui detail alasan 14 narapidana ini masih belum kembali. Sebab, untuk proses selanjutnya, diserahkan ke Polres Jember. Kemungkinan besar memang ada unsur penganiayaan di dalam lapas tersebut hingga menyebabkan korban meninggal dunia.

“Berarti kasus baru. Kan kriminal baru. Kami serahkan sepenuhnya untuk pengungkapan dan penyelidikan di Polres,” jelas Sarju.

Pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk mengungkap misteri kematian Dita meskipun kejadiannya di lapas. Apalagi, pasca kabar kematian Dita, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Polres Jember.

“Karena kami menemukan penyebab kematian masih janggal,” jelasnya. Saat ditemukan sekitar pukul 06.00 WIB Jumat (24/8), ada indikasi luka. ”Meskipun awal ditemukan sepertinya baik-baik saja, namun kemudian diketahui kematian korban tidak wajar setelah dicek oleh perawat,” jelasnya.

Di antaranya, adanya luka seperti jeratan di leher korban. Serta sejumlah titik lebam alias memar di bagian tubuh, yakni di bagian dada. ”Kemungkinan karena benda tumpul. Tapi tidak ada luka tusuk atau luka menganga. Tidak ada darah di lokasi kejadian,” bantah Sarju saat dikonfirmasi adanya laporan keluarga yang menyatakan adanya luka tusuk di tubuh korban.

Untuk pastinya, pihaknya juga menunggu hasil visum et repertum dan otopsi forensik dari RSD dr. Soebandi Jember dan dari pihak kepolisian. “Jenazah sudah diserahkan kepada pihak keluarga tadi pagi (kemarin pagi, Red),” papar Sarju.

Terkait dengan pengamanan di Lapas Kelas 2A Jember, diakuinya tidak mungkin menjaga satu per satu sel. Bahkan, tiap malam penjaga bergantian untuk mengecek kamar sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur). Namun, diakuinya saat malam hari tidak ditemukan sesuatu yang janggal.

“Tidak ada laporan perkelahian. Kalau perkelahian pasti ada suara,” terangnya. Hal yang membuat pihak lapas heran, di dalam sel tahanan blok B no 2 itu sebenarnya cukup banyak tahanan yang sekamar, yakni sebanyak 73 tahanan. Tetapi semuanya hanya diam saja saat ditanyakan kematian korban.

“Semuanya diam. Semuanya bilang tidak ada yang tahu,” tegasnya. Oleh karena itu, pihak Lapas Kelas 2A Jember langsung berkoordinasi dengan pihak Polres Jember untuk mengungkap fakta kematian dari Rahmad Andita ini.

Terkait dengan adanya dugaan alat yang digunakan untuk membunuh korban, Sarju juga mengaku belum tahu. Karena pihaknya tidak menemukan adanya benda-benda yang mencurigakan. Di dalam sel hanya ada baju, sarung, celana, dan sebagainya. “Polisi sudah melakukan olah TKP dan membawa barang-barang dianggap mencurigakan,” jelasnya.

Sarju juga mengakui bahwa korban sudah menjalani hukuman selama delapan bulan dan masih ada delapan bulan lagi. Korban dikenai vonis untuk kasus pasal 335 dan 406, yakni penganiayaan dan pengrusakan dengan vonis 16 bulan. “Saat di lapas, baik-baik saja, tidak ada yang janggal,” pungkasnya.

Reporter : Rangga Mahardika
Editor : Hadi Sumarsono
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :