Bupati Berharap Penggantinya Melanjutkan Kebijakan Kopinya

SOLIKHUL HUDA/RADAR IJEN TALK SHOW: Bupati Amin bersama sejumlah pemateri tampil dalam laga final Festival Kopi Nusantara (FKN) ke-3, kemarin (25/8).

RADARJEMBER.ID – ‘Bupati boleh berganti. Namun kopi Bondowoso harus tetap spesialti’. Itulah kata-kata Bupati Amin Said Husni dalam talk show Festival Kopi Nusantara di Alun-Alun RBA Ki Ronggo, Sabtu malam (25/8). Talk show yang dilihat langsung oleh para pejabat itu, dihadiri Sekjen Kementerian Pertanian Syukur Irwantoro, Peneliti Kopi ICCRI, dan Eksportir kopi.

IKLAN

Bupati menggambarkan perjuangannya membuat branding Bondowoso Republik Kopi untuk mengangkat kopi spesialti Bondowoso. Mulai melakukan riset 2010, pencapaian Indikasi Geografis, sampai pada posisi saat ini di mana kopi Bondowoso sudah masyhur di tingkat nasional maupun internasional. “Sebenarnya sejak zaman dulu kopi Bondowoso sudah dikenal dengan Java Ijen. Namun minimnya ilmu pengetahuan masyarakat tentang pengolahan kopi, menjadikan mereka hanya memanfaatkan kopi sekadar untuk menyambung hidup saja,” jelasnya.

Karenanya pemerintah melakukan inovasi promosi. Mulai riset sampai menggerakkan berbagai pihak untuk mengangkat nama kopi Bondowoso. Apalagi, potensi kopi di Bondowoso yang dikelola masyarakat dari hasil bagi hasil dengan Perhutani, sangat luas. Dari situ pemerintah memandang adanya potensi besar untuk pengembangan kopi.

Sebagai wujud pengembangan, Bupati Amin banyak berdiskusi dengan Puslit Koka (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao). Hasil diskusinya adalah adanya saran untuk membuat klaster, kopi binaan. Dari situ, pemerintah bisa mengubah mindset dan memberi edukasi.

Sementara dukungan Perhutani Bondowoso merupakan hal yang tidak bisa dielakkan. Masyarakat dapat bekerja sama memanfaatkan lahan Perhutani. Tercatat, sampai saat ini perkebunan kopi rakyat terus berkembang mencapai 14.000 hektare di dataran Gunung Ijen dan Gunung Raung.

Keberhasilan branding pemerintah terhadap kopi adalah adanya peningkatan harga juga kopi itu sendiri. Jika sebelumnya petani kopi menjual panenannya hanya kisaran Rp 18.000-20.000 per kg, setelah dibina, saat ini bisa mencapai kisaran Rp 80.000-100.000 per kg. “Kopi Bondowoso sudah diekspor ke mancanegara. Salah satunya Swiss,” jelasnya.

Dengan potensi lahan yang dimiliki, jumlah perkembangan kopi di Bondowoso hingga mencapai 3.000 ton per tahun. Sepertiga diantaranya diekspor. Karenanya, ketika ada kenaikan dolar, para petani kopi justru semakin senang. Karena kopi mereka diekspor, yang pembayarannya memakai dollar.

Karena perkembangan begitu pesat, bahkan saat ini ada banyak cafe di Bondowoso, pihaknya berharap Republik Kopi harus tetap merawat Kopi Spesialti, walau “presiden” telah berganti. Diketahui, Amin Said Husni akan mengakhiri jabatannya sebagai bupati pada 16 September 2018. Setelah itu, akan diteruskan oleh KH Salwa Arifin.

Reporter & Fotografer: Sholikhul Huda
Editor : Narto
Editor Bahasa: Yerri A Aji

Reporter :

Fotografer :

Editor :