Ketika Anak-Anak Nonmuslim dan Muslim Bagi Takjil dan Buka Puasa Bareng

BEDA ITU INDAH: Dari kiri: Fesya, Nayla, Xena terlihat akrab bercanda di sela-sela acara bagi-bagi takjil gratis dan buka puasa bersama di halaman kantor Jawa Pos Radar Jember, kemarin sore. Fesya dan Xena siswi Rukun Harapan sedang Nayla siswi SD Al Baitul Amin 02. Para guru dan siswa dua sekolah ini kemarin mempertontonkan pentingnya toleransi, bersama merawat perbedaan untuk damainya negeri.

RADARJEMBER.ID – Jika perbedaan itu indah, mengapa tak dirawat? Mengapa meski dikoyak-koyak?  Pesan itu kemarin tergambar kuat ketika anak-anak nonmuslim dan muslim berbaur. Baca puisi, bagi takjil, lanjut riuh tawa riang sembari mencecap es buah dan menikmati ayam goreng di halaman kantor Jawa Pos Radar Jember.

IKLAN

Ramadan, bulan yang penuh berkah dan pahala

Saudaraku… 9 Ramadan 1364 hijriyah tepat saat dikumandangkan Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Ramadan telah mempertemukan  bangsa Indonesia dengan kemerdekaannya.

Saudaraku… terima kasih Ramadanmu menjadi momentum menyatukan berbagai suku, ke dalam negara kesatuan Republik Indonesia.

Saudaraku… terima kasih atas rahmat Ramadanmu. Kami saudaramu turut merasakan indah nikmat dan karunia yang telah diberikan olehNya.

Ramadan telah menjadi berkah  untuk kita semua

Ramadan menjadi berkah untuk rumah kita NKRI dan Pancasila…

Pancasila rumah kita

Berbeda-beda namun tetap satu… Bhineka Tunggal Ika

Indonesia kita, ditakdirkan untuk dipijak oleh perbedaan

Perbedaan suku, warna kulit, budaya dan agama

Agar kita saling mengenal, mengasihi dan melengkapi

Bukan untuk saling benci, bukan saling mengumbar caci

Ya Allah, hamba bersyukur akan karunia dan rahmat ini

Perbedaan ini untuk hamba jaga, bukan hamba hindari.

Itulah penggalan puisi yang kemarin dibawakan oleh lima siswa-siswi SD Rukun Harapan. Sebuah sekolah yang siswanya sangat plural.  Bahkan, mayoritas nonmuslim dan keturunan Tionghoa.  Dua dari siswa yang membacakan puisi itu muslim, sedang tiga lainnya nonmuslim.  Mereka adalah Bagas, Helga, Kenzie, Griselda, dan Roselyn.

Selain di hadapan teman-teman sekolahnya, puisi panjang itu kemarin juga dibacakan di hadapan siswa-siswi  SD Al Baitul Amin 02. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah muslim favorit di Jember. Mereka sengaja diajak ikut berkumpul di halaman kantor Jawa Pos Radar Jember di acara Joged (Jember obral gede) Ramadan. Sebuah acara pameran dan pentas ekspresi dari berbagai komunitas dan kalangan  di Jember serta diskon besar-besaran untuk pasang iklan di koran terbesar di Jember, Lumajang dan Bondowoso ini .

Memang, momen sore itu terasa begitu istimewa. Para siswa TK dan SD Rukun Harapan yang mayoritas nonmuslim ingin ikut merasakan berkah Ramadan bersama saudara mereka yang muslim. Seragam boleh beda, warna kulit boleh tak sama. Pun soal keyakinan. Namun sore itu sama sekali tak ada sekat. Tak berjarak. “Senang sekali sore ini. Suasana yang tak pernah kami rasakan bisa berbaur dengan saudara kami umat muslim,’’ Griselda, usai tampil di panggung.

Tak sekadar berekspresi dengan puisi. Jelang buka bersama, mereka terlihat asyik bercanda ria dengan saudara-saudaranya yang muslim. Buka puasa bersama kemarin juga terasa sangat istimewa. Apalagi, semua keperluan buka puasa sore itu disiapkan guru, orang tua, dan siswa-siswi TK – SD Rukun Harapan.

Sebelum buka puasa, mereka juga berbaur di depan kantor Jawa Pos Radar Jember untuk bagi-bagi takjil. Ada lebih 800 porsi takjil yang sore itu dibagikan ke masyarakat yang melintas di Jalan Ahmad Yani dan warga sekitar. Ada es buah, ada juga nasi kotak.

Anak-anak itu tampak antusias. Mereka tak kikuk berbaur. Saling bantu agar takjil cepat terbagi. “Seneng banget bisa berbagi. Seru,’’ kata Griselda, siswi SD Rukun Harapan.

Gadis cantik ini mengaku, momen kemarin tak akan dia lupakan. Sangat berkesan. “Ini pengalaman pertama kami bagi takjil bareng siswa sekolah lain,’’ katanya.

Dia juga mengaku, momen kemarin memberikan banyak pelajaran tentang perbedaan. Bahwa, justru dengan perbedaan itulah, hidup jadi lebih indah dan bermakna. Dia juga merasa surprise bisa berbaur dengan anak-anak dari sekolah Islam. “Terima kasih Radar Jember sudah memberi kesempatan dan memfasilitasi,’’ tukasnya.

Dia juga mengaku bisa lebih memaknai puisi Untaian Berkah Ramadan, yang dia bacakan rame-rame dengan teman-temannya, kemarin. Awalnya, dia merasa grogi. Sebab, persiapan hanya sehari sebelumnya. Latihan pun cuma sekali. “Tapi, melihat antusias teman-teman apalagi banyak siswa-siswi muslim juga di sini, saya jadi sangat PD dan bangga membawakan puisi itu,’’ imbuhnya yang langsung diamini  Roselyn, teman satu sekolahnya.

Kok ada penggalan ayat Alquran di puisinya? Bagas, siswa SD Rukun Harapan sontak menjawab, di sekolahnya tak semuanya nonmuslim.  Meski, diakuinya siswa muslim di sekolahnya boleh dibilang minoritas. Tapi, di sekolahnya itu sesuatu yang biasa. Sejak dini, anak-anak sudah diajari untuk hidup toleran.  “Bagi kami, beda itu indah,’’  kata bocah yang kemarin berpenampilan lengkap dengan sorban dan songkok itu.

Reporter : MS Rasyid

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : MS Rasyid