Akses Jalan Digembok, Senima Tak Bisa Pulang

Terpaksa Numpang Tinggal di Tetangga

TERTUTUP: Satu-satunya akses masuk ke rumah Senima (Bu Firman) di Jalan Imam Bonjol, Lingkungan Krajan Barat, RT 2 RW 5, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, ditutup oleh Ali Mustofa, pemilik lahan. Bahkan gerbang itu dirantai dan digembok rangkap 4, beserta tulisan peringatan larangan masuk.

RADARJEMBER.ID – Sudah empat hari sampai kemarin, Senima tak bisa pulang ke rumahnya. Perempuan yang akrab disapa Bu Firman ini terpaksa menampung  tinggal sementara di rumah majikannya, sekaligus tetangga tempat dia berkerja sebagai asisten rumah tangga.

IKLAN

Senima tak bisa pulang ke rumah. Karena satu-satunya jalan akses menuju rumah perempuan berusia 45 tahun, ditutup rapat-rapat oleh pemilik lahan kos-kosan, Ali Mustofa. Bahkan, rumah yang berlokasi di Jalan Imam Bonjol, Lingkungan Krajan Barat, RT 2 RW 5, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates ini gerbangnya digembok oleh Ali Mustofa.

Di depan gembok juga terpampang tulisan peringatan. Bunyinya: Dilarang masuk rumah ini, kecuali pemilik rumah. Apabila tanpa ijin pemilik rumah, akan dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Tertanda pemilik rumah dan bangunan, Ali Mustofa.

“Saya mau pulang, tidak bisa masuk. Karena digembok gerbangnya sama Ali. Rumah saya di belakang pojok sendiri. Tidak ada jalan lain,” tutur Senima, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember.

Dia mengatakan, sebelum ada bangunan kos-kosan milik Ali Mustofa, rumahnya sudah berdiri terlebih dahulu. Dia juga tidak tahu alasan Ali menutup gerbang ini. Tetapi lahan tersebut masih satu sertifikat tanahnya dengan lahan milik Senima, karena masih belum dipecah.

Senima mengaku tidak memegang dokumen surat (sertifikat). Sebab, saat pertama membeli lahan pada pemilik tanah yang pertama, yakni Sakur, dia dan mendiang suaminya belum dikasih dokumen sertifikatnya.

“Karena Sakur sudah sangat baik pada almarhum suami saya. Sampai akhirnya suami saya meninggal, tiba-tiba Ali merenovasi lahan sekeliling rumahnya. Tidak izin sama sekali,” katanya.

Sakur sendiri juga mengakui, lahan yang mengelilingi rumah Senima juga dia jual pada Ali Mustofa. Dan pada akhirnya, Ali mendirikan bangunan kos-kosan tahun 2018 lalu.

Tetapi, pantauan Jawa Pos Radar Jember, bangunan kos-kosan tersebut tampak belum 100 persen jadi. Bahkan tak berpenghuni. “Sampai anak saya nangis, karena tidak boleh ambil peralatan sekolah di rumah sendiri oleh Ali ini. Akhirnya semua peralatan sekolah meminjam temannya,” ungkap Senima, meratapi nasibnya.

Dia berharap, gerbang masuk ke rumahnya bisa dibuka kembali. “Mau hari raya tidak bisa masuk ke rumah. Kasihan anak saya,” imbuhnya.

Sementara itu, Ronny Hamzah SH, salah satu pengacara Senima  membenarkan, bahwa 2005 silam, suami Senima membeli lahan kepada Sakur. “Saat itu Sakur sendiri yang menunjukkan batasnya, bahkan juga ikut bantu membangun rumah Senima. Sedangkan Ali Mustofa pada saat itu belum ada di lahan ini,” ucapnya.

Menurut Ronny, Ali merasa memiliki hak atas akses jalan karena punya sertifikat. ”Sebenarnya Ali sudah tahu keberadaan rumah Senima di dalam lahan itu. Tetapi saat itu belum dipecah,” lanjutnya.

Upaya sudah dilakukan dengan pendekatan. Tapi masih belum ada jalan keluar. ”Ternyata bangunan kos-kosan milik Ali Mustofa itu belum ada izinnya. Dan itu masih proses di pemkab, sejak Januari lalu,” pungkasnya .

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Muchammad Ainul Budi

Editor : Hadi Sumarsono