Urgensi Rumah Penampungan Bayi Terlantar

 Terlahir Bukan untuk Dibuang

Sepanjang 2019 dan awal 2020, rangkuman pemberitaan Jawa Pos Radar Jember mencatat ada delapan peristiwa kasus pembuangan bayi yang baru dilahirkan. Tujuh di antaranya meninggal saat ditemukan, dan seorang bocah selamat. Tingginya perkara ini perlu menjadi perhatian khusus bagi pemerintah daerah agar segera membuat kebijakan untuk mencegah kasus tersebut terulang kembali.

ILUSTRASI IBU HAMIL: Banyak orang yang mendambakan kelahiran buah hati mereka, meski ada sebagian yang tak menginginkannya sehingga tega membuang bayi pascapersalinan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Stigma sosial yang masih mengecap buruk perempuan yang hamil di luar nikah dituding menjadi salah satu sebab orang tua membuang bayi yang baru dilahirkan. Dampaknya, jumlah kematian bayi akibat kelahirannya tak diinginkan cukup tinggi. Selama 13 bulan terakhir saja, ada delapan kasus. Itu pun yang terekam dalam pemberitaan Jawa Pos Radar Jember. Bisa jadi, angka sebenarnya lebih besar dari yang diketahui.

IKLAN

Jika dirunut, lokasi kasus pembuangan bayi itu juga di sembarang tempat. Seperti sungai, selokan, hingga kolong jembatan. Terkadang dibungkus kantong plastik dan kardus. Ada juga yang digeletakkan begitu saja di pinggir jalan atau kamar mandi puskesmas.

Jika ditemukan masih dalam kondisi hidup, si bayi mungkin akan bernasib lain. Sebab, ada banyak orang yang ingin mengadopsinya. Hanya saja, dalam banyak kasus, bayi yang ditemukan sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

Catatan pemberitaan Jawa Pos Radar Jember selama kurun waktu 13 bulan terakhir ini, kasus pembuangan bayi menunjukkan fakta-fakta yang mencengangkan. Seperti penemuan bayi berjenis kelamin laki-laki yang ditemukan di kamar mandi Puskesmas Tempurejo, Rabu, 9 Oktober 2019 lalu.

Diduga, bayi hasil hubungan gelap itu sengaja dibuang ibu kandungnya saat memeriksakan diri. Sebelum petugas medis memeriksa kondisi perempuan muda itu, dia pamit ke toilet. Rupanya saat berada di kamar mandi tersebut dia melahirkan. Lantaran tak ingin menanggung aib, sang ibu meletakkan bayi yang masih tersambung ari-arinya itu di toilet puskesmas. Beruntung, nyawa bayi masih bisa tertolong.

Kanitreskrim Polsek Tempurejo Aiptu Solekhan Arief menuturkan, bayi itu sengaja dibuang oleh seorang wanita berumur 20 tahun yang datang bersama keluarganya. Mereka hendak berobat ke puskesmas. Namun, belum diperiksa, pelaku kemudian masuk ke kamar mandi. Sesaat kemudian pelaku tiba-tiba kabur.

Ternyata saat petugas kebersihan masuk ke kamar mandi, dia menemukan bayi lengkap dengan ari-ari di sekitar lubang pembuangan air. “Saat ditemukan, bayi seperti tidak bernyawa. Namun setelah mendapat perawatan, rupanya bayi itu masih bernapas,” terang Arif saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember seusai kejadian berlangsung.

Dari tahun ke tahun, kasus penemuan bayi semakin marak saja terjadi. Bahkan, pada awal Januari 2020 ini, di Kecamatan Kalisat tercatat dua kasus yang sama. Yaitu penemuan jasad bayi yang sudah mati dalam kondisi mengenaskan.

Dua kasus penemuan bayi tersebut hanya berselang sekitar delapan hari. Pertama, Selasa (14/1), bayi berjenis laki-laki ditemukan oleh warga di saluran irigasi sawah Dusun Junggrang 2, Desa Patempuran, Kecamatan Kalisat. Bayi yang ditemukan itu diperkirakan baru berusia beberapa hari. Sebab, saat ditemukan kondisi bayi tertelungkup dalam keadaan membusuk dan dibungkus kantong kresek. Polisi yang sempat datang ke lokasi kejadian langsung membawa mayat bayi ke RSD Kalisat untuk disemayamkan.

Tak berselang lama atau sepekan kemudian, Rabu (8/1), bayi berjenis laki-laki kembali ditemukan warga di semak belukar di Dusun Rowo, Desa Gambiran, Kalisat. Saat ditemukan, bayi sudah dalam keadaan membusuk dan dibungkus kantong plastik merah.

Melihat beberapa kasus yang terjadi, pemerintah daerah diminta lebih peka untuk membuat kebijakan yang dapat mencegah hal itu terjadi. Semisal dengan mendirikan rumah aman bagi perempuan yang hamil di luar nikah atau korban perkosaan. Dengan demikian, mereka tak sampai melakukan aborsi tak sehat, atau bahkan membuang bayi yang baru dilahirkan. Juga dengan membuat graha perlindungan bagi bayi-bayi yang kehadirannya tak diinginkan orang tua.

Sebab, ada sekian hak yang dirampas dalam peristiwa pembuangan itu. Selain hak untuk hidup, juga hak tumbuh kembang, hak mendapat perlindungan, dan hak berpartisipasi. Dan pemerintah kabupaten, sebagai kepanjangan tangan negara di tingkat daerah, harus memenuhi hak-hak tersebut dengan membuat kebijakan dan program kerja yang dapat mengatasi masalah tersebut.

Reporter : Maulana, Muchammad Ainul Budi, Nur Hariri

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih