Difteri di Jatim Masih Mengkhawatirkan, Tiap 100 Penderita, 5 Orang meninggal

RADARJEMBER.ID – Meskipun sudah dilakukan Outbreak Response Immunization (ORI) oleh pemerintah, kasus difteri masih sangat mengkhawatirkan. Oleh karena itu, perlu keterlibatan semua pihak, utamanya tokoh masyarakat, untuk menuntaskan ORI di semua anak-anak yang ada di Jember.

IKLAN

Hal ini diungkapkan Arie Rukmantara, ketua perwakilan Unicef Pulau Jawa saat menjadi pemateri FGD Difteri di salah satu hotel di Jember, kemarin. “Difteri ini kasus yang mengerikan. Tahun 2017 lalu di Indonesia dikagetkan dengan adanya 954 kasus difteri yang terjadi di 170 kabupaten/kota di 30 provinsi,” jelas Arie.

Yang mengenaskan, dari jumlah kasus itu sebanyak 44 orang di antaranya meninggal dunia. “Angka kematian atau CFR (case fatality rate) mencapai 4,6 persen,” jelasnya. Hal ini berarti dari 100 orang yang menderita penyakit difteri, terdapat 4-5 penderita yang meninggal. Meskipun angka ini lebih rendah dari CFR global yang dirilis WHO 5-10 persen.

Oleh karena itu, Indonesia dikatakan mengalami kejadian luar biasa (KLB) difteri apabila ditemukan minimal satu kasus terduga difteri. “Jawa Timur mengalami KLB karena banyaknya warga yang terdeteksi terkena difteri dan sudah ada 16 korban meninggal dunia,” ujar Arie.

Dirinya mengatakan, difteri ini masih menjadi ancaman kesehatan bagi masyarakat di Jawa Timur. Pasalnya, difteri dapat mengakibatkan kematian. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri corynebacterium diphtheriae yang memproduksi racun yang dapat merusak jaringan dan organ tubuh manusia. Difteri dapat menimbulkan berbagai komplikasi seperti penyumbatan saluran pernapasan dan kelumpuhan otot jantung.

Dirinya menuturkan, banyak masyarakat tidak mengetahui secara detail bahaya difteri. Gejala muncul pun secara bertahap, yaitu demam dengan suhu lebih kurang 38º C, bengkak di area leher seperti leher sapi, nyeri saat menelan, dan sesak napas disertai bunyi

Juga adanya selaput berwarna putih keabuan/kehitaman di tenggorokan yang tidak mudah lepas dan mudah berdarah jika dicoba untuk diangkat. Namun, tidak semua orang yang terinfeksi kuman difteri akan menunjukkan gejala. “Orang seperti ini disebut carrier (pembawa kuman), dan masih dapat menyebarkan bakteri tersebut,” jelasnya.

Berdasarkan surveilans epidemiologi, jumlah kasus terbanyak di Indonesia adalah pada kelompok usia 5 -9 tahun. Namun, difteri masih ditemukan pada usia di atas 14 tahun. Anak-anak sangat rentan karena memang kadang kontak langsung dengan penderita lebih banyak, serta imunnya masih belum sempurna.

“Untuk orang dewasa biasanya lebih mobile, sehingga tidak terlalu banyak kontak dengan penderita, serta lebih jarang terkena penyakit ini,” imbuh Dr Muhammad Atoillah Isfandiari, Dosen Departemen Epidemiolog FKM Unair Surabaya. Selain itu, penularan difteri terjadi melalui percikan ludah dan kontak langsung. Penyebaran kontak langsung terjadi melalui luka yang terbuka.

Oleh karena itu, ORI dilakukan berdasarkan sebaran usia kasus dan luas wilayah minimal satu kecamatan atau lebih dengan mempertimbangkan faktor-faktor epidemiologis seperti cakupan imunisasi, mobilitas penduduk, serta kepadatan penduduk di wilayah tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Arie, di Jawa Timur yang cakupannya tergolong rendah yakni di pulau Madura. Ada 4 Kabupaten di Madura yang cakupan ORI-nya masih di bawah 90 persen. “Karena populasi masyarakatnya banyak migrasi atau berpindah-pindah,” jelasnya. Hal ini tentu saja menjadi tantangan dan harus difasilitasi oleh semua pihak, termasuk tokoh masyarakat.

“Kalau datanya berubah tiap hari akan merepotkan bagi tenaga kesehatan,” jelasnya.  Pihaknya optimistis hal ini bisa diatasi, dengan terobosan yang dilakukan oleh Dinkes Provinsi dengan Univeristas Trunojoyo. Sudah ada seribu lebih mahasiswa baru yang sudah divaksin difteri. Total bisa lebih dari satu juta sekitar 1 juta.

Reporter : Rangga Mahardika
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :