Bupati Faida Jadi Pembicara di Forum Nasional

Paparkan Transformasi Ekonomi Jember

MEMUKAU PESERTA: Bupati Jember dr Hj Faida MMR menjelaskan tentang transformasi ekonomi dalam acara Indonesia Development Forum 2019 di JCC, Jakarta, Selasa (23/7) pekan ini.

JAKARTA RADAR JEMBER.ID Kecerdasan dan kemampuan Bupati Jember dr Hj Faida MMR menyampaikan materi di forum-forum ilmiah menjadikan lulusan cum laude Pascasarjana Universitas Gajah Mada ini kerap diundang memaparkan perkembangan Jember di tingkat nasional maupun internasional. Terbaru, Bupati Faida kembali menjadi pembicara dalam acara Indonesia Development Forum 2019 di Jakarta Convention Centre (JCC), Jakarta, Selasa (23/7) pekan ini.

IKLAN

Pemaparan bupati mampu memukau peserta. Dalam kesempatan itu, dia menjelaskan adanya transformasi ekonomi di kabupaten yang dia pimpin sebagai penyesuaian terhadap perubahan dunia. “Kalau Jember hidupnya dari pertanian, tapi terkenal sebagai kota karnaval. Ini adalah satu transformasi yang sebenarnya sudah berjalan bertahun-tahun lalu,” paparnya.

Dia menjelaskan, produk domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Jember ditopang oleh pertanian sebesar 31 persen. Kendati begitu, Jember ternyata lebih dikenal sebagai kota karnaval dunia. Hasilnya, Jember kerap diundang kota atau provinsi lain untuk menjadi kurator karnaval dan fashion daripada diundang sebagai kurator pertanian.

Selain populer sebagai kota karnaval, kata dia, Jember juga dikenal menjadi kota pendidikan. Ada beberapa perguruan tinggi negeri yang menampung puluhan ribu mahasiswa dari luar daerah. Belum lagi, banyaknya perguruan tinggi swasta dan kampus berbasis agama. Ini menggenapi sebutan Jember sebagai kota pendidikan. “Jumlah penduduknya mencapai 2,6 juta dan lebih dari 700 pondok pesantren juga ada di Jember. Jadi, selain dikenal kota karnaval, Jember juga merupakan kota pendidikan,” sebutnya.

Beragam potensi itu berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi di Jember yang lebih baik dari rata-rata Jawa Timur. Bahkan, pernah sangat tinggi. Namun di balik itu, ada perubahan yang sedang terjadi. Peran usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan yang sebelumnya 31 persen menjadi 29 persen. “Kondisi ini menunjukkan ada transformasi yang sedang berjalan,” terangnya.

Hanya saja, dengan belum tersosialisasinya proses transformasi itu ke publik, secara politik ada sebagian yang menganggap pemerintah daerah gagal, karena tak mampu mempertahankan komoditas unggulan berupa pertanian sebagai penyumbang terbesar PDRB. Padahal, transformasi itu perlu dilakukan sebagai upaya menyesuaikan pergeseran dunia dan tidak tertinggal oleh perubahan dunia.

“Sejatinya, kita harus membawa visi misi ke arah transformasi. Tapi dari sisi politik, orang melihat ini satu kegagalan pembangunan. Artinya, visi transformasi besar itu belum tersosialisasi,” ujarnya.

Sebagai upaya melakukan transformasi, sektor pendidikan menjadi modal awal menjalankan transformasi tersebut. Salah satu kebijakan yang telah dilaksanakan adalah pemberian beasiswa kepada 10.000 mahasiswa ber-KTP Jember yang kuliah di seluruh Indonesia. Langkah di sektor lain, yakni melakukan revitalisasi pasar tradisional untuk menjadi pusat perdagangan daerah.

Sementara itu, di bidang pertanian, visi besar yang harus dijalankan adalah mengubah petani penghasil gabah menjadi petani pengusaha beras. Produk olahan hasil pertanian yang dikemas menarik juga merupakan bagian dari transformasi yang sedang dijalankan di bidang pertanian. “Untuk menunjang ini, dibuat peraturan bagi pertokoan retail modern agar menjual 30 persen produk lokal Jember,” jelasnya.

Dia menambahkan, transformasi pertanian tak hanya tentang hasil produksi maupun olahannya. Namun, juga membuat wilayah pertanian sebagai destinasi wisata. Menurut bupati, transformasi itu baru bisa terjadi apabila lengkap dari sisi strategi tiga hal. Yakni regulasi, manajerial, dan edukasi. “Kalau kita mengambil salah satu sisi lebih menonjol dari sisi yang lain, maka transformasi itu tidak akan bisa berjalan dengan baik,” pungkasnya. (*)

Reporter : Mahrus Sholih

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih