Waktu Kecil Pakai Raket Mirip Talenan, Kini Petenis Veteran Indonesia

Didik Edie, Mantan Petenis Nasional dari Jember

Cabor tenis di Jember tak hanya dikenal setelah mendulang emas di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim VI. Didik Edie, mantan petenis nasional yang kini terus jadi petenis veteran, kerap kali mewakili Indonesia di ajang internasional.

PETENIS VETERAN: Didik Edie saat di Dafam Hotel

RADAR JEMBER.ID – Mengenakan celana pendek dan kaus polo, Didik Edie tampak santai duduk di kafe Hotel Dafam lantai 9. Dia tidak sendiri, namun ditemani orang yang aktif berkecimpung di dunia olahraga dari Jember. Ada tenis, bulu tangkis, juga tenis meja. Pembicaraannya pun tak jauh dari olahraga.

IKLAN

Didik adalah mantan atlet tenis nasional. Kini masih menjadi atlet tenis veteran yang kerap kali mewakili Indonesia di internasional bersama Yustedjo Tarik, peraih emas Sea Games 1978 dan 1982.

Sebagai veteran, tentu saja usia Didik sudah tua. Namun, dia terlihat tidak seperti kakek-kakek. Rambutnya tidak beruban, justru hitam mengilap. “Usia saya 64 tahun,” katanya.

Siapa sangka, Didik yang menjabat sebagai Ketua Veteran Indonesia di bawah Pengurus Besar (PB) Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) adalah orang asli Jember dan mengenal tenis juga dari Kota Suwar-suwir. “Asli saya ya di sini,” ujarnya sambil menunjuk lantai Hotel Dafam.

Sebelum ada hotel, di situlah rumah didik di Jember. Pria yang kala muda pernah jadi atlet Asean Games tersebut mengaku, nama Jember di kancah tenis nasional sudah ada yang tahu. “Jauh sebelum saya itu, ada nama petenis Jember yang sudah dikenal. Salah satu contohnya Ibu Bea Sumantri yang berangkat dari atlet perkebunan, kalau tidak salah,” ujar pria yang berkiprah di dunia tenis tahun 70–80-an itu.

Didik tertarik pada dunia tenis karena keluarganya pemain tenis, termasuk sang kakak. “Tempat bermain tenis saya dulu itu sekarang jadi Grapari, dekat gedung bioskop,” ungkapnya.

Belajar tenis sejak usia 5 tahun, sangat berbeda dengan anak sekarang. Dia justru bermain tenis tidak memakai raket tenis. Melainkan kayu mirip dengan talenan. Berkat kayu itulah, petenis dulu felling ball-nya bagus. Dia juga tak suka, saat ada atlet yang membanting bola saat pukulannya di luar sasaran.

“Mereka ini masih anak-anak, sudah membanting raket. Bisa jadi, membanting raket itu melihat petenis dunia yang kesal dengan membanting raket,” katanya.

Didik kecil hingga remaja pun sangat haus akan kompetisi. Sebab, turnamen tenis itu hanya digelar setiap tahun sekali. “Kalau sekarang enak, ada banyak kompetisi. Dulu setahun sekali, itu pun digelar di Malang,” tuturnya.

Menurut Didik, motivasi anak-anak zaman dulu ikut kejuaraan adalah berebut piala kecil terbuat dari timah. “Dulu rebutan becker (piala kecil dari timah, red) bukan berburu uang,” paparnya.

Dalam kompetisi tenis zaman dulu, tidak ada nominal uang sama sekali untuk sang juara. Bahkan, kata dia, di luar negeri, kompetisi tenis nonprofesional atau khusus junior tidak ada embel-embel hadiah uang sama sekali. “Sekarang kalau gak ada uang, ya banyak yang protes,” ujarnya.

Padahal, kejuaraan apa pun yang melibatkan anak-anak dengan iming-iming uang, akan berdampak pada mental bermain yang kurang bagus.

“Sayangnya, orang tua tidak paham. Bagi mereka, yang terpenting uang kembali, karena sudah mengeluarkan biaya banyak untuk berlatih. Padahal, itu salah,” tuturnya.

Pria kelahiran 1955 itu juga heran saat menanyakan siapa petenis idola kepada atlet-atlet tenis. “Banyak gak punya idola. Mereka bermain tenis karena orang tua. Lha ini aneh,” terangnya.

Jika atlet tenis itu punya idola petenis, maka motivasi untuk bermain tenis akan lebih kuat. Agar petenis belia Jember tidak terhenti saat remaja ataupun dewasa, butuh peran orang tua untuk memotivasi anaknya agar tidak berpuas dulu. Artinya, kata dia, mencoba mengikuti kompetisi pada usia di atasnya. “Kalau anaknya sudah sering juara di kelompok umur (KU) 14, ya jangan taruh di sana. Tapi masuk ke KU 16, seterusnya begitu. Kalah tidak apa-apa, justru itu bagus untuk mental bertanding dan agar anak terus semangat bermain tenis,” pungkasnya. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Bagus Supriadi