Akses Kirim Data Dapodik Lemot

Sebanyak 148 SDN Masuk Blank Spot

CARI SINYAL: Pegawai Diskominfo melakukan tes kekuatan sinyal berbagai operator telekomunikasi di SDN Slawu 2. Meski sekolah ini berada di Kecamatan Patrang, namun sinyalnya tidak stabil. Bahkan, untuk mengirim data Dapodik harus ke kantor kelurahan.CARI SINYAL: Pegawai Diskominfo melakukan tes kekuatan sinyal berbagai operator telekomunikasi di SDN Slawu 2. Meski sekolah ini berada di Kecamatan Patrang, namun sinyalnya tidak stabil. Bahkan, untuk mengirim data Dapodik harus ke kantor kelurahan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sistem pendataan sekolah skala nasional yang terpadu atau yang disebut Data Pokok Pendidikan (Dapodik) masih belum maksimal diterapkan di sekolah seluruh Jember. Kekuatan sinyal di setiap sekolah yang tak rata menjadi penyebab utama. Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Jember yang mengecek sinyal menemukan ada sekolah bersinyal bagus, tapi tetap sulit mengirim data Dapodik.

IKLAN

Kepala Diskominfo Jember Gatot Triyono mengatakan, pada 2020 ini ada pekerjaan rumah tersendiri untuk memastikan titik-titik blank spot di Jember. Data dari Dispendik Jember ada 148 lembaga SD negeri yang diindikasikan tak ada sinyal telekomunikasi atau disebut blank spot tersebut. “Kami sudah terjun melakukan pengecekan. Dari 148 SD, baru diselesaikan setidaknya 30 persen,” jelasnya.

Dari 148 lembaga SDN itu, Gatot sendiri juga terkejut ada sekolah yang masuk wilayah kota, yaitu Kecamatan Patrang. “Kecamatan Patrang itu ada tiga SD. Yakni SDN Bintoro 3, Bintoro 5, dan Slawu 2,” jelasnya. Pantauan Jawa Pos Radar Jember yang ikut melakukan pengecekan sinyal tersebut, nyatanya tak seburuk yang dibayangkan.

SDN Bintoro 5 yang lokasinya paling ujung berada di lereng Pegunungan Argopuro dan mengarah ke Perkebunan Rayap tersebut justru sinyal telekomunikasi lancar hingga 4G. Bahkan, untuk tes panggilan video dan kanal Youtube juga tak tersendat. “Kalau sinyal di sini bagus, tapi kalau kirim data Dapodik itu lemot. Sangat lama sekali,” jelas Purwito, Kepala SDN Bintoro 5.

Sementara itu, sinyal di SDN Bintoro 3 masih cukup bagus, tapi tidak sebagus di Bintoro 5. Justru yang lebih buruk adalah di Slawu 2. Sekolah yang lebih kota daripada Bintoro tersebut sinyalnya justru naik turun, terkadang mendapatkan sinyal 2 sampai 3 bar. “Walau ada sinyal, tapi kecil, semisal dua bar. Juga kesulitan akses data. Bahkan ada di beberapa tempat sinyal HP ada, tapi hanya bisa menerima pesan SMS saja,” terangnya.

Gatot menjelaskan, secara jarak, SDN Slawu 2 lebih dekat dari pada Bintoro 5 yang jauh di atas kaki gunung. “SDN Slawu 2 ini berada di cekungan. Jadi, sinyal susah untuk ditangkap,” tambahnya. SDN Bintoro 3 dan SDN Slawu 2, kata dia, untuk mengirim Dapodik memilih untuk pergi ke kantor kelurahan setempat. Gatot menjelaskan, dalam pengecekan sinyal telekomunikasi tersebut, berbagai operator dicoba. Selain itu, ada formulir isian apakah ada kabel internet ataupun fiber optic. “Form kekuatan sinyal, semisal hanya dua bar, ataupun jarak terdekat kabel internet dari sekolah nanti akan dilaporkan ke Dispendik,” jelasnya.

Pria yang sebelumnya menjabat sebagai Camat Kaliwates ini menyebutkan, ada sekolah yang secara sinyal bagus, tapi susah mengirim data ke Dapodik. Kecurigaan Gatot, bisa jadi karena perangkat laptop terlalu rendah atau aplikasi Dapodik terlalu berat. “Ada juga yang tidak ada operator dan memilih minta bantuan ke kantor kelurahan. Semua itu akan dilaporkan ke Dispendik,” paparnya.

Gatot menambahkan, ada juga sekolah yang lebih parah dari Kecamatan Patrang. Dia mencontohkan di Mayang, dari sembilan SD yang masuk data blank spot, hanya segelintir yang punya sinyal kuat. “SDN Seputih 1, 2, dan 3 ada sinyal, tapi satu sampai dua bar saja. Ada juga operator tertentu sinyalnya kuat, operator lainnya lemah. Termasuk di SDN Tegalwaru 4, kondisi hampir sama. Paling parah di Mayang itu SDN Sidomukti 1, tidak ada sinyal telekomunikasi sama sekali,” tambahnya.

Kecamatan yang juga parah, kata dia, adalah di Silo. “Silo itu hanya ada di satu desa, yaitu di Mulyorejo. SDN Mulyorejo mulai Mulyorejo 1 sampai 5 juga susah sinyal,” jelasnya. Sebanyak 148 SDN yang diindikasikan masuk blank spot itu berada di 15 Kecamatan. Di antaranya Ajung, Bangsalsari, Jelbuk, Kalisat, Ledokombo, Mayang, Panti, Patrang, Silo, Rambipuji, Sukorambi, Sukowono, Sumberbaru, Sumberjambe, Tanggul, dan Tempurejo.

“Paling banyak ini di Sumberbaru, total ada 20 lembaga SD. Tapi kami belum ke sana untuk mengecek kekuatan sinyal,” terangnya. Jika seluruh 148 lembaga SDN sudah dicek, maka pihaknya juga melaporkan ke pemerintah pusat. Hal itu dilakukan karena ada program dari pusat bernama satelit Palapa Ring, yang dikenal sebagai Tol Langit’ untuk menghubungkan seluruh Nusantara dan membuat Indonesia merdeka internet.

Sementara itu, melalui program Bupati Jember, kata Gatot, pada intinya layanan publik harus terkoneksi dengan internet. Terkait pemberantasan buta internet, Gatot memaparkan, pihaknya juga bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJI) yang berkomitmen membantu daerah blank spot.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih